ASAL MULA DESA TALAKBROTO
Pada suatu hari datanglah seorang wanita bernama
Mbok Nyai (yang menurut penuturan masyarakat memang namanya adalah Mbok Nyai didapat dari para
pengikutnya
jika memang gilnya
dan tidak ada yang tahu nama aslinya, sedangkan
asal usulnya masih keturunan bangsawan Surakarta)
bersama beberapa orang pengikutnya ke hutan yang bernama Lanji (sekarang Desa Talakbroto,
Kabupaten Boyolali), mereka membawa peralatan lengkap
termasuk peralatan perang.
Setelah Pakubuwono III mangkat, di Mataram
terjadi peperangan besar, perang saudara antara
Pakubuwono III
yang diangkat oleh Kompeni
Belanda dan Mangkubumi yang memberontak
dan mengangkat dirinya menjadi Sultan Hamengkubuwono
I di Yogyakarta. Setelah semua reda tiba-tiba
timbul lagi pemberontakan melawan Belanda oleh Raden Mas Sahid beserta pengikutnya, oleh karena gencarnya perlawanan Raden Mas Sahid maka Belanda menggunakan taktiknya yaitu memberikan sebidang
tanahdan dijadikan raja diwilayah itu dengan gelar MangkunegaraI.
Tipu daya tersebut dirasa berhasil oleh Belanda,
namun diberbagai wilayah masih terjadi pemberotakan
oleh kelompok-kelompok kecil yang membuat keresahan
bagi Belanda, Kerajaan Surakarta Hadiningrat, Kerajaan Yogyakarta, dan Mangkunegaran. Pada akhirnya
keempat pihak tersebut dapat menekan kelompok-kelompok
yang memberontak sehingga lari ke pelosok-pelosok dan
hutan-hutan.
Dua orang kakak beradik laki-laki dan perempuan
beserta pengikutnya terdesak dan melarikan diri sampai di pegunungan Kendeng Selatan (tepatnya sekarang di
Desa Talakbroto, Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali.
Kakak beradik tersebut bernama Kyai Pundung Kusuma dan
Mbok Nyai, mereka berdua dan pengikutnya walaupun
sudah terdesak namun kesemuanya bertekad baja untuk
selalu berjuang melawan Belanda beserta anteknya.
Mereka memperhitungkan dengan kekuatan mereka
saat itu masih belum cukup untuk melawan Belanda maka
mereka membuat dukuh tempat mereka diam guna menyusun kekuatan juga mengadakan latihan perang prajurit
dan berkuda (disebelah barat Desa Talakbroto yang saat
ini disebut Mukajaran). Sayang pada waktu itu Kyai
Pundung Kusuma diketemukan meninggal dengan posisi
terlentang pada saat mengadakan latihan perang (tempat
tersebut dinamakan Mbatangan dalam istilah Jawa artinya tempat bangkai), kemudian Mbok Nyai dan pengikutnya memakamkan jasad Kyai Pundung Kusuma diatas bukit
dan orang menamakan tempat tersebut Makam Santono
(terletak di sebelah utara Dukuh Pengkol Desa
Talakbroto dan sampai saat ini orang masih mengeramatkan
makam tersebut).
Atas meninggalnya Kyai Pundung Kusuma, niat Mbok
Nyai beserta para pengikutnya untuk melawan Belanda
menjadi kendor namun niat untuk menyebarkan ajaran Agama
Islam, melawan kebodohan dan kemiskinan tidak ikut
terkubur bersama jasad Kyai Pundung Kusuma namun tertanam
di benak mereka. Mbok Nyai ingin agar anak cucu
penerus generasi bangsa kelak memiliki budi pekerti yang
luhur (hal ini dijalani dengan talakbroto) suka menolong dan
bergotong-royong dan dapat hidup tenteram. Sambil
bertapa Mbok Nyai beserta pengikutnya membuka hutan untuk dijadikan tempat berdiam bagi masyarakat dan
lahan untuk
bercocok tanam dan membuat
kolam untuk memelihara
ikan. Untuk
tanda/tetenger
Mbok Nyai kemudian menanam pohon kelapa pada suatu tempat, seiring dengan berjalannya waktu pohon kepala tersebut tumbuh
dengan subur namun terjadi sebuah keajaiban, tidak ada seseorangpun yang berani memanjat pohon kelapa
tersebut dan lebih aneh lagi tidak ada satupun pelepah
kering yang
jatuh dibawah pohon kelapa
tersebut. Lama kelamaan
disekitar pohon kelapa itu
tumbuh, dibangun rumah-rumah penduduk,
dan oleh Mbok Nyai tempat tersebut dinamakan Dukuh Krambilsawit (diambil dari kata Bahasa Jawa
krambil sa uwit dalam Bahasa Indonesdia artinya satu pohon
kelapa-terletak sebelah timur laut Desa
Talakbroto), Alkisah
pohon kelapa tersebut akhirnya
mati karena termakan usia dan
daerah sekitarnya telah ditanami pohon-pohon kelapa
oleh penduduk sebagai wujud melestarikan apa yang
telah dimulai oleh Mbok Nyai.
Konon Mbok Nyai memiliki pusaka ampuh untuk
perlindungan yang berwujud sapu tangan, menurut
cerita sapu tangan tersebut tidak pernah dikeluarkan dan
jika dikeluarkan hanya bila menghadapi musuh. Kegunaan
dari sapu tangan tersebut bila dikeluarkan dan
direntangkan
didepan musuh, maka musuh
tidak dapat melihat Mbok Nyai beserta
dengan pengikutnya.
Pada sebuah malam bulan
purnama Mbok Nyai beserta para
pengikutnya berkumpul (seperti malam-malam sebelumnya-digunakan sebagai ajang santai,
berkelakar dan
memberikan petuah kepada pengikutnya), Mbok Nyai memberikan petuah agar para pengikutnya memahami situasi yang dihadapi saat ini dan janganlah ada
yang mengeluh tentang segala kekurangan dan
permasalahan
yang dihadapi untuk dapat
diselesaikan bersama-sama, menurut
nenek Mbok Nyai dukuh yang memiliki puncak yang tinggi adalah dukuh yang baik, penduduk yang
tinggal disekitarnya akan makmur dan tenteram dan
memiliki kebahagdiaan akherat sebagai lambang puncak
tinggi
tersebut apalagi diapit oleh dua buah sungai dan
Mbok Nyai
betutur pula bahwa dia akan menghabiskan sisa
hidupnya
ditempat tersebut.
Tahun demi tahun berganti dan kesehatan Mbok Nyai
semakin menurun termakan usdia yang sudah lanjut
dan tak
lama kemudian tutup usia akibat penyakit yang
disandangnya, beliau dimakamkan diatas bukit
sesuai
dengan permintaannya bahwa bukit tersebut jangan
digunakan sebagai tempat tinggal melainkan
digunakan
sebagai tempat untuk memakamkan jasadnya dan para
pengikutnya. Sandal kayu (dalam Bahasa Jawa
disebut
gamparan) yang bdiasa Dia pakai diletakkan diatas
makamnya. para pengikutnya merasa sedih dan
mereka
lupa akan petuah Mbok Nyai agar mereka
melestarikan apa
yang sudah Mbok Nyai mulai, mereka pergi begitu
saja
meninggalkan apa yang telah mereka perjuangkan
selama
ini.
Beberapa saat setelah meninggalnya Mbok Nyai
datanglah
seorang pengembara bernama Kyai Sakip (berasal
dari
Desa Rambat, Kelurahan Ngembat, Kecamatan
Gemolong,
Kabupaten Sragen), Kyai Sakip dikenal orang
sebagai
seorang yang taat menjalankan ibadah dan sakti
mandraguna dibuktikan apabila Kyai Sakip datang
atau
pulang pasti terdengar suara kuda meringkik
sebelumnya.
Kesaktian Kyai Sakip juga dibuktikan dengan
peninggalannya yang berupa kentongan kayu
(sekarang
berada di Masjid Ngaliyan, Desa Pelem, Kecamatan
Simo kentongan
tersebut selalu dibawa oleh Kyai Sakip saat
mengembara) saat bala tentara Belanda sampai di
Simo
untuk berpatroli mereka sampailah di Masjid
Ngaliyan, entah
mengapa kepala pasukan masuk ke Masjid kemudian
buang
air di kentongan tersebut, seketika itu pula
bengkaklah
kemaluan si kepala pasukan dan ia dilarikan oleh
bala
tentaranya menuju markas.
Maksud dan tujuan Kyai Sakip sebenarnya adalah
untuk
mencari keberadaan peninggalan Mbok Nyai beserta
pengikutnya. Setelah mengetahui bahwa dalam
membuat
dukuh-dukuh peninggalan Mbok Nyai tersebut dengan
menggunakan tarak broto maka Kyai Sakip menamakan
daerah tersebut Dukuh Tarak-Broto yang lama
kelamaan
berubah sebutannya menjadi Talakbroto. Kemuadian
Kayai
Sakip juga membawa kedua anaknya Ki Tiyah
(tinggal di
Dukuh Talakbroto) dan Ki Secowijaya (tinggal di
Dukuh
Pulung Kalurahan Gunung Kecamatan Simo) untuk
tinggal
di Dukuh Talakbroto, kedua anaknya tersebut
dibimbing
agar selalu menjadi orang yang soleh, diajari
cara bertani
dan beternak ikan yang baik.
Kyai Sakip juga membuat bendungan di Dusun
Pancingan
Kalurahan Walen (dinamakan Dusun Pancingan karena
di
tempat tersebut banyak tumbuh pohon pancing dan
bendungan tersebut dinamakan Kedung Canggal),
dengan
kesaktiannya pula saluran air juga dibuat dengan
tongkat
keramatnya, mengalir melalui tepi Dukuh Pulung
sebelah
selatan Dukuh Talakbroto yang berakibat suburnya
wilayah
tersebut.
Kyai Sakip dimakamkan di Makam Karang Duren
Kalurahan
Gunung dan dikeramatkan oleh penduduk setempat,
dan
tongkat keramatnya ditancapkan diatas pusaranya
untuk
menjadi pertanda.
ASAL MULA NAMA GUNUNG TUGEL
Kyai Singoprono putera dari Kyai Ageng
Wongsaprana II,
yang berdiam di Desa Manglen (sekarang Desa
Manglen Kl.
Walen, Kecamatan Simo. Beliau adalah keturunan
Raja
Majapahit (Brawijaya V) setelah wafat dimakamkan
di
sebelah barat Desa Manglen. Kyai Singoprono
adalah anak
tunggal, dan setelah berumah tangga tetap
bertempat
tinggal disana.
Kyai Singoprono adalah sosok yang berbudi pekerti
luhur,
suka menolong sesama dalam bentuk apapun dan
sakti
mandraguna.
Pekerjaannya adalah bercocok tanam, berjualan
nasi dan
dawet di pinggir di pinggir jalan ± 4 km dari
rumahnya. Sifat
baik hatinya terlihat apabila orang membutuhkan
pertolongan walaupun tidak diminta sekalipun
pasti akan
memberikan bantuan.
Makanan yang dijualnyapun tidak sekedar dijualnya
namun
juga diberikan kepada orang yang membutuhkan dan
hal
tersebut tidak membuatnya menjadi gulung tikar
namun
terus bertambah dan bertambah keuntungan yang
didapat.
Begitu pula dengan hasil sawah ladangnya yang
setiap kali
panen pasti mendapatkan hasil yang berlimpah ruah
sehingga banyak orang yang datang untuk meminta,
Kyai
Singopronopun memberi dengan tanpa mengharapkan
kembali.
Demikianlah kebaikan Kyai Singoprono tersebar
keseluruh
daerah disekitarnya.
Tetapi tindakan yang terpuji tersebut tidaklah
disukai oleh
seorang Kyai yang bernama Raga Runting.
Kyai Rogo Runting merasa iri dengan keberhasilan
dan
kebaikan Kyai Singoprono yang selalu
disebut-sebut dan
dipuji banyak orang.Sebenarnya Kyai Rogo Runting
dan
Kyai Singoprono adalah berteman baik.
Pada suatu ketika Kyai Rogo Runting ingin
menunjukkan
kesaktiannya pada Kyai Singoprono dengan
mengaitkan
benang dari pegunungan Rogo Runting ke Selatan,
yakni
sekarang Kl. Nglembu, Kecamatan Sambi.
Diatas benang tersebut diletakkan sebutir telur
dan
kemudian digulirkan dan ajaib, telur tesebut
menggelinding
diatas benang dan tidak jatuh dan terus
menggelinding dan
akhirnya membentur Gunung sebelah selatan dengan
mengeluarkan suara keras menggelegar dan
mengakibatkan gunung tesebut tugel putus
puncaknya, dan
hingga sekarang nama gunung tersebut disebut
Gunung
Tugel.
Secara langsung Kyai Singoprono tahu bahwa
kejadian
tersebut adalah sebagai alat untuk menunjukkan
kesaktian
Kyai Rogo Runting namun Kyai Singoprono tidak
tergerak
hatinya untuk membalas. Namun setelah di diamkan
sementara waktu Kyai Rogo Runting semakin
menjadi-jadi
dan kemudian secara halus diiyakan oleh Kyai
Singoprono,
hal tersebut ditanggapi oleh Kyai Raga Runting
sebagai
balasan.
Oleh karena naik pitam oleh tindakan Kyai Raga
Runtng
yang meresahkan akhirnya Kyai Singoprono juga
mengaitkan benang dari pegunungan Tugel ke utara,
Diatas
benang tersebut juga diletakkan sebutir telur dan
kemudian
digulirkan dan keajaiban terjadi juga, telur
tesebut
menggelinding diatas benang dan tidak jatuh dan
terus
menggelinding dan akhirnya membentur Pegunungan
Rogo
Runting mengeluarkan suara keras menggelegar dan
mengakibatkan gunung tesebut.
Tidak nampak kerusakan namun tubuh Kyai Rogo
Runting
(rontang ranting/ cerai berai).
Setelah itu Jasad Kyai Rogo Runting dimakamkan di
perbatasan Kecamatan Klego dan Kecamatan Simo,
sedangkan Kyai Singoprono dimakamkan di Gunung
Tugel.
ASAL MULA NAMA SIMO
Sawah
dan ladang milik Kyai Singoprono subur dengan hasil
melimpah
ruah, namun kesemuanya itu merupakan hasil
kerja
keras dan doa yang senantiasa menghiasinya.
Suatu
malam yang cerah, bulan dan bintang bersinar terang,
dengan
membawa tombak saktinya, Kyai Singoprono pergi
ke
sawah untuk melihat-lihat apakah tanamannya aman dari
gangguan
hama dan binatang.
Dengan
berhati-hati dan waspada Kyai Singoprono
mengelilingi
sawahnya, dan Kyai Singoprono merasa
tentram,
sebab tanamannya tak satupun yang rusak.
Namun
hatinya gundah tak menentu tapi tidak mengetahui
sebabnya,
sebentar-sebentar dilihatnya sawah didepannya
walaupun
tidak terlihat sesuatu apapun kemudian duduk
kembali
untuk waspada terhadap suara-suara yang
mencurigakan
tetapi tak ada sesuatu peristiwa yang
menjawab
kegundahan itu.
Setelah
sementara waktu dari kejauhan sayup terdengar
suara
gemuruh datang mendekat dan terus mendekat ke
arah
Kyai Singoprono duduk, dan semakin lama terdengar
jelas
banyak kaki-kaki binatang besar berlari mendekat.
Berdegup
kencang jantung Kyai Singoprono mendengarnya.
Waspada
dengan tombak sakti ditangan dan terjawab
kegundahan
hatinya, dari arah depan datang segerombolan
babi
rusa menghampiri sawahnya dan mereka berpesta
pora,
makan dan merusak tanamannya. Kyai Singoprono
berfikir
sejenak akan ditangkapnya babi rusa itu namun
karena
banyak akhirnya diurungkan niat dan diteguhkan
hatinya
untuk menyerang kawanan itu..
Kyai
Singoprono mengendap-endap mendekati kawanan
babi
rusa itu dan setelah mantap hatinya maka dibidikkanlah
tombak
pusaka ditangan dan dilempar dan mengenai salah
satu
babi rusa itu namun aneh bukannya roboh dan mati
tetapi
terus berlari seperti tak terkena senjata tombak itu.
Oleh
karena serangan yang tiba-tiba, kawanan babi rusa itu
terkejut
dan tunggang langgang lari masuk kembali menuju
hutan.
Oleh
karena tombak saktinya tertancap pada salah satu babi
rusa
tersebut Kyai Singoprono terus mengejar berharap babi
rusa
yang terkena tombaknya akan mati kehabisan tenaga.
Terus
mengejar seakan ada kekuatan gaib merasuki diri
Kyai
Singoprono sehingga mendapat kekuatan untuk berlari.
Setelah
lama dikejar sampailah Kyai Singoprono ditengah
hutan
dan sekoyong-koyong keadaan sekitar Kyai
Singoprono
berubah menjadi alun-alun keraton dan
didepannya
tampaklah istana keraton nan megah. Kyai
Singoprono
merasa bahwa dirinya bermimpi dan dicubitnya
lengannya
namun masih merasa sakit, Kyai Singoprono
berjalan
mendekati istana tersebut lalu tampaklah prajurit
yang
menjaga istana datang menghampirinya dengan
tergesa-gesa
dan kemudian bertanya kepada prajurit
penjaga.
Penjaga
tersebut bercerita bahwa puteri raja sedang sakit
keras
dan telah diupayakan melalui berbagai cara dan
berbagai
pengobatan namun tak kunjung sembuh dan Raja
telah
membuat sayembara yang bunyinya barang siapa
yang
bisa mengobati sakit sang puteri, bila laki-laki akan
dijadikan
menantu dan apabila wanita akan dijadikan
saudara
bagi puterinya. Mendengar cerita itu Kyai
Singoprono
ingin mencoba mengobati penyakit sang puteri
raja.
Setelah mendapatkan ijin Kyai Singoprono diantar
berjalan
menuju ruang peristirahatan sang puteri, dan
setibanya
disana terlihat keluarga raja sedang berduka dan
tak
kuasa menahan tangis.
Dipersilahkan
Kyai Singoprono mengobati sang puteri.
Setelah
diraba dengan dibubuhi mantra Kyai Singoprono
menemukan
pada pangkal paha sang puteri tertancap
tombak
saktinya. Betapa terkejutnya Kyai Singoprono akan
hal
itu namun disembunyikan perasaannya dan ia yakin
bahwa
tombak saktinyalah yang menyebabkan sang puteri
sakit.
Benar
adanya setelah tombak sakti tersebut dicabut dan
dimasukkan
ke dalam kantong baju Kyai Singoprono secara
ajaib
sebuhlah sang puteri dari sakitnya.
Sesuai
dengan janji sang raja maka Kyai Singoprono
dijadikan
menantu sang raja dan diadakan pesta yang
meriah
dan entah kekuatan apa yang merasuki Kyai
Singoprono
sehingga tidak ingat akan dirinya yang telah
memiliki
isteri.
Hari
demi hari berlalu dan mereka hidup rukun saling
mencintai
dan tiba-tiba teringatlah Kyai Singoprono kepada
isterinya
dan ingin pulang untuk menemui isteri yang telah
lama
ia tinggalkan.
Maka
Kyai Singoprono pamit untuk pergi mengembara untuk
waktu
yang agak lama.
Setelah
diijinkan berangkatlah Kyai Singoprono menuju ke
kampung
halamannya, namun betapa terkejutnya setelah ia
bertemu
orang-orang yang berteriak babi rusa dan
mengejarnya,
begitulah seterusnya berulang kali sampai
suatu
saat merasa lelah dan pulang kembali menuju
kerajaan
sang puteri.
Kyai
Singoprono berfikir sejenak dan memohon kepada
Tuhan
agar diberikan petunjuk mengenai apa yang terjadi
pada
dirinya.
Dan
teringat pulalah pada pakaian yang ia kenakan pada
waktu
mengejar babi rusa dan segera seperti mendapatkan
petunjuk
saat itu juga dilepaskan pakaian barunya dan
dikenakannya
kembali pakaian usangnya dan setelah itu ia
minta
ijin lagi kepada isteri barunya untuk kembali pergi
meneruskan
perjalanan, anehnya dalam perjalanannya Kyai
Singoprono
tidak dikejar-kejar orang lagi dan tidak ada yang
meneraki
babi rusa lagi.
Setelah
berjalan seharian menjelang maghrib sampailah
Kyai
Singoprono di tepi kampung halamannya dan beberapa
saat
kemudian sampai di depan rumahnya namun terkejut
bukan
kepalang karena sayup-sayup terdengar suara doa
yang
dipanjatkan seperti bila ada orang yang mempunyai
hajat
kenduri. Dengan perasaan yang kurang enak Kyai
Singoprono
terus berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Begitu
melihat Kyai Singoprono orang-orang yang tadinya
berdoa
di dalam rumahnya berhamburan keluar dengan
wajah
pucat pasi tak ada yang berani menatap Kyai
Singoprono
dan perempuan-perempuan yang ada di dapur
tak
ada yang bisa berlari karena kaki mereka seperti dipaku
ke
tanah akibat melihat Kyai Singoprono. Segera Kyai
Singoprono
menghampiri isterinya dan lama sekali mereka
berpandangan
melepas rindu dan tanda tanya yang selama
ini
menyelimuti kepergian Kyai Singoprono. Orang-orang
yang
tadinya lari tunggang langgang pun memberanikan diri
kembali
masuk ke dalam rumah dan ingin tahu kejadian apa
sebenarnya
yang telah dialami oleh Kyai Singoprono. Ya,
kepergian
Kyai Singoprono telah 3 tahun (1000 hari)
lamanya
meninggalkan isterinya.
Semenjak
saat itu menjadi tradisi bagi masyarakat sekitar
Simo
dan Walen bahwa bila ada sanak keluarga yang hilang
setelah
3 tahun tidak pulang maka keluarga itu tidak
mengharapkan
kembali atau dengan anggapan bahwa telah
meninggal
dunia tetapi apabila kurang dari 3 tahun maka
keluarganya
masih tetap mencari dan mengharapkan
kedatangan
sanak keluarga yang hilang tersebut.
Kembali
kepada Kyai Singoprono yang telah kembali kepada
kehidupan
kesehariannya yang setelah mengalami kejadian
tersebut
menjadi lebih tekun beribadah dan bertambah
taqwa
kepada Yang Maha Kuasa. Cerita tentang Kyai
Singoprono
yang telah menghilang selama 3 tahun tersebut
menjadi
buah bibir tersebar sampai ke seluruh pelosok
negeri
sampai ke Kerajaan Demak dan sang Sultan Demak
ingin
bertemu dengan Kyai Singoprono dan ingin
mengetahui
kesaktiannya apalagi saat itu Sultan memiliki
rencana
untuk menaklukkan Raja Pengging. Akhirnya Sultan
Demak
berangkat sendiri menyamar menjadi rakyat jelata
yang
miskin dan dikawal pasukannya menuju kediaman Kyai
Singoprono
di Desa Walen hal tersebut dilakukan agar Kyai
Singoprono
tidak mengenal sang Sultan dengan pakaian
kebesarannya
sebagai seorang raja. Setelah berjalan
berhari-hari
sampailah Sultan Demak di sebuah desa yang
disitu
tumbuh sebatang pohon duwet putih yang rindang dan
Sultan
Demak ingin beristirahat barang sejenak dan
diperintahkannya
beberapa prajuritnya untuk mencari
keterangan
dimanakah rumah Kyai Singoprono, setelah
mendapatkan
keterangan dari penduduk desa kembalilah
prajurit
menemui sang Sultan dan meneruskan perjalanan
kembali
menuju kediaman Kyai Singoprono. Sesampainya di
rumah
Kyai Singoprono sang Sultan duduk di depan pintu
rumah
sambil meminta sedekah. Saat itu Kyai Singoprono
sedang
makan siang dan segera ditinggalkannya makanan
yang
sedang disantapnya kemudian datang menghampiri
pengemis
itu dan dipersilakan untuk masuk dan makan
bersamanya.
Namun pengemis itu bertanya kepada Kyai
Singoprono
mengapa seorang pengemis yang hina papa di
persilakan
dan diperlakukan demikian? Jawab Kyai
Singoprono
bahwa hal tersebut adalah tindakan yang biasa
dan
harus dilakukan kepada siapapun juga tidak boleh
pandang
bulu apalagi saya tahu bahwa anda bukan
pengemis
dan anda adalah Sultan Demak yang sedang
menyamar
menjadi seorang pengemis dan perlu
diperlakukan
dengan hormat. Takjublah sang Sultan
mendengar
hal tersebut dan mengambil kesimpulan bahwa
memang
berita yang sang Sultan dengar selama ini
bukanlah
isapan jempol semata, melainkan sebuah
kenyataan
bahwa Kyai Singoprono adalah seorang yang arif
bijaksana
baik dalam perkataan dan perbuatannya juga sakti
mandraguna,
sampai-sampai sang Sultan terduduk di depan
Kyai
Singoprono namun Kyai Singoprono menempatkan diri
sebagai
rakyat biasa yang menghadap rajanya.
Kyai
Singoprono dan sang Sultan terlibat dalam
pembicaraan
yang panjang lebar dan disampaikan pula oleh
sang
Sultan keinginannya untuk menaklukkan Kerajaan
Pengging
dan telah disiapkan pasukan menuju ke Kerajaan
Pengging
dan sekarang tengah beristirahat di sekitar pohon
duwet
putih menunggu perintah sang Sultan, namun apa
yang
menjadi keinginan sang Sultan tidak dikabulkan oleh
Kyai
Singoprono dan apabila sang Sultan berperang akan
menemui
kegagalan namun sang Sultan tetap pada
pendiriannya
sehingga terus terjadi perdebatan diantara
mereka
berdua. Setelah lama berdebat sang Sultan tetap
pada
pendiriannya mengajukan syarat apabila Bende
pusaka
Kyai Bercak yang tergantung dipohon duwet putih
tempat
pasukan Kerajaan Demak dipukul dan mengeluarkan
bunyi
keras maka Kyai Singoprono akan setuju tetapi
kebalikannya
apabila bende pusaka yang tergantung
dipohon
duwet putih tempat pasukan Kerajaan Demak
dipukul
dan mengeluarkan bunyi tidak keras maka dia tidak
setuju
dengan apa kehendak sang Sultan dan memohon
sang
Sultan untuk kembali ke Kerajaan Demak beserta
pasukannya.
Menanggapi perkataan Kyai Singoprono sang
Sultan
pergi meninggalkan Kyai Singoprono menuju pohon
duwet
putih (sekarang masih hidup dan terletak di sebelah
barat
Kantor Kecamatan Simo, Boyolali) kemudian
memerintahkan
kepada salah seorang prajuritnya untuk
memukul Bende Pusaka Kyai Bercak dan
ternyata setelah
dipukul
mengeluarkan bunyi hanya seperti harimau yang
mengaum.
Suara itu terdengar sampai jauh dan
mengundang
perhatian banyak orang karena memang di
daerah
tersebut sering terdapat gangguan harimau.
Orang-orang
di daerah itu lalu menuju arah dimana
datangnya
suara tadi untuk mengejar harimau tersebut dan
sampailah
orang banyak tersebut di tempat dimana pasukan
sang
Sultan berhenti tepatnya dipohon duwet putih tempat
Bende
pusaka Kyai Bercak dikaitkan diatasnya.
Berkatalah
orang banyak tersebut tentang suara yang
mereka
dengar datang dari arah tersebut lalu sang Sultan
sendiri
datang menghampiri mereka dan berkata bahwa
suara
tersebut bukan berasal dari harimau sesungguhnya
melainkan
dari Bende Pusaka Kyai Bercak yang dipukul dan
mengeluarkan
bunyi seperti auman seekor harimau dan
menyatakan
kepada orang banyak tersebut bahwa besok
jika
tempat menjadi sebuah desa maka dinamakan Desa
Simo,
dan setelah berkata demikian orang banyak itu lalu
pulang
ke rumah masing-masing dan setelah peristiwa itu
masyarakat
menamakan daerah itu Desa Simo.
Head Titanium Tennis racket - Titanium-arts.com
BalasHapusThe head is one of the most expensive pieces titanium gr 2 of hardware for the fallout 76 black titanium market. It will not give you the best possible winnerwell titanium stove chance of making a good blue titanium cerakote racket. ford ecosport titanium