Langsung ke konten utama

Cerpen

Membaca Cerita pendek ( Cerpen )
         Cerita pendek merupakan salah satu bentuk karya sastra yang banyak digemari di kalangan remaja. Ditinjau dari segi bentuknya, cerpen merupakan karangan yang berbentuk cerita fiksi karena kejadian dan tokoh-tokoh yang terdapat di dalamnya bukanlah tokoh dan kejadian yang benar-benar ada dan terjadi. Namun tokoh itu seolah-olah ada dan seolah-olah kejadian itu benar-benar terjadi. Mengapa rangkaian cerita di dalam cerpen di hadapan pembaca hadir sebagai peristiwa yang seolah-olah benar-benar terjadi ? Karena rangkaian peristiwa yang disuguhkan masuk akal. Suatu peristiwa dalam cerpen terjadi didukung oleh sebab-sebab yang logis, demikian juga suatu peristiwa yang menjadi sebab akan menimbulkan peristiwa tertentu yang menjadi akibatnya. Rangkaian yang dibangun berdasarkan hukum sebab akibat yang logis disebut alur cerita atau plot atau trap.
Membaca cerpen, novel, roman ( karya sastra fiksi) ialah usaha untuk memahami dan mengungkapkan isi karya sastra yang berarti menunjukkan apresiasi terhadap nilai-nilai sastra. Menyadari dan menghargai nilai-nilai sastra Indonesia berarti menunjukkan rasa cinta terhadap karya sastra dan kebudayaan bangsa. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain :
  1. Cerpen, novel, roman yang dibaca harus asli bukan ringkasan/sinopsis pembacaan orang lain.
  2. Pembacaan harus dilakukan secara cermat dan penuh dengan perasaan. Tujuannya pembaca dapat memahami pikiran dan perasaan yang dilukiskannya.
  3. Sesudah selesai, pembaca berusaha merenungkan keseluruhan isi karya sastra yang telah dibacanya dan membuat catatan-catatan yang diperlukan
   Dalam membaca cerpen, novel, roman pembaca harus berusaha mengungkapkan kembali beberapa unsur instrinsik dan eksintrik yang penting, unsur instrinsik antara lain : tema, amanat, alur, setting, gaya bahasa, sudut pandang, penokohan/karateristik sedangkan unsur ekstrinsik antara lain ; pendidikan pengarang, latar belakang sosial, budaya, ideologi, dan agama pengarang

 a.   Mengungkapkan sudut pandang ( point of view)
Sudut pandang adalah kedudukan pengarang dalam menyajikan cerita. Dalam hal ini biasanya penulis memilih salah satu diantara dua cara seperti di bawah ini :
  1. Sudut pandang orang pertama.
Dalam karangan itu penulis menjadi peserta/pelaku dalam cerita itu dengan menggunakan kata AKU atau SAYA.
  1. Sudut pandang orang ketiga
Pengarang seolah-olah berdiri di luar cerita dan hanya menceritakan apa yang terjadi diantara tokoh-tokoh dalam ceritanya. Dalam hal ini pengarang menggunakan kata : IA, DIA atau NAMA ORANG.

b.      Mengungkapkan latar belakang / setting ( waktu dan tempat )
       Setting / latar
1)      aspek ruang
2)      aspek waktu
Latar (setting) ialah waktu dan tempat terjadinya cerita itu. Sebenarnya latar (setting) bukan hanya mengungkapkan tentang dimana tempat terjadinya peristiwa itu diceritakan dan kapan peristiwa itu terjadi  tetapi juga merupakan tempat pengambilan nilai-nilai yang diungkapkan dalam cerita itu.
Cara pengarang menyampaikan nilai-nilai ada dua cara :
a)      Secara tersurat yaitu secara langsung dan jelas.
b)      Secara tersirat yaitu secara samar-samar.

c)      Mengungkapkan tema
         Tema ialah pokok pikiran yang menjadi dasar cereita. Dengan demikian tema merupakan pikiran,  gagasan/ ide yang menjiwai sebuah karangan/ cerita. Jika tema dalam cerpen merupakan ide sentral yang menjadi pokok permasalahan, maka amanat merupakan pemecahannya. Jika tema sebuah cerpen merupakan pertanyaan, maka amanat yang terkandung di dalamnya merupakan jawabannya. Biasanya tema tidak tertulis dalam cerita tetapi pembaca diharapkan dapat menyimpulkan sendiri.

1)   Ada dua cara pengarang dalam mengembangkan tema menjadi karangan yaitu :
a)      Tema langsung ( cara tersurat ) diantara sebagai berikut :
·         Secara langsung melalui mulut pengarang. Hal itu tampak jelas pada kalimat-kalimatnya.
·         Dengan teknik renungan, yaitu dengan cara pelaku cerita seolah-olah berbicara dengan dirinya sendiri.
·         Dengan teknik dialog ( percakapan) dari para pelaku cerita.
b)      Tidak langsung ( tersirat ) yaitu dengan cara menggambarkan perikehidupan pelakunya saja. Dalam hal ini pembaca harus mengambil kesimpulan sendiri

2)          Cara menentukan tema cerita :
a)      Kata-kata dan kalimat-kalimat dalam cerita harus kita pahami benar.
b)      Setiap paragraf cerita itu kita ambil intinya.
c)      Hubungan sebab dan akibat antara inti paragraf yang satu dengan yang lain kita kaji, sehingga kita dapat mengambil kesimpulan yang menjadi pokok permasalahan ( tema)

d)     Mengungkapkan watak pelaku / tokoh :
Penokohan ( karakterisasi, perwatakan )
Penokohan adalah proses penampilan tokoh sebagai pembawa peran watak tokoh dalam suatu cerita. Penokohan harus mampu menciptakan citra tokoh, maka tokoh harus dihidupkan.
 Watak tokoh pelaku dapat terungkap lewat pelukisan pengarang mengenai pelaku itu antara lain :
1.      tindakan / perilaku ( melukiskan bagaimana reaksi pelaku terhadap suatu peristiwa )
2.      percakapan pelaku ( melukiskan pelaku dengan cara percakapannya )
3.      pikiran / perasaan / kehendak ( melukiskan jalan pikiran pelaku )
4.      penampilan fisiknya ( melukiskan bentuk lahir pelaku, cara berpakaian, lingkungan hidup tokoh )
5.      apa yang dipikirkan, dirasakan / dikehendaki tentang dirinya / tentang diri orang lain ( melukiskan bagaimana reaksi / pendapat pelaku yang lain terhadap pelaku utama / tertentu )
Ada empat jenis tokoh peran watak yang merupakan anasir kejiwaan.
1)      Tokoh protagonis ialah peran utama yang merupakan tokoh sentral cerita
2)      Tokoh antagonis ialah peran lawan, ia suka menjadi musuh / penghalang tokoh protagonis yang menyebabkan timbulnya konflik.
3)      Tokoh tritagonis ialah peran penengah, bertugas menjadi polerasi, pendamai/ pengantar protagonis dan antagonis.
4)      Tokoh peran pembantu ialah peran yang secara tidak langsung terlibat dalam konflik yang terjadi, tetapi ia diperlukan untuk membantu menyelesaikan cerita.
Penokohan dalam cerpen bermakna cara pengarang menciptakan citra tokoh di dalamnya. Ada model penokohan yang digambarkan pengarang secara hitam dan putih. Artinya tokoh-tokoh dalam cerita terbagi menjadi dua kubu yaitu tokoh baik dan tokoh jahat. Tokoh baik digambarkan dari awal memiliki watak baik, perilaku baik, wajah baik tetapi sebaliknya tokoh jahat tidak memiliki kebaikan. Hal ini disebut penokohan pipih. Penokohan seperti ini sekarang mulai ditinggalkan hanya ada dalam cerita karya sastra lama. Penokohan tokoh cerita sekarang cenderung merujuk watak tokoh seperti manusia-manusia dalam realitas keseharian yaitu seseorang yang mempunyai kebaikan dan kekurangan / kelemahan, setiap manusia baik dapat melakukan kesalahan, hal ini sangat manusiawi. Penokohan seperti ini disebut penokohan utuh atau bulat. Berkaitan dengan konflik bahwa inti cerita adalah adanya konflik. Konflik cerita sering mewakili cerpen/novel sehingga dapat dianggap baik atau kurang baik konflik cerita inilah yang mengalirkan atau mengombang-ambingkan perasaan pembaca menjadi senang, haru, sedih, benci, dan lain-lain. Konflik baru dapat ditemukan setelah pembaca mengikuti jalan ceritanya.
e.       Mengungkapkan alur / plot
1)       pengertian plot / alur adalah jalinan macam-macam peristiwa yang disusun dengan hukum sebab-akibat sehingga merupakan kesatuan cerita. Artinya peristiwa pertama menyebabkan peristiwa kedua, peristiwa kedua menyebabkan peristiwa ketiga dan seterusnya sehingga cerita itu berakhir
2)       Bagian-bagian alur cerita. Secara garis besar diuraikan sebagai berikut :
(1)          Peristiwa awal ( pendahuluan, eksposisi ): menceritakan peristiwa-peristiwa persiapan yang menyebabkan munculnya peristiwa pokok. Bagian ini berfungsi memberi penjelasan segala hal yang diperlukan untuk dapat memahami peristiwa-peristiwa dalam cerita. Keterangan-keterangan itu dapat mengenai tokoh cerita, masalah yang timbul, tempat dan waktu cerita itu terjadi dan sebagainya.
(2)          Permasalahan (komplikasi): Komplikasi merupakan kelanjutan dari eksposisi dalam bagian ini mulai muncul permasalahan, biasanya salah satu tokoh cerita mulai beraksi atau mengalami permasalahan / peristiwa.
(3)          Klimaks ( puncak permasalahan ) pihak-pihak yang   bertikai saling bertemu, nasib tokoh cerita ditentukan.
(4)          Resolusi ( penyelesaian, anti klimaks ) semua masalah yang timbul dipecahkan. Pemecahan masalah  yang terjadi antar tokoh dapat dilakukan secara baik-baik dengan melibatkan tokoh lain (tritagonis). Akan tetapi dapat juga dengan perlawanan sebagai kelanjutan dari klimaks
(5)          Peristiwa akhir ( konklusi, kesimpulan ) : merupakan bagian penutup cerita. Dalam bagian akhir ini pengarang memberikan pemecahan mengenai peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya. Keadaan nasib tokoh-tokoh cerita diputuskan. Pembaca dapat mengetahui apa yang terjadi pada tiap-tiap tokoh.

Macam-macam alur
1.      Alur maju ialah urutan peristiwanya bergerak maju.
2.      Alur mundur ialah urutan peristiwanya bergerak mundur / ke belakang.
3.      Alur rapat ialah alur yang rangkaian peristiwanya saling berhubungan erat.
4.      Alur renggang ialah alur yang melukiskan adanya kerenggangan peristiwa.
5.      Alur kronologis ialah alur yang melukiskan peristiwa terjalin berdasarkan urutan waktunya.
6.      Alur gabung ialah alur penggabungan antara alur maju dan alur mundur.
7.      Alur klimaks / anti klimaks ialah alur yang mengalami suasana mencapai puncak / mengalami penurunan.
8.      Alur sorot balik ialah alur yang mengisahkan latar belakang.
f.       Amanat atau pesan
Pesan yang hendak disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Amanat kadang disampaikan secara implisit atau eksplisit.
g.      Gaya bahasa
Cara khas yang digunakan pengarang untuk menyampaikan ide atau gagasan atau pemikiran-pemikiran melalui karyanya. Misalnya :
a)      Suatu objek dideskripsikan dengan cara  detail atau tidak detail.
b)      Kalimat yang digunakan merupakan bahasa sehari-hari.
c)      Menggunakan majas atau ungkapan / idiom
d)     Banyak menggunakan dialog antar tokoh
e)      Menggunakan kalimat minor, walaupun bukan berupa dialog
f)       Kalimat bervariasi, kadang panjang, kadang pendek
g)      Banyak menggunakan istilah / kata daerah
h)      Dan sebagainya


Bacalah cuplikan cerpen di bawah ini !
ANAK KEBANGGAAN
( Dikutip dari buku kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A.Navis)
         Semua orang memanggilnya Ompi. Hatinya akan kecil jika dipanggil lain. Dan semua orang tak hendak mengecilkan hati orang tua itu. Di waktu muda Ompi menjadi klerek di kantor residen. Maka sempatlah ia mengumpulkan harta lumayan banyaknya. Semenjak istrinya meninggal dua belas tahun berselang, perhatiannya tertumpu pada anak tunggalnya, laki-laki. Indra Budiman. Dia yakin bahwa Indra Budiman akan mendapatkan sebuah nama tambahan dokter di depan namanya sekarang, atau salah satu titel mentereng lainnya. Ketika Ompi mengangan-angankan nama tambahan itu diambilnya kertas dan pensil. Ditulisnya nama anaknya, dr. Indra Budiman dan Ompi merasa bahagia sekali ia yakinkan kepada para tetangganya akan cita-citanya yang pasti tercapai itu.
”Ah aku lebih merasa berduka lagi karena belum sanggup menghilangkan kemalangan ini. Coba kalau anakku Indra Budiman sudah jadi dokter si mati ini pasti dapat tertolong ” katanya bila ada orang yang meninggal setelah lama menderita sakit. Dan kalau Ompi melihat orang membuat rumah, lalu ia berkata ” Ah sayang rumah-rumah orang  kita masih kuno arsitekturnya, coba kalau anakku Indra Budiman sudah menjadi insinyur, pastilah ia akan membantu mereka membuat rumah yang lebih indah”.
Semenjak Indra Budiman berangkat ke Jakarta, Ompi bertambah yakin bahwa setahun demi setahun segala cita-citanya tercapai pasti. Dan benarlah ternyata setiap semester Indra Budiman mengirim raport sekolahnya dengan angka-angka yang baik sekali. Dan setiap tahun ia naik kelas. Hanya dalam tempo dua tahun, Indra Budiman menamatkan pelajaran SMA seraya mengantongi ijazah yang berangka baik. Ketika Ompi membaca surat anaknya yang memberitakan kemajuannya itu air mata Ompi berlinang kegembiraan. ”Ah anakku,” katanya pada diri sendiri, aku bangga anakku, baik engkau jadi dokter. Karena orang lebih banyak memerlukanmu. Dengan begitu kau akan disegani orang. Ooo perkara uang? Mengapa tiga ribu ,lima ribu akan kukirimi. Belilah pakaian yang layak dipakai untuk seorang student dokter. Uang belanja tiga ratus lima puluh ribu sebulan itu tentu akan kukirim, anakku. Mengapa tidak ?
Dan semenjak itu Ompi kurang punya kesabaran oleh kelambatan jalan hari seperti calon pengantin yang sedang menunggu hari perkawinan. Tapi semua orang tahu, bahkan tidak menjadi rahasia lagi bahwa cita-cita Ompi hanyalah akan menjadi mimpi semata. Namun orang harus bagaimana mengatakannya kalau orang tua itu tak hendak percaya. Malah ia akan memaki dan menuduh semua manusia iri hati akan kemajuan yang dicapai anaknya. Dan ia segera mengirim uang lebih banyak, tanpa memikirkan segala akibatnya. Dan itu hanya semata untuk menentang omongan yang membusukkan nama baik anaknya.
”Sekarang kau diomongi orang-orang yang busuk mulut, anakku. Tapi ayah mengerti, kalau mereka memfitnahmu itu karena mereka iri pada hidupmu yang mentereng. Cepat-cepatlah kau jadi dokter biar kita sumpal mulut mereka yang jahat itu” tulisnya dalam sepucuk surat.
Dan akhirnya orang jadi kasihan pada Ompi. Tak seorangpun lagi yang membicarakan Indra Budiman padanya. Malahan sebaliknya kini, semua orang sepakat saja untuk memuji-muji.
”Ooo, anak Ompi itu. Bukan main dia. Kalau tidak ke sekolah tentu menghafal di rumah,” kata seorang yang baru pulang dari Jakarta menjawab pertanyaan Ompi.
” Ke sekolah? Kenapa ke sekolah dia ? Ompi merasa tersinggung.” Kalau student dokter tidak menghafal, tahu ? Tapi studi, tidak ke sekolah tapi kuliah.”
”O, ya-ya Ompi itulah yang kumaksud.”
” Aku sudah kira Indra Budiman anakku anak baik, ia pasti berhasil. Aku bangga sekali.  Ah, kau datanglah ke rumahku makan siang. Aku potong ayam.”
Dan oleh perantau puilang lainnya dikatakan kepada Ompi,” siapa yang tak kenal dia, Indra Budiman, Seluruh Jakarta kenal, seluruh gadis mengharap cintanya.”
Lalu Ompi geleng-geleng kepala dengan senyumnya,” Bukan main, bukan main, Indra Budiman anakku itu. Ia memang anak tampan. Perempuan mana yang tak tergila-gila kepadanya. Ha, ha, ha, Ah datanglah kau ke rumahku nanti. Ada oleh-oleh buatmu.”
Kemudian kalau Ompi ketemu gadis cantik yang dikenalnya, ditegurnya: ” Hai, kau kenal anakku, student dokter itu, bukan ? Nanti kalau ia pulang, aku perkenalkan padamu. Biar kau dipinangnya. Ha,ha, ha.
Si gadis tentu saja merah mukanya karena tersinggung, tapi menurut Ompi muka merah itu karena malu tersipu . Dan ia bertambah gembira.
Akan tetapi ketika Ompi tahu aku akan kawin, dia dapat ilham baru. Diapun merasa pula bahwa Indra Budiman sudah patut ditunangkan. Dan pada sangkanya tentu Indra Budiman-nya akan gembira dan bertambah rajin menuntut ilmu, sebagai imbalan budi baik ayahnya yang tak pernah melupakan segala kebutuhan anaknya. Dan diharapkannya pula kedatangan orang-orang meminang Indra Budiman-nya. Karena di kampung kami pihak perempuanlah yang datang meminang. Sudah tantu harapan Ompi tinggal harapan saja. Tapi Ompi tak mau mengerti. Sifat keangkuhannya mudah tersinggung. Dan bencinya bukan kepalang kepada orang-orang tua yang mempunyai anak gadis cantik. Bahkan bukan kepalang meradangnya Ompi jika ia tahu orang-orang mengawinkan anak gadisnya yang cantik tanpa mempedulikan Indra Budiman lebih dahulu. Tak masuk akal orang-orang tak menginginkan anaknya, si calon dokter itu. Lama-lama rasa dendamnya pada mereka bagai membara. ” Awaslah nanti kalau Indra Budimanku sudah jadi dokter, akan kuludahi mukamu semua. Sombong!”
Kepada Indra Budiman tak dikatakannya itu. Malahan sebaliknya dikatakannya banyak sudah orang yang punya gadis cantik datang meminang. Tapi semua ditolak. Karena menurut keyakinannya, Indra Budiman-nya lebih mementingkan studi dari pada perempuan. Apalagi seorang student dokter tentu takkan mau dengan gadis kampungan yang kolot lagi. ” Pilihlah siapa saja gadis di Jakarta, anakku. Gadis yang sederajat dengan titelmu kelak,” penutup suratnya.
Celakanya Indra Budiman yang selama ini  menyangka  tak mungkin ia dimaui oleh orang kampungnya lantas jadi membalik pikirannya, ia jadi sungguh percaya bahwa sudah banyak orang yang datang melamarnya. Tak teringat olehnya bahwa bohongnya kepada ayahnya selama ini sudah diketahui oleh orang kampungnya. Lupa bahwa mata semua orang kampungnya yang tinggal di Jakarta selalu saja mempercermin  hidupnya yang bejat. Sejak itu berubahlah letak panggung sandiwara. Jika dulu si anak yang berbohong, si ayah yang percaya, maka sekarang si ayah yang menipu, si anak yang percaya, lalu si anak mengharapkan kepada ayahnya supaya dikirimi foto-foto gadis yang dicalonkan. Untuk membuktikan kebenaran suratnya, Ompi mengirimkan foto gadis yang kebetulan ada padanya. Tidak peduli ia apa foto itu gasmbar gadis yang sudah bertunangan atau sudah kawin. Bahkan ia juga tidak peduli ia apa gadis itu sudah meninggal. Ia kirim terus dengan harapan semoga anaknya tidak berkenan. Dan alangkah gembiranya Ompi andaikata tidak sebuah pun dari foto-foto itu yang berkenan di hati anaknya. Disamping ia sadar pula bahwa kepalsuan sandiwaranya sudah tentu akan berakhir juga pada suatu masa. Anaknya pasti lama-lama tahu dan dengan begitu akan timbul kesulitan lain yang tak mudah.
Tapi rupanya Tuhan mengasihi ayah yang mengasihi anaknya. Persis di saat Ompi kehabisan foto para gadis itu tiba-tiba saja surat Indra Budiman tidak datang lagi. Antara rusuh dan lega, Ompi gelisah juga menanti surat dari anaknya. Layaknya macan lapar yang terkurung menunggu orang memberi daging segar. Pasal ia menunggu, dikirimi surat. Ditunggunya beberapa hari, tapi tak datang balasan, dikiriminya lagi ditunggunya. Selalu tak terbalas. Bulan datang bulan pergi Ompi tinggal menunggu terus.
Pada suatu hari yang tak baik, di kala Ompi mulai putus asa datanglah pak pos dengan di tangannya segenggam surat, Maka darah Ompi kencang berdebar. Gemetar ia karena gembira bahagia. Akan tetapi alangkah remuknya hati orang tua itu karena ternyata pengantar surat itu cuma mengantarkan semua surat-suratnya yang dikembalikan. Ia tak percaya kalau surat-suratnya kembali. Ia merasa bermimpi dan tubuhnya seringan kapas yang melayang  ditiup angin. Dibalik-baliknya surat itu atu berulang kali. Lau dibukanya dan dibacanya satu persatu. Dan tahulah ia bahwa semuanya memang surat untuk anaknya yang ia kirim dulu. Tapi ia tak meyakini dengan sungguh-sungguh malah ia coba meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia sedang bermimpi. Dan berdoalah ia kepada Tuhan agar apa yang terjadi itu hanyalah mimpi. Semenjak itu segalanya jadi tak baik. Ia jatuh sakit. Bahkan ia sampai mengigau. Dan oleh seleranya yang patah Ompi bertambah menderita jua. Lahir dan batin. Kini dalam hidupnya hanya satu hal yang dinantinya. Yaitu surat-surat dari anaknya, Indra Budiman. Seluruh hidupnya bagai jadi meredup seperti lampu kemersikan sumbu. Dan ia terlentang di ranjang, enggan bergerak tapi matanya selalu lebar terbuka memandang langit-langit kelambu. Mata itu kian hari semakin membesar nampaknya oleh badannya yang kian hari kian mengurus. Tapi mata yang lebar itu tiada cemerlang. Redup.
Akan tetapi setiap sore di antara jam empat dan jam lima Ompi kelihatan seperti orang yang sakit bakal sembuh dan ia sanggup berdiri dan melangkah ke pintu depan. Dan cahaya matanya kembali bersinar-sinar. Karena pada jam itu biasanya pak pos mengantarkan surat-surat ke alamatnya masing-masing. Tapi saat-saat seperti itu yang memberikan masa bahagia dan harapan, adalah juga masa yang menambah dalam luka hatinya hingga lebih meroyak sebab selamanya pak pos itu tak mampir lagi membawakan surat dari Indra Budiman  dan kalau pak pos itu telah lewat tanpa singgah reduplah lagi mata Ompi.
Namun kemalangan itu bertambah lagi yaitu ketika Ompi jatuh terduduk. Lama orang baru tahu dan memapahnya keranjang di kamar. Ompi jadi lumpuh dan habislah sejarah Ompi menanti di ambang pintu depan setiap sore . Iia kini menanti dengan terlentang di ranjangnya sebuah kaca disuruhnya supaya dipasang pada dinding yang dapat memberikan pantulan ke ambang pintu depan sehinga ia akan serta merta dapat melihat pak pos mengantarkan surat Indra Budiman. Dan semenjak itu setiap jam empat dan lima sore matanya akan menatap ke kaca itu Hanya di waktu itu saja. Sedangkan di waktu lain Ompi seolah-olah tak peduli pada segalanya.
Kami tak pernah lagi memanggil dokter setelah tiga kali ia datang. Karena kedatangan dokter hanya akan memperdalam luka hatinya saja. Kehadiran dokter itu menimbulkan risau hatinya karena ingat Indra Budiman yang akan menjadi dokter tapi tak pernah lagi mengiriminya surat. Kedatangan seorang dokter dipandangnya sebagai sindiran bahwa anaknya masih juga belum berhasil menjadikan cita-citanya tercapai.
Ketika terakhir aku menemui dokter yang sudah enggan datang dokter hanya menggelengkan kepalanya saja.” Aku tak mampu mengobatinya lagi, carilah dokter lain saja. Atau bawa ia ke rumah sdakit, kalau semua tak mungkin jangan tinggalkan dia sendirian bila perlu meski dengan taruhan resiko besar, bangunkanlah kembali mahligai angan-angannya.”
Semenjak itu berganti-ganti dengan orang lain, aku menyediakan diriku selalu dekat dengan Ompi. Aku sadar bahwa tiada harapan buat hidupnya lama. Itulah sebabnya tak kusampaikan kepadanya bahwa hari perkawinannku sudah berlangsung, karena aku takut berita itu akan menambah dalam penderitaannya. Di samping itu samar-samar kuelus terus harapannya yang indah bila Indra Budiman kembali. Kukarang kenangan masa lalu dan angan-angan masa depan yang menyenangkan. Kuceritakan dengan hati yang kecut. Akupun tahu tidak ada gunanya semua. Hanya yang dikehendakinya surat dari Indra Budiman surat yang  mengatakan bahwa ia sudah lulus dan mendapatkan titel dokternya. Kadang-kandang terniat olehku hendak menulis sendiri surat itu. Tapi aku selamanya bimbang malahan takut kalau-kalau permainan itu akan berakibat lebih fatal. Maka tak pernah aku coba menulisnya.
Pada suatu hari terjadilah apa yang kuduga bakal terjadi. Tapi tak kuharapakan berlangsungnya. Kulihat pak pos memasuki halaman rumah Ompi. Hari waktu itu pukul sebelas siang. Aku tahu itu bukanlah surat yang dibawanya, melainkan sepucuk telegram. Dan pada telegram itu pastilah bertengger saat-saat yang kritis sekali, tergesa-gesa aku menyongsong pak pos itu ke ambang pintu. Maksudku hendak membuka telegram itu untuk mengetahui isinya lebih dulu. Dan jika perlu akan kuubah isinya agar terelakkan saat-saat menyeramkan. Akan tetapi semua kejadian datang dengan serba tiba-tiba, hingga gagallah rencanakau tak sempat aku membuka surat itu, karena diluar segala dugaanku Ompi yuang sudah lumpuh selama ini telah berada saja di belakangku. Sesaat ketika aku menerima dan mendatangani resi telegram itu Gemetar kaki Ompi mendukung tubuhnya yang kisut tangannya berpegang pada sandaran kursi. Dan aku kehilangan kepercayaan pada pandangan mataku sendiri kekuatan apakah yang menyebabkan Ompi bisa berdiri dan bahkan berjalan itu. Aku tak tahu.
” Bukalah, bacakan segera isinya,” Ompi berkata seperti ia memerintah orang-orangnya di waktu mudanya dulu.
Aku sobek sampul kuning muda itu dengan tangan yang menggigil sekilas saja tahulah aku, bahwa saat yang paling kritis sudah sampai di puncaknya Indra Budiman dikabarkan sudah meninggal.
” Telegram dari anakku ? Apa katanya? Pulangkah dia membawa titel dokternya?” Ompi bertanya dengan suara yang mendesis tapi terburu-buru berdesakan keluar.
Tak tahulah apa yang harus kukatakan dan kuharapkan sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan  untuk membebaskan aku dari siksaan ini. Tapi keajaiban tidak juga datang Aku mengangguk sedang dalam hatiku berteriak terjadilah apa yang akan terjadi. Ompi terduduk di kursi matanya cemerlang memandang. Tangannya diulurkannya kepadaku meminta telegram itu. Aku merasa ngeri memberikannya tapi aku tak bisa berbuat lain . telegram itu kusodorkan ke tangannmya. Telegram itu digenggam erat lalu didekap ke dadanya. ” datang juga apa yang kunantikan ,”  katanya. Sepi begitu menekan sehingga aku dapat mendengarkan denyut jantungku sendiri.
”Ah tidak aku tak akan membacanya telegram ini. Aku takut kegembiraan akan meledakkan hatiku, kaubacakan buatku. Bacakan pelan-pelan, Biar sepatah demi sepatah menjalari segala saraf - sarafku,” kata Ompi pula dengan terputus-putus
Dalam kegugupan kususun sebuah taruhan  jiwa dan sesalan bagi selama hidupku. Akan kukarang kisah yang menyenangkan hatinya, tapi telegram itu tak diberikan kepadaku. Masih terletak pada dekapan dadanya. sedangkan bibirnya membariskan senyum serta matanya menyinarkan cahaya yang cemerlang.
” Tak usah dibacakan takkan sanggup akau mendengarnya, aku aku akan mati lemas oleh kebahagiaan yang datang bergulung ini. Aku mau sehat. mau kuat dulu. Sehingga ledakan kegembiraan ini tak membunuhku. Panggilkan dokter. Panggilkan. Biar aku segera bugar pada waktu anakku Dokter Indra Budiman datang. Pergilah. Panggilkan dokter,” kata Ompi dengan gembiranya.
Dan telegram itu dibawa ke bibirnya. Diciuminya dengan mesra. Lama diciumnya seraya matanya memicing. Yaitu selama tangannya sampai terkulai dan matanya terbuka setelah kehilangan cahaya. Dan telegram itu jatuh dan terkapar di pangkuannya.
A.    Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar !
1.      Apa yang menyebabkan Ompi sakit lahir dan batin ?
2.      Dalam penderitaannya itu ada sesuatu yang ditunggu-tunggu, apakah itu ?
3.      Peristiwa apa yang menambah kemalangan Ompi ?
4.      Apakah impian Ompi akan menjadi kenyataan ? Mengapa?
5.      Angan-angan Ompi itu tidak hanya menjadi persoalan Ompi, tetapi juga bagi orang lain. Siapakah yang terlibat ke dalam persoalan (konflik) itu ?
6.      Angan-angan Ompi tidak hanya bertalian dengan titel dokter yang akan disandang anaknya tetapi juga menyangkut jodoh anak kebanggaannya itu. Peristiwa apa yang mendorong timbulnya persoalan tersebut ?
7.      Apa yang membuat hati Ompi rusuh dan lega ?
8.      Dalam keputusasaan Ompi berusaha lari dari kenyataan . Kutiplahlah bagian yang membuktikan hal tersebut !
9.      Bagaimanakah nasib Ompi pada akhirnya?
Legakah sang Aku pada akhirnya ? Mengapa ?
10.  Bagaimana perasaanmu setelah menyelesaikan cerita itu ? Apakah kamu merasa terlibat dengan peristiwa yang terjadi dalam cerpen itu ? Jelaskan !

B. DISKUSI KELOMPOK
 Jawablah pertanyaan–pertanyaan di bawah ini kemudian diskusikanlah jawabanmu dengan temanmu!
1.   Tulislah penggambaran watak tokoh-tokoh cerpen ”Anak Kebanggaan” dalam tabel  berikut !

no
Tokoh
Watak
Bukti pendukung
1
2
3
....................................
....................................
...................................
...................................
..................................
...................................
...............................................
...............................................
................................................

3.      Tulislah permulaan konflik yang mendasari cerpen tersebut, klimaks, anti klimaks dan penyelesaiannya. !
3.      Gambarkan pikiran dan konflik batin Ompi dan tokoh Aku  dengan bahasa kamu sendiri dalam satu atau dua paragraf !
4.      Jika kamu menjadi tokoh Aku, langkah apa yang kamu ambil saat menghadapi peristiwa tersebut !
5.      Apakah suasana cerpen tersebut tergambar dengan kuat ? Jelaskan dengan bukti !
6.      Apakah jalan ceritanya (plot) lancar? rumit ? sederhana ? Jelaskan !
7.      Pengarang menyelesaikan cerita dengan mematikan tokoh Indra Budiman. Apakah hal itu menguatkan cerita atau melemahkan cerita ? Jelaskan !
8.      Apakah pengarang berhasil mempermainkan perasaan pembaca dengan tema, alur dan konflik di atas ? Jelaskan !
9.      Apakah kamu berpendapat bahwa membaca cerpen anak kebanggaan memberi manfaat bagimu ? Jelaskan !
10.  Berita dalam telegram itu sangat singkat, mengabarkan berita kematian Indra Budiman. Pembaca telegram itu tidak mengetahui sebab-sebab kematiannya, kita pun pembaca cerpen tidak mengetahuinya, tidak ada penjelasan mengenai hal itu pengarang tidak menjelaskan siapakah yang mengirimkan telegram itu, mungkin temannya, ketua RW, induk semang tempat Indra Budiman menyewa kamar atau mungkin Polisi.l Apakah penyebab yang paling pantas untuk Indra ? Sakitkah dia, terbunuh atau mengalami kecelakaan ? Bagaimana pendapatmu, tuliskanlah dengan menggunakan bahasamu sendiri !
 Berilah tanda silang pada huruf a, b, c, d, atau e pada jawaban yang benar !
Bacalah penggalan cerpen berikut dengan seksama ! ( soal untuk nomor 1 s.d.3 )
.................................................................................................................................
Tiba-tiba aku ingat lagi pada kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang kakek ? Dan bualan itulah yang mendurjanakan kakek ?
Aku ingin tahu. Lalu aku tanya kakek lagi,
”Apa ceritanya, Kek ? ”
” Siapa ”/
” Ajo Sidi”.
” Kurang ajar dia,” kakek menjawab
” Kenapa”?
” Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang  kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya.”
” Kakek marah”?
” Marah ? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orangtua menahan ragam.
Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut kalau imanku rusak karenanya, ibadahku rusak karenanya, sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan, sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal. Kau tahu apa yang kulakukan bukan ? Terkutukkah perbuatanku ? Dikutuki Tuhanku semua pekerjaanku ?”  ( Robohnya Surau Kami, A.A. Navis )

1.   Konflik yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut di atas adalah...
  1. Aku dengan kakek bertengkar masalah Ajo Sidi
  2. Ajo Sidi mengata-ngatai kakek sebagai orang terkutuk
  3. ”Aku” dan Ajo Saidi membohongi kakek dengan cerita
  4. Kakek merasa sakit hati kepada Ajo sidi
  5. Kakek dan ” Aku”  bertengkar menahan marah

2.   Penyebab konflik dalam penggalan cerpen tersebut adalah...
  1. Bualan Ajo Sidi yang mengatakan perbuatan kakek terkutuk
  2. Pisau Ajo Sidi tidak mau diasah oleh kjakek.
  3. Karena ” Aku” ikut campur terhadap masalah kakek.
  4. Ajo Sidi senang mengurusi urusan orang lain.
  5. Aku memanas-manasi hati kakek.
3. Peristiwa yang merupakan akibat konflik dalam kutipan cerpen tersebut adalah...
  1. kakek bertengkar dengan Ajo Sidi
  2. Kakek ingin menggorok leher Ajo Sidi
  3. Kakek menjadi durjana
  4. Ajo Sidi dibunuh kakek
  5. Kakek marah dan menggorok Ajo Sidi


Bacalah penggalan cerpen berikut dengan seksama !

Kalau begitu mengapa Syarifudin meninggal pada hari kedua, setelah dia disunat ? Darah tak banyak keluar dari lukanya. Syarifudin kan juga penurut. Pendiam. Setengah bulan, hampir dia mengurung diri karena kau mengatakan kelakuan abangnya sehari sebelum disunat itu. Aku tidak percaya jika hanya oleh melompat –lompat dan berkejaran setelah malam penuh. Aku tidak percaya itu. Aku mulai percaya desas- desus itu bahwa kau termasuk orang yang tamak. Orang yang kikir . penghisap. Lintah darat. Inilah ganjarannya! Aku mulai percaya desas- desus itu tentang dukun-dukun yang mengilu luka sunatan anak-anak kita. Aku mulai yakin, mereka menaruh racun di pisau dukun-dukun itu. Kalau benar begitu apalagi yang sekarang mereka sakitkan hati ? Aku telah lama mengubah sikapku. Tiap ada derma, aku sumbang. Tiap kesusahan, aku tolong. Tidak seorangpun dari mereka yang tidak kuundang dalam pesta tadi malam. Kau lihatkan, tiga teratak itu penuh mereka banjiri. Kau yakin mereka telah menerimaku, memaafkanku. ( Panggilan Rosul. Hamzah Rangkuti)

4.Tema atau pokok masalah yang tersirat dalam penggalan cerpen di atas adalah...
a.       dampak kekikiran, ketamakan, keangkuhan, dan kesombongan
b.      kekikiran, ketamakan, keangkuhan dan kesombongan yang diperbuat dukun
c.       kesdaran untuk mengubah sikap dari tidak baik menjadi baik.
d.      Kepercayaan adanya kematian dikaitkan dengan guna-guna dari dukun.
e.       Ganjaran / balasan bagi orang yang kikir, tamak dan angkuh.

Waktu bangun pagi-pagi Noerdin merasa badannya tidak enak. Sehari itu tidak bekerja dan panasnya amat tinggi. Malamnya makin bertambah tinggi juga panasnya dan iapun sudah igau-igauan. Lain tidak yang disebutnya ialah Rukmini juga.
Besoknya adalah demamnya agak turun sedikit, tetapi bukan main rindunya hendak bertemu Rukmini. Dengan tidak malu lagi disuruhnya jemput Rukmini hari itu juga dengan autonya. ( Darah Muda. Adinegoro)

5.  Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam kutipan cerpen din atas adalah...
a.      orang pertama sebagai tokoh utama
b.       orang pertama sebagai tokoh sampingan
c.      orang ketiga sebagai tokoh utama
d.     orang pertama dan orang kedua
e.      orang pertama sebagai orang ketiga

6.  ” Pak Gi ini benar-benar seorang pejuang yang tak pernah melupakan cita-citanya.”
”Cita-cita yang mana bu?”
”Bahwa yang tak kalah penting dengan perang melawan penjajah adalah perjuangan melawan kemiskinan dan kebodohan. Lho! ini semua kan bukti keberhasilan beliau melawan kemiskinan ?”
” Ibu sendiri kenapa tidak mengikuti jejak pak Gi ?”
” Sebagai mantan bagian dapur umum saya tetap berjuang terus, lho !”
Melawan kelaparan...?    ( Kado Istimewa, Jujur Pranoto )
Pengambaran watak pak Gi yang diungkapkan pengarang pada kutipan cerpen di atas adalah..
  1. ciri-ciri fisisk tokoh
  2. lingkungan sekitar tokoh
  3. perbincangan tokoh lain
  4. perasaan tokoh
  5. reaksi tokoh-tokoh lain
7.   Gaya bahasa yang digunakan dalam  penggelan cerpen di atas adalah......
  1. Suatu objek dideskripsikan dengan cara  detail atau tidak detail.
  2. Kalimat yang digunakan merupakan bahasa sehari-hari.
  3. Menggunakan majas atau ungkapan / idiom
  4. Banyak menggunakan dialog antar tokoh
  5. Menggunakan kalimat minor, walaupun bukan berupa dialog.
8. ” Jika bapak mengizinkan, saya akan meminjam kendaraan untuk membawanya ke rumah sakit . Maaf, pak, pada malam hari kendaraan umum hampir tidak ada.” Boleh silakan pak Heri. Bawakah anak-anak itu cepat-cepat ke dokter ! Ini kunci mobil dan sedikit uang untuk berobat!”
Amanat yang disampaikan oleh pengarang dalam penggalan cerpen di atas adalah...
  1. tolong-menolong sesama itu penting
  2. meminjam miobil harus disertai sedikit uang
  3. janganlah memperberat kesusahan orang
  4. membawa anak ke dokter lebih baik daripada memberikan uang
  5. bantuan uang lebih bermanfaat daripada tindakan.
9.  Tetapi papi rupa-rupanya tidak berkeberatan aku bergaul dengan anak-anak sepandri atau serdadu krocuk. Tentulah papi harus menjaga gengsi dan secara resmi harus memarahi aku. Sebab itu Letnan dan Raden Mas dari keluarga raja Mangkunegaran. Akan tetapi aku merasa papi tidak berkeberatan atau paling sedikit membiarkan aku punya kawan-kawan bermain dari kalangan ploletar tangsi. Pernah di kamar aku mendengar mami protes keras menuduh papi kurang mendidik anaknya. Dan kalau tidak salah papi bilang tentang pengalaman hidup praktis, kelak si anak kalau jadi komandan atau pegawai tinggi dapat beruntung berkat pergaulan dengan lapisan bawahan dan sebagainya semacam itu.
kelak sudah aku menjadi pelajar HBS dalam suatu kesempatan kol segala kerabat istana Mangkunegaran papi mengajakku memasuki ruang keramat di belakang pinggitan istana yang disebut dalem. Dan memberi petuah : dalem artinya ruang dalam, ruang keramat, ruang pemilik istana. Siapa pemilik istana ? Bukan Gusti Raja Mangkunegaran melainkan Dewi Sri. ( Burung-burung Manyar. Y.B. Mangunwijaya)
Latar yang tergambar dalam paragraf cerpen di atas adalah...
  1. kelak
  2. ruang dalam
  3. malam hari
  4. di kamar
  5. ruang pemilik istana
10.   Gaya bahasa yang digunakan dalam  penggelan cerpen di atas adalah......
  1. Banyak menggunakan dialog antar tokoh
  2. Menggunakan kalimat minor, walaupun bukan berupa dialog
  3. Kalimat bervariasi, kadang panjang, kadang pendek
  4. Banyak menggunakan istilah / kata asing / daerah
  5. Menggunakan kalimat minor, walaupun bukan berupa dialog

11.              Di kampung Ranah, di kota Padang adalah sebuah rumah kayu beratapkan seng. Letaknya jauh dari pohon-pohon kayu yang rindang. Jika ditilik perkaks rumah itu dan susunannya nyatalah rumah ini suatu rumah yang tidak dipelihara benar-benar. Karena sekalian yang didalamnya telah tua kotor dan tempatnya triada teratur dengan baik. Di serambi  muka hanya ada sebuah lampu gantung macam lama yang telah berkarat besi-besinya. Itulah rumah Datuk Maringgih, saudagar yang termashur kaya di Padang. ( Siti Nurbaya, 1965:85)

Unsur instrinsik yang tampak pada penggalan cerpen di atas adalah ...
a.   setting
b.   gaya bahasa
c.   tema
d.   karakter tokoh
e.   sudut pandang

12. Adelia hamil di luar nikah. Arfian bukan tidak mau bertanggungjawab tetapi lamarannya ditolak. Gadis belia yang kebingungan itu terpaksa menyetujui kemauan orang tuanya agar bayi yang lahir diserahkan ke Yayasan yang bersedia merawat bayi-bayi terlantar dan tidak dikehendaki kelahirannya. Daripada dibunuh, dicekik, lalu dibuang ke kali. Begitu alasan bidan Rukmini.
paragraf di atas merupakan cuplikan novel. Anda dapat menggolongkannya ke dalam novel populer karena...
  1. tokoh-tokoh dalam kisah tersebut merupakan gambaran tipe manusia yang tidak bertanggungjawab.
  2. tampak dalam inti kisah di atas para tokohnya menyelesaikan masdalah yang mereka hadapi dengan cara murahan dan gampangan
  3. bidan Rukmini ini mau merawat bayi itu dari pada dibunuh atau dibuang ke kali
  4. orangtua Adelia memberikan solusi terbaik dengan menyerahkan bayi yang baru lahir itu kepada sebuah Yayasan
  5. cerita di atas merupakan gambaran kompleksitas hidup manusia modern di perkotaan.
12.              Tarisa banyak difitnah oleh keluarga Rafli. Mula-mula ia dituduh sebagai pembawa sial dalam kehidupan keluarga ibu Aminah, lalu dituduh pembawa sial atas terbakarnya toko buku keluarga Aminah. Pendek kata, kehadiran Tarisa dipandang sebagai sumber malapetaka dan kehancuran keluarga ibu aminah. Bahkan perkawainan Rafli dengan Tarisa terancam bubar. Akan tetapi sumber segala persoalan sebenarnya bermula dari kehadiran sosok Farida.


Amanat yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah...
a.                   Setiap manusia yang melakukan tindakan tertentu akan memetik buah tindakannya.
b.                  Maksud yang baik belum  tentu dapat diterima sebagai suatu kebaikan
c.                   Bencana tidak diketahui darimana datangnya bencana dapat datang kapan saja.
d.      Kita harus waspada terhadap kehadiran orang ketiga yang justru sering menimbulkan masalah dan kehancuran keluarga.
e.                   Perkawinan yang tidak didasari rasa cinta akan mengalami kebahagian yang sejati.
14.  Kapan-kapan itu adalah suatu sore, ketika aku sedang sibuk mengetik tugas. Kamarku diketuk orang walau seingat aku, sore itu aku tidak berjanji dengan siapa-siapa.
     ” Wah, Saudara sibuk betul rupanya.”
Tentu saja sedang sibuk, kalau tidak sibuk, tentu tidak bakalan berserakan kertas-kertas di mejaku.kalau sudah tahu sibuk kenapa kau masih datang bertamu ? Tetapi cobalah bayangkan bagaimana pula kau harus mengusir orang yang sudah berdiri di hadapanmu ? dengann membedaki mukaku setebal mungkin dengan rasa ketimuran, yang terlontar dari mulutku adalah : ” Ya begitulah.” ( Wolfgang Kipkop, Pamusuk Eneste )
Nilai moral yang terkandung dalam cuplikan cerpen di atas adalah...
  1. saling menghormati dan menghargai
  2. berbasa-basi dan berpura-pura baik
  3. bertamu pada waktu yang tepat
  4. menjaga perasaan orang lain
  5. tidak boleh mengganggu pekerjaan orang lain.
15   Tukang becak di pasar jauh lebih sopan dari pada yang ada di stasiun. Mungkin karena sudah sering melihat dan saling kenal biasanya membuahkan rasa kasihan. Seperti yang pernah kualami, naik becak dan setelah tiba di depan rumah, tukang becak yang tua itu berkata, ”O, putra pak Hadi, ya”? Berhubung dia kenal dengan ayahku, aku berikan uang tanpa kuminta kembaliannya. Pak tua itu berterima kasih secara berlebihan.
Watak tokoh ” aku ” dalam penggalan cerpen di atas adalah...
a.       Sombong
b.      rendah diri
c.       sopan
d.      baik hati
e.       tinggi hati
16.   Tuti bukan orang yang mudah kagum, yang mudah heran melihat sesuatu. Keisyaratannya akan harga dirinya sangat besar. Ia tahu bahwa ia pandai dan cakap. Banyak yang akan dikerjakan dan dicapainya. Segala sesuatu diukurnya dari kecakapannya sendiri. Oleh sebab itu, ia jarang memuji.
Watak Tuti diungkapkan dengan cara...
a.      penjelasan langsung
b.      pendapat tokoh lain
c.       pendeskripsian fisik
d.      sikap tokoh
e.       perasaan tokoh
17.   Di tempat inilah terjadi peristiwa yang menyesatkan. Namun Monang bertanggungjawab dan akan mengawininya. Dan kenyataannya lain.Ibu Monang telah menjodohkannya dengan gadis Batak pilihan ibunya. Monang sendiri tak kuasa menolaknya. Dia kawin dengan gadis pilihan ibunya. Sementara itu janin yang dikandung Manen mengalami kelainan, bayi itu akan lahir cacat.
( Raumanen, Mariane Katop)
Nilai yang dominan tersirat dalam penggalan novel di atas adalah...
  1. budaya
  2. etik
  3. moral
  4. sosial
  5. agama
18.   Aku pikir aku telah tertidur beberapa jam karena pengaruh sampanye dan letusan-letusan bisu dalam film itu. Lalu ketika terbangun, kepalaku merasa terguncang-guncang. Aku pergi ke kamar mandi. Dua dari tempat duduk di belakangku diduduki wanita tua dengan sebelas kopor berbaring dengan posisi yang tidak sangat karuan. Seperti mayat yang terlupakan di medan perang. Kaca mata bacanya dengan rantai manik-manik beradu di alas lantai dan sesaat aku menikmati kedengkiannku untuk tidak mengambilnya.
     Nilai budaya yang ada dalam penggalan cerpen tersebut adalah ...
  1. mabuk-mabukan
  2. menonton film
  3. minum sampanye
  4. dengki terhadap orang lain
  5. tidak peduli terhadap orang lain
Bacalah penggalan cerpen berikut dengan seksama !( untuk soal nomor 19 s.d.20 )
Takkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku, mengira aku anak Belanda. Akupun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok orang Belanda. ( ”Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K)
19.   Watak tokoh ”aku” dalam penggalan cerpen tersebut adalah...
a.   percaya diri
b.   mudah menyesuaikan diri
c.   sombong
d.   rajin berusaha
e.   mudah dipengaruhi
20.   Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam penggalan cerpen tersebut adalah...
a.   orang pertama pelaku utama
b.   orang ketiga pelaku sampingan
c.   orang ketiga pelaku utama
d.   orang pertama  dan ketiga
e.   orang ketiga serbatahu
21. ...............sementara berdua menonton, seorang petani tua datanmg menghampiri Franst. Ditangannya, ia menggenggam sebuah guci anggur. Seraya membungkuk di depan Franst, ia berujar dengan takzim, ”Tuan Doktor, sungguh baik hati anda sudi datang ke tengah-tengah kami penduduk yang sedang bergembira ini, terimalah anggur yang paling enak ini.
                                                            ( Franst, terjemahan Rayani Sriwidodo )
Nilai budaya dari penggalan novel terjemahan di atas adalah .............
a.       tradisi menonton berdua
b.       pemberian hadiah berupa anggur
c.       sikap menghormati dengan membungkuk
d.      kesediaan seorang doktor menghadiri pesta petani
e.       kedatangan petani menghampiri seorang doktor.
22. Gadis itu meminta kakeknya menceritakan riwayat hidupnya, siapa sebenarnya kedua orangtuanya dan dimana mereka sekarang. Sang kakek terdiam sebentar, kemudian mulailah ia bercerita,” Delapan belas tahun yang lalu, seorang pemuda kota berjalan-jalan di desa ini. Ia terpikat gadis cantik bunga desa ini dan mereka menikah. Gadis cantik itu adalah putri kakek satu-satunya...............
Unsur instrinsik yang menonjol pada penggalan cerita tersebut di atas adalah ........
a.       tema
b.       latar watak
c.       alur sorot balik
d.      gaya bahasa
e.       latar budaya.
23.   ”Aku tidak meminta yang ukan-bukan Sukri. Kemiskinan telah membikin aku terbiasa untuk menerima apa adanya. Kau tidak usah memikirkan kado. Dirimu adalah kado perkawinanku yang  berharga. Ambilah aku, Sukri. Sebagai istrimu aku telah bahagia. Jangan pikirkan kado yang tidak-tidak.”
Tema penggalan cerita di atas adalah ...
a.       kejujuran
b.       kesombongan
c.       kesucian
d.      keberanian
e.       kegigihan
B. Sebutkan unsur-unsur instrinsik dan ekstrinsik dalam cerpen !

Kunci jawaban : kalimat yang dicetak miring pada pilihan jawaban.


 ASAL MULA DESA NGALIYAN DAN DESA JAWENG.
Sultan Agung Mataram adalah seorang raja yang arif dan bijaksana, dekat dengan rakyat jelata dan memperhatikan kepentingan negara menjadikannya dipuji dan dikagumi oleh setiap rakyatnya. Suatu ketika abdi kesayangannya meninggal dunia, dan sang Sultan langsung memerintahkan agar memberikan bantuan untuk acara pemakamannya. Namun apa yang terjadi kemudian sangatlah mengherankan, abdi kesayangan sang Raja Mataram setelah di mandikan mendadak bangun dan hidup kembali dari kematiannya.
Mendengar kabar tersebut Raja Mataram hilang kesedihannya dan datang menjenguk ke rumah abdi kesanyangannya tersebut untuk memastikan kabar yang diterimanya. Setelah sadar dan pulih kembali kekuatannya abdi kesayangan sang Raja Mataram tersebut dipanggil\ menghadap Raja dan menceritakan pengalamannya kepada Rajanya, begini ceritanya bahwa ia sedang melakukan sebuah perjalanan dan ia melihat ada sebuah rumah yang bagus, diatur dengan baik dan banyak bunga-bunga indah tumbuh disekitarnya lalu ia bertanya kepada penjaga rumah tersebut, penjaga rumah tersebut berkata bahwa rumah itu adalah calon rumah Kyai Singaprana dari Walen, kemudian abdi kesayangan Sultan Agung Mataram meneruskan perjalanan dan bertemu lagi sebuah rumah yang bagus lainnya, juga diatur dengan baik dan banyak bunga-bunga indah tumbuh disekitarnya lalu ia bertanya kepada penjaga rumah tersebut, penjaga rumah tersebut berkata bahwa rumah itu adalah calon rumah Sultan Agung Mataram, sampai disitu kemudian abdi kesayangan Sultan Agung Mataram tersebut lalu tidak teringat apa-apa lagi dan tahutahu sudah di atas balai-balai di pekarangan rumahnya dimandikan seperti orang kalau memandikan jenasah.
Sang Sultan Agung memperhatikan cerita tersebut dengan seksama , Sultan Agung Mataram tidak begitu tertarik dengan cerita tentang rumah tersebut namun lebih tertarik dengan nama Kyai Singaprana dari Walen. Lama berfikir sang Sultan dan memutuskan untuk mencari siapakah sebenarnya Kyai Singoprono tersebut dan ingin bertatap muka dengannya, lalu hari berikutnya diperintahkannya untuk menyiapkan segala sesuatu untuk pergi menemui Kyai Singoprono di Walen, dan setelah semuanya siap berangkatlah Sultan Agung Mataram beserta rombongannya. Setibanya Rombongan Sultan Agung Mataram di tepi Sungai Cemara (sekarang Desa Tegalrayung, Kecamatan Simo) semua pengikut Sultan diistirahatkan dan tidak ada yang boleh mengikuti Sultan Agung Mataram, karena sang Sultan ingin meneruskan perjalanannya sendiri dan para pengikutnyapun mengiyakannya.
Lalu dikenakannya pakaian seperti orang menggembalakan ternak itik lalu memohon kepada Sang Khalik agar diberikan itik sejumlah seratus ekor, berkat anugerah Sang Pencipta dan karena kesaktian Sultan permohonannya terkabul.
Seratus ekor itik tersebut digiring ke arah Walen dan tibalah di Sebelah barat Sungai Aji yaitu sebelah utara sungai cemara (tepatnya Desa Tempuran), ada orang yang berjualan nasi dan dawet di tempat tersebut. Agak terheranheran Sultan melihat bahwa tempat tersebut tidaklah ramai di lewati orang, dan segeralah penggembala itik tersebut menghampiri si penjual nasi tersebut dan berkata bahwa ia hendak ke rumah Kyai Singoprono tetapi karena itik-itiknya belum makan seharian si penggembala itik minta agar nasi dan dawet yang dijual itu untuk makanan itik-itiknya karena kelihatannya dagangan yang di jual tidak laku. Padahal sebelum itu si penjual nasi berkata bahwa walaupun sepi tidak ada orang yang lewat dagangan yang ia jajakan pasti habis terjual. Dan lebih terheran-heran lagi si penggembala itik ternyata diberikan semuanya rasa herannya disembunyikannya dengan cepat.
Setelah selesai memberi makan itiknya ia meneruskan perjalanan menuju ke rumah Kyai Singoprono setelah ditunjukkan oleh si penjual nasi letak rumah Kyai Singoprono.
Dengan kesaktiannya si penjaja nasi yang tak lain adalah Kyai Singoprono itu sendiri menyusul dalam sekejab waktu sampai di rumahnya terlebih dahulu dan berkata kepada isterinya untuk menyiapkan hidangan untuk menjamu tamu terhormat, namun karena tidak ada bahan yang akan dimasak isteri Kyai Singopronopun memberi tahu bahwa tidak ada yang dapat ia lakukan, Kyai Singoprono kembali berkata kepada isterinya untuk menyiapkan peralatan makan di atas meja saja, dan dilakukannyalah seperti apa yang dikatakan Kyai Singoprono. Dengan memohon kepada Tuhan, Kyai Singoprono mengeluarkan kesaktiannya dan dalam sekejab diatas meja tempat diletakkannya peralatan makan tadi telah tersaji hidangan kesukaan Raja Mataram.
Setelah itu Kyai Singoprono berjalan ke luar rumah untuk menyambut kedatangan tamunya
Sementara itu sesampainya di Pasar Walen penggembala itik yang aslinya Sultan Agung Mataram dengan kesaktiannya pula menghilangkan itik-itik yang ia gembalakan tadi dan berganti pakaian menjadi seorang peminta-minta berjalan kembali menuju ke rumah Kyai Singoprono. Setelah sampai di depan pintu pekarangan Rumah Kyai Singoprono, si pengemis agak teheran-heran karena seperti ada orang yang menanti kedatangannya, dan ternyata benar setelah dekat dengan orang tersebut orang itu langsung membungkukkan badannya memberi penghormatan dan tambah terheran-heran lagi ternyata orang tersebut adalah orang yang ditemuinya berjualan nasi dan dawet di jalan tadi. Sang pengemis bertanya kepada orang tadi apakah benar ini rumah Kyai Singoprono dan adakah beliau ditempat. Jawab orang itu ya benar ini adalah rumah Kyai Singoprono dan saya sendirilah orangnya. Setelah mendengar jawaban tersebut si pengemis yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sultan Agung Mataram tidak dapat bergerak dan berkata-kata. Oleh karena mengetahui keadaan yang demikian Kyai Singoprono memecahkan kebekuan suasana dengan mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam rumah untuk menjamunya. Bukam main terkejutnya Sultan Agung Mataram mengetahui jamuan yang disediakan adalah makanan kegemaran yang selalu disediakan di istananya. Lalu Sultan Agung Mataram yang masih dalam penyamarannya berkata bahwa tidaklah pantas ia dijamu sedemikian rupa, Kyai Singoprono menjawab sebenarnya bukan orang hina papa dan orang biasa yang sekarang ada dihadapannya, melaikan seorang tamu terhormat yang datang dari Kerajaan Mataram yang tidak lain adalah Sang Sultan Agung Mataram pribadi, yang pemurah, baik hati terhadap sesama. Tergetarlah tubuh Sultan Agung Mataram mendengar perkataan Kyai Singoprono, dan mengakui bahwa memang sakti benar adanya orang yang sekarang ada dihadapannya tersebut.
Setelah semuanya itu terjadi Sultan Agung memohon kepada Tuhan agar mereka berdua diijinkan pindah saat itu juga ke Istana Kerajaan Mataram dan dikabulkan, tiba-tiba mereka berdua Sultan Agung Mataram dan Kyai Singoprono sudah ada duduk besama-sama di Istana Kerajaan Mataram. Kyai Singoprono mengeluarkan kesaktiannya dengan memohon ijin kepada Yang Khalik pula dengan permohonan yang sama tetapi kebalikannya.
Akhirnya terjadilah tarik menarik antara Kyai Singoprono dan Sultan Agung Mataram dengan masing-masing kehendaknya Kyai Singoprono ingin di Walen tetapi Sultan Agung Mataram ingin di Istana dan kejadian tersebut terlihat beganti-ganti (dalam bahasa jawa olah-alih) dan karena hal tersebut sekarang desa di sebelah utara Sungai Cemara dinamakan Desa Ngaliyan (Kelurahan Pelem, Kecamatan Simo), dan desa sebelah timur Sungai Aji dinamakan Desa Jaweng (eweng-ewengan dalam bahasa Indonesia berarti tarik menarik) dan akhirnya mereka berdua kembali ke Walen. Setelah lama bercakap-cakap Sultan Agung Mataram mohon diri dan ingin meneruskan persaudaraan dengan Kyai Singoprono dan sejak saat itulah terjalin hubungan yang erat antara Keluarga Kerajaan Mataram dan Kyai Singoprono, juga diketahui bahwa Kyai Singoprono ternyata masih ada kekerabatan dengan silsilah Keluarga Raja Mataram.
Sampai disinilah cerita mengenai asal mula nama Desa Ngaliyan dan Desa Jaweng.
ASAL MULA DESA TALAKBROTO
Pada suatu hari datanglah seorang wanita bernama Mbok
Nyai (yang menurut penuturan masyarakat memang
namanya adalah Mbok Nyai didapat dari para pengikutnya
jika memanggilnya dan tidak ada yang tahu nama aslinya,
sedangkan asal usulnya masih keturunan bangsawan
Surakarta) bersama beberapa orang pengikutnya ke hutan
yang bernama Lanji (sekarang Desa Talakbroto, Kabupaten
Boyolali), mereka membawa peralatan lengkap termasuk
peralatan perang.
Setelah Pakubuwono III mangkat, di Mataram terjadi
peperangan besar, perang saudara antara Pakubuwono III
yang diangkat oleh Kompeni Belanda dan Mangkubumi yang
memberontak dan mengangkat dirinya menjadi Sultan
Hamengkubuwono I di Yogyakarta. Setelah semua reda
tiba-tiba timbul lagi pemberontakan melawan Belanda oleh
Raden Mas Sahid beserta pengikutnya, oleh karena
gencarnya perlawanan Raden Mas Sahid maka Belanda
menggunakan taktiknya yaitu memberikan sebidang tanah
dan dijadikan raja diwilayah itu dengan gelar Mangkunegara
I.
Tipu daya tersebut dirasa berhasil oleh Belanda, namun
diberbagai wilayah masih terjadi pemberotakan oleh
kelompok-kelompok kecil yang membuat keresahan bagi
Belanda, Kerajaan Surakarta Hadiningrat, Kerajaan
Yogyakarta, dan Mangkunegaran. Pada akhirnya keempat
pihak tersebut dapat menekan kelompok-kelompok yang
memberontak sehingga lari ke pelosok-pelosok dan hutanhutan.
Dua orang kakak beradik laki-laki dan perempuan beserta
pengikutnya terdesak dan melarikan diri sampai di
pegunungan Kendeng Selatan (tepatnya sekarang di Desa
Talakbroto, Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali. Kakak
beradik tersebut bernama Kyai Pundung Kusuma dan Mbok
Nyai, mereka berdua dan pengikutnya walaupun sudah
terdesak namun kesemuanya bertekad baja untuk selalu
berjuang melawan Belanda beserta anteknya.
Mereka memperhitungkan dengan kekuatan mereka saat itu
masih belum cukup untuk melawan Belanda maka mereka
membuat dukuh tempat mereka diam guna menyusun
kekuatan juga mengadakan latihan perang prajurit dan
berkuda (disebelah barat Desa Talakbroto yang saat ini
disebut Mukajaran). Sayang pada waktu itu Kyai Pundung
Kusuma diketemukan meninggal dengan posisi terlentang
pada saat mengadakan latihan perang (tempat tersebut
dinamakan Mbatangan dalam istilah Jawa artinya tempat
bangkai), kemudian Mbok Nyai dan pengikutnya
memakamkan jasad Kyai Pundung Kusuma diatas bukit dan
orang menamakan tempat tersebut Makam Santono
(terletak di sebelah utara Dukuh Pengkol Desa Talakbroto
dan sampai saat ini orang masih mengeramatkan makam
tersebut).
Atas meninggalnya Kyai Pundung Kusuma, niat Mbok Nyai
beserta para pengikutnya untuk melawan Belanda menjadi
kendor namun niat untuk menyebarkan ajaran Agama Islam,
melawan kebodohan dan kemiskinan tidak ikut terkubur
bersama jasad Kyai Pundung Kusuma namun tertanam di
benak mereka. Mbok Nyai ingin agar anak cucu penerus
generasi bangsa kelak memiliki budi pekerti yang luhur (hal
ini dijalani dengan talakbroto) suka menolong dan
bergotong-royong dan dapat hidup tenteram. Sambil bertapa
Mbok Nyai beserta pengikutnya membuka hutan untuk
dijadikan tempat berdiam bagi masyarakat dan lahan untuk
bercocok tanam dan membuat kolam untuk memelihara
ikan.
Untuk tanda/tetenger Mbok Nyai kemudian menanam
pohon kelapa pada suatu tempat, seiring dengan
berjalannya waktu pohon kepala tersebut tumbuh dengan
subur namun terjadi sebuah keajaiban, tidak ada
seseorangpun yang berani memanjat pohon kelapa tersebut
dan lebih aneh lagi tidak ada satupun pelepah kering yang
jatuh dibawah pohon kelapa tersebut. Lama kelamaan
disekitar pohon kelapa itu tumbuh, dibangun rumah-rumah
penduduk, dan oleh Mbok Nyai tempat tersebut dinamakan
Dukuh Krambilsawit (diambil dari kata Bahasa Jawa krambil
sa uwit dalam Bahasa Indonesdia artinya satu pohon
kelapa-terletak sebelah timur laut Desa Talakbroto), Alkisah
pohon kelapa tersebut akhirnya mati karena termakan usdia
dan daerah sekitarnya telah ditanami pohon-pohon kelapa
oleh penduduk sebagai wujud melestarikan apa yang telah
dimulai oleh Mbok Nyai.
Konon Mbok Nyai memiliki pusaka ampuh untuk
perlindungan yang berwujud sapu tangan, menurut cerita
sapu tangan tersebut tidak pernah dikeluarkan dan jika
dikeluarkan hanya bila menghadapi musuh. Kegunaan dari
sapu tangan tersebut bila dikeluarkan dan direntangkan
didepan musuh, maka musuh tidak dapat melihat Mbok Nyai
beserta dengan pengikutnya.
Pada sebuah malam bulan purnama Mbok Nyai beserta
para pengikutnya berkumpul (seperti malam-malam
sebelumnya-digunakan sebagai ajang santai, berkelakar dan
memberikan petuah kepada pengikutnya), Mbok Nyai
memberikan petuah agar para pengikutnya memahami
situasi yang dihadapi saat ini dan janganlah ada yang
mengeluh tentang segala kekurangan dan permasalahan
yang dihadapi untuk dapat diselesaikan bersama-sama,
menurut nenek Mbok Nyai dukuh yang memiliki puncak yang
tinggi adalah dukuh yang baik, penduduk yang tinggal
disekitarnya akan makmur dan tenteram dan memiliki
kebahagdiaan akherat sebagai lambang puncak tinggi
tersebut apalagi diapit oleh dua buah sungai dan Mbok Nyai
betutur pula bahwa dia akan menghabiskan sisa hidupnya
ditempat tersebut.
Tahun demi tahun berganti dan kesehatan Mbok Nyai
semakin menurun termakan usdia yang sudah lanjut dan tak
lama kemudian tutup usia akibat penyakit yang
disandangnya, beliau dimakamkan diatas bukit sesuai
dengan permintaannya bahwa bukit tersebut jangan
digunakan sebagai tempat tinggal melainkan digunakan
sebagai tempat untuk memakamkan jasadnya dan para
pengikutnya. Sandal kayu (dalam Bahasa Jawa disebut
gamparan) yang bdiasa Dia pakai diletakkan diatas
makamnya. para pengikutnya merasa sedih dan mereka
lupa akan petuah Mbok Nyai agar mereka melestarikan apa
yang sudah Mbok Nyai mulai, mereka pergi begitu saja
meninggalkan apa yang telah mereka perjuangkan selama
ini.
Beberapa saat setelah meninggalnya Mbok Nyai datanglah
seorang pengembara bernama Kyai Sakip (berasal dari
Desa Rambat, Kelurahan Ngembat, Kecamatan Gemolong,
Kabupaten Sragen), Kyai Sakip dikenal orang sebagai
seorang yang taat menjalankan ibadah dan sakti
mandraguna dibuktikan apabila Kyai Sakip datang atau
pulang pasti terdengar suara kuda meringkik sebelumnya.
Kesaktian Kyai Sakip juga dibuktikan dengan
peninggalannya yang berupa kentongan kayu (sekarang
berada di Masjid Ngaliyan, Desa Pelem, Kecamatan Simokentongan
tersebut selalu dibawa oleh Kyai Sakip saat
mengembara) saat bala tentara Belanda sampai di Simo
untuk berpatroli mereka sampailah di Masjid Ngaliyan, entah
mengapa kepala pasukan masuk ke Masjid kemudian buang
air di kentongan tersebut, seketika itu pula bengkaklah
kemaluan si kepala pasukan dan ia dilarikan oleh bala
tentaranya menuju markas.
Maksud dan tujuan Kyai Sakip sebenarnya adalah untuk
mencari keberadaan peninggalan Mbok Nyai beserta
pengikutnya. Setelah mengetahui bahwa dalam membuat
dukuh-dukuh peninggalan Mbok Nyai tersebut dengan
menggunakan tarak broto maka Kyai Sakip menamakan
daerah tersebut Dukuh Tarak-Broto yang lama kelamaan
berubah sebutannya menjadi Talakbroto. Kemuadian Kayai
Sakip juga membawa kedua anaknya Ki Tiyah (tinggal di
Dukuh Talakbroto) dan Ki Secowijaya (tinggal di Dukuh
Pulung Kalurahan Gunung Kecamatan Simo) untuk tinggal
di Dukuh Talakbroto, kedua anaknya tersebut dibimbing
agar selalu menjadi orang yang soleh, diajari cara bertani
dan beternak ikan yang baik.
Kyai Sakip juga membuat bendungan di Dusun Pancingan
Kalurahan Walen (dinamakan Dusun Pancingan karena di
tempat tersebut banyak tumbuh pohon pancing dan
bendungan tersebut dinamakan Kedung Canggal), dengan
kesaktiannya pula saluran air juga dibuat dengan tongkat
keramatnya, mengalir melalui tepi Dukuh Pulung sebelah
selatan Dukuh Talakbroto yang berakibat suburnya wilayah
tersebut.
Kyai Sakip dimakamkan di Makam Karang Duren Kalurahan
Gunung dan dikeramatkan oleh penduduk setempat, dan
tongkat keramatnya ditancapkan diatas pusaranya untuk
menjadi pertanda.
ASAL MULA NAMA DESA GAGAK SIPAT
Sejarah Kyai Gagak sipat atau nama aslinya Pangeran
Gambir Anom yang sewaktu Pemerintahan Pangeran
Gambir Anom yang sewaktu pemerintahan Paku Buwono II
(1729-1749) menjadi Raja di Keraton Kartasura beliau
menduduki jamatan sebagai Bupati Penamping. Karena ikut
melawan kekuasaan raja yang didominasi oleh Kompeni
atau Belanda.
Bersama-sama dengan Mas Garendi putra Pangeran
Teposono yang dibantu oleh orang-orang Cina mengadakan
pemberontakan melawan Belanda.
Tujuan pertama kali dari para pemberontak ini adalah
mengusir penjajah belanda dari tanah air. Awal
pemeberontakan Mas Garendi awalnya berhasil melawan
penjajah dan merebut Keraton Surakarta, kemudian Mas
Garendi oleh para pengikutnya dinobatkan menjadi Sunan
Kuning. Paku Buwono II berhasil lari ke Ponorogo.
Belanda melihat Paku Buwono II terdesak sangat senang
dan menawarkan bantuan untuk duduk kembali di tahta
Kartosuro asal Seluruh wilayah pantai utara sepenuhnya
kepada Belanda.dan hali itu disetujui oleh Paku Buwono II.
Tentara Kartasura yang telah lari bersama rajanya
meninggalkan keratonnya, setelah mendapatkan bantuan
dari Belanda dtambah tentara Bugis, Madura mengadakan
penyerbuan ke Keraton Kartasura dengan persenjataan
yang lebih unggul dari pada Mas Garendi. Akhirnys dengan
sangat terpaksa Mas Garendi beserta pasukannya mundur
meninggalkan Benteng Kartasura oleh karena persenjataan
kalah modern, korban banyak berjatuhan di pihak Mas
Garendi. Tentara yang menyerah ditangkap kemudian
dibunuh, sedangkan sisanya lari ke Gunung Kidul dan lari ke
lereng Gunung Merapi menghindar dari kejaran tentara
Belanda termasuk Adipati Mertoloyo atau Pangeran Gambir
Anom. Sedangkan Mas Garendi lari ke Pasuruan.
Pada waktu Pangeran Gambir Anom bersemadi, untuk
memohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa maka
Pangeran Gambir Anom menerima wangsit agar
meninggalkan goa persembunyiannya beserta pengikutnya
ke arah timur dengan menyamar sebagai rakyat biasa dan
akan diberikan petunjuk lagi tempat persembunyian yang
baru. Dan benar tenyata perjalanan Pangeran Gambir Anom
tidak sendiri, ditemani oleh seekor burung gagak yang
menunjukkan Pangeran Gambir Anom kemana arah yang
dituju.
Pada akhirnya sampailah Pangeran Gambir Anom di sebuah
pohon beringin besar dan lebat daunnya dan burung gagak
tersebut berhenti dan tidak terbang lagi dengan arti bahwa
perjalanannya beserta para pengikutnya telah usai dan
burung gagak tadi menyipat / mengarahkan arah perjalanan
Pangeran Gambir Anom.
Kemudian Pangeran Gambir Anom beserta pengikutnya
mendirikan padepokan di daerah tempat pohon beringin
tersebut berada, dan untuk mengenang jasa dari burung
gagak tersebut maka dusun tempat Pangeran Gambir Anom
menetap tersebut dinamakan Dusun Gagak Sipat.
Agar Pangeran Gambir Anom dan para pengikutnya
keberadaan idak diketahui oleh Belanda maupun Paku
Buwono II beserta para tentaranya maka nama Pangeran
Gambir Anom diubah menjadi Kyai Gagak Sipat. Beberapa
saat setelah bermukim di tempat tersebut maka setelah
tangkar tumangkar dan memiliki dua orang anak laki-laki
yang diberikan nama Gagak Pratolo dan Kyai Merjan.
Keduanya setelah meninggal dunia dimakamkan di dekat
ayahnya, Pangeran Gambir Anom.
Kyai Gagak Sipat sebelum meninggal berpesan, bahwa
nanti jasadnya agar dimakamkan di bawah pohon beringin,
dan kepada turun temurunnya berpesan agar nama Adipati
Martoloyo atau Gambir Anom dirahasiakan mengingat beliau
adalah pemberontak melawan kekuasaan Raja atau
Belanda dan makamnya agar jangan sampai dipugar atau
dimuliakan, sebab besok yang berhak memugar atau
memuliakan adalah kalau sudah sampai pada cucu-cucunya
agar identitasnya tidak terbongkar serta anak cucunya tidak
mendapatkan balasan dari pihak Belanda.
ASAL MULA NAMA PANTARAN
Suatu daearah di kaki Lereng Gunung Merbabu sebelah
timur tanahnya berbukit-bukit serta hawanya dingin.
Tanahnya yang gembur sehingga subur tanaman yang ada
terbentang luas menyelimuti lereng-lereng bukit sehingga
menambah keindahan pemandangan alam.
Ditempat tesebut tinggal seorang Wiku yang terkenal sakti,
arif bijaksana berbudi pekerti luhur dan berjiwa sosial, setiap
saat ia memberikan pertolongan bagi yang memerlukan dan
memberikan tuntunan bagi masyarakat agar tercipta
kerukunan, kedamaian dan kebahagiaan, sang Wiku tinggal
bersama putrinya bernama Nawangsih.
Semakin lama nama sang Wiku tersebut semakin tersohor
ke seluruh penjuru wilayah, sehingga terdengar pula sampai
di Kerajaan Pengging, sehingga Sang Prabu Kusumawicitra
timbul niatnya untuk membuktikan kebenaran cerita
tersebut, maka segeralah Sang Prabu Kusumawicitra
memanggil puteranya yang bernama Pangeran Citrasoma.
Perintah sang ayah supaya Pangeran Citrasoma pergi ke
Lereng Gunung Merbabu bagian timur untuk menemui sang
Wiku, dan apabila benar Wiku tersebut ada maka Pangeran
Citrasoma harus berguru pada sang Wiku. Dan pergilah
Pangeran Citrasoma setelah mohon doa restu kepada sang
ayah disertai dua orang abdinya.
Dengan niat yang menyala-nyala Pangeran Citrasoma
berjalan diiring dua orang abdinya menyusuri lembahlembah
dan lereng-lereng untuk mencari Sang Wiku. Saat
itu Pangeran Citrasoma sampai di sebuah lereng yang
ditanami dengan sayur mayur nan subur dan disitu ada
seorang gadis yang cantik jelita sedang memetik sayur.
Segeralah Pangeran Citrasoma mendekati gadis tersebut
dan bertanya, “Gadis manis dimanakah rumahmu?”,
mendengar pertanyaan tersebut si gadis urung menjawab
dan lari ketakutan karena ia mengira akan diganggu orang
jahat.
Tentu saja Pangeran Citrasoma mengejarnya melihat sikap
si gadis, dan sampailah si gadis disebuah rumah dan segera
masuk. Pangeran Citrasoma menyusul ke dalam namun
sebelumnya ia mohon ijin dahulu dan setelah diperkenankan
masuk mereka saling memperkenalkan diri yang ternyata si
gadis tersebut tak lain adalah Dewi Nawangsih yaitu anak
sang Wiku dan Pangeran Citrasoma pun memperkenalkan
diri dan menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya di
tempat tersebut.
Sang Pangeran diterima menjadi murid dan setelah
kedatangan Pangeran Citrasoma selang beberapa hari
kemudian datanglah seorang aulia yang menamakan dirinya
Syeh Maulana Malik Ibrahim Maghribi dan setelah
sementara waktu berjalan dan telah bertemu dengan sang
Wiku maka Syeh Maulana Malik Ibrahim Maghribi
mengutarakan maksudnya yang akan menyebarkan ajaran
Agama Islam di daerah tersebut, dan sang Wiku
memperbolehkannya yang akhirnya membawa semua
penduduk untuk mempelajari Agama Islam.
Hari demi hari berlalu, Dewi Nawangsih dan Pangeran
Citasoma saling menaruh hati dan hal tersebut disampaikan
secara terus terang kepada sang Wiku oleh Pangeran
Citrasoma. Sang wiku tidak segera menjawabnya dan
mohon petunjuk dari Syeh Maulana Malik Ibrahim Maghribi
mengenai hal tersebut. Setelah mendapatkan saran maka
sang wiku menjawab Pangeran Citrasoma, bahwa
lamarannya diterima namun sebelum itu Pangeran
Citrasoma harus membuat sumber mata air yang dapat
dipergunakan untuk penghidupan orang banyak. Setelah
menerima keterangan tersebut maka pulanglah Pangeran
Citrasoma ke Pengging untuk melapor kepada ayahnya.
Dan setelah Pangeran Citrasoma sampai di Kerajaan
Pengging ia menceritakan bahwa semua yang ayahnda
dengar adalah benar adanya, bahwa di lereng Gunung
Merbabu sebelah timur tersebut ada seorang Wiku yang
sakti, arif bijaksana, berbudi pekerti luhur dan memiliki
seorang gadis cantik yang kini telah singgah di hati sang
pangeran dan berkeinginan untuk meminangnya. Sang
Prabu Kusuma Wicitra pun merestui hubungan mereka
berdua dan memberikan petunjuk bahwa pangeran
Citrasoma harus bertapa di lereng Gunung Merbabu selama
empat puluh hari empat puluh malam dan minta bantuan
raja jin disana bernama Prabu Karawu.
Setelah mendapat petunjuk dari ayahnda Pangeran
Citrasomapun berangkat memenuhi apa yang dikatakan
sang Wiku. Empat puluh hari empat puluh malam berlalu
dengan berbagai macam godaan dan akhirnya raja jin yaitu
Prabu Karawu muncul dan menyanggupi permintaan Sang
Pangeran untuk membuatkan mata air yang diminta oleh
sang Wiku.
Selang beberapa hari kemudian muncullah mata air didekat
tempat pertapaan Pangeran Citrasoma, betapa gembiranya
hati Sang Pangeran melihat hal ini dan segeralah ia turun ke
padepokan untuk memberi kabar kepada Syeh Maulana
Malik Ibrahim Maghribi mengenai hal ini. Setelah mereka
mendengar cerita tersebut Syeh Maulana Malik Ibrahim
Maghribi dan Sang Wiku segera datang dimana mata air itu
muncul dan tersungkurlah mereka dan mengucapkan puji
syukur ke hadirat Yang Esa. Keanehanpun terjadi setelah
diamati air yang memancar dari mata air itu tidaklah lurus
namun berlekuk menyerupai pendok (lekukan dalam
bahasa jawa) keris yang pada akhirnya Syeh Maulana Malik
Ibrahim Maghribi mengatakan bahwa mata air tersebut
dinamakan Tuk Sipendok. Kemudian Pangeran Citrasoma
memboyong Dewi Nawangsih ke kerajaan Pengging.
Sepeninggal Pangeran Citrasoma dan Dewi Nawangsih
yang pergi Ke Kerajaan Pengging, masyarakat setempat
dengan dipimpin oleh berkeinginan membangun masjid,
masyarakat mulai mengumpulkan bahan bangunan yang
dibutuhkan namun mereka tidak memiliki kayu jati yang
sedianya akan dijadikan saka guru bangunan. Akhirnya oleh
Syeh Maulana Malik Ibrahim Maghribi diutuslah seorang ke
kerajaan Demak untuk memohon bantuan, tetapi apa daya
pulang dengan tangan kosong karena saat itu Kerajaan
Demak sedang membangun Masjid Agung Demak.
Syeh Maulana Malik Ibrahim Maghribi tidak putus asa
dengan keadaan seperti itu maka diusahakannya dengan
bahan seadanya untuk dapat meneruskan membangun
masjid tersebut, maka setelah semuanya selesai masjid
tersebut diberikan nama pantaran (sebaya) karena seiring
dengan pembangunan Masjid Agung Demak. Banyak orang
kemudian menyebut sang Wiku sebagai Ki Ageng Pantaran
oleh karena jasa-jasanya kepada masyarakat. Setelah
meninggal Ki Ageng pantaran dimakamkan dan tempat
untuk memakamkan Ki Ageng Pantaran diberikan nama
sama juga yaitu Makam Pantaran (terletak di Desa
Candisari, Kecamatan Ampel) begitu pula dengan Dewi
Nawangsih, sedangkan Syeh Maulana Malik Ibrahim
Maghribi tidak dimakamkan di tempat tersebut setelah wafat
melainkan hanyalah benda-benda pusakanya saja, oleh
sebab tersebut diatas sampai saat ini masyarakat masih
mengkeramatkan makam tersebut dan dijadikan sebagai
tempat berziarah pada hari Kamis malam Jumat dan setiap
tahunnya diadakan Upacara Tradisional Buka Luwur yang
bertujuan melestarikan apa yang telah dimulai oleh
pendahulu kita.
ASAL MULA NAMA SIMO
Sawah dan ladang milik Kyai Singoprono subur dengan hasil
melimpah ruah, namun kesemuanya itu merupakan hasil
kerja keras dan doa yang senantiasa menghiasinya.
Suatu malam yang cerah, bulan dan bintang bersinar terang,
dengan membawa tombak saktinya, Kyai Singoprono pergi
ke sawah untuk melihat-lihat apakah tanamannya aman dari
gangguan hama dan binatang.
Dengan berhati-hati dan waspada Kyai Singoprono
mengelilingi sawahnya, dan Kyai Singoprono merasa
tentram, sebab tanamannya tak satupun yang rusak.
Namun hatinya gundah tak menentu tapi tidak mengetahui
sebabnya, sebentar-sebentar dilihatnya sawah didepannya
walaupun tidak terlihat sesuatu apapun kemudian duduk
kembali untuk waspada terhadap suara-suara yang
mencurigakan tetapi tak ada sesuatu peristiwa yang
menjawab kegundahan itu.
Setelah sementara waktu dari kejauhan sayup terdengar
suara gemuruh datang mendekat dan terus mendekat ke
arah Kyai Singoprono duduk, dan semakin lama terdengar
jelas banyak kaki-kaki binatang besar berlari mendekat.
Berdegup kencang jantung Kyai Singoprono mendengarnya.
Waspada dengan tombak sakti ditangan dan terjawab
kegundahan hatinya, dari arah depan datang segerombolan
babi rusa menghampiri sawahnya dan mereka berpesta
pora, makan dan merusak tanamannya. Kyai Singoprono
berfikir sejenak akan ditangkapnya babi rusa itu namun
karena banyak akhirnya diurungkan niat dan diteguhkan
hatinya untuk menyerang kawanan itu..
Kyai Singoprono mengendap-endap mendekati kawanan
babi rusa itu dan setelah mantap hatinya maka dibidikkanlah
tombak pusaka ditangan dan dilempar dan mengenai salah
satu babi rusa itu namun aneh bukannya roboh dan mati
tetapi terus berlari seperti tak terkena senjata tombak itu.
Oleh karena serangan yang tiba-tiba, kawanan babi rusa itu
terkejut dan tunggang langgang lari masuk kembali menuju
hutan.
Oleh karena tombak saktinya tertancap pada salah satu babi
rusa tersebut Kyai Singoprono terus mengejar berharap babi
rusa yang terkena tombaknya akan mati kehabisan tenaga.
Terus mengejar seakan ada kekuatan gaib merasuki diri
Kyai Singoprono sehingga mendapat kekuatan untuk berlari.
Setelah lama dikejar sampailah Kyai Singoprono ditengah
hutan dan sekoyong-koyong keadaan sekitar Kyai
Singoprono berubah menjadi alun-alun keraton dan
didepannya tampaklah istana keraton nan megah. Kyai
Singoprono merasa bahwa dirinya bermimpi dan dicubitnya
lengannya namun masih merasa sakit, Kyai Singoprono
berjalan mendekati istana tersebut lalu tampaklah prajurit
yang menjaga istana datang menghampirinya dengan
tergesa-gesa dan kemudian bertanya kepada prajurit
penjaga.
Penjaga tersebut bercerita bahwa puteri raja sedang sakit
keras dan telah diupayakan melalui berbagai cara dan
berbagai pengobatan namun tak kunjung sembuh dan Raja
telah membuat sayembara yang bunyinya barang siapa
yang bisa mengobati sakit sang puteri, bila laki-laki akan
dijadikan menantu dan apabila wanita akan dijadikan
saudara bagi puterinya. Mendengar cerita itu Kyai
Singoprono ingin mencoba mengobati penyakit sang puteri
raja. Setelah mendapatkan ijin Kyai Singoprono diantar
berjalan menuju ruang peristirahatan sang puteri, dan
setibanya disana terlihat keluarga raja sedang berduka dan
tak kuasa menahan tangis.
Dipersilahkan Kyai Singoprono mengobati sang puteri.
Setelah diraba dengan dibubuhi mantra Kyai Singoprono
menemukan pada pangkal paha sang puteri tertancap
tombak saktinya. Betapa terkejutnya Kyai Singoprono akan
hal itu namun disembunyikan perasaannya dan ia yakin
bahwa tombak saktinyalah yang menyebabkan sang puteri
sakit.
Benar adanya setelah tombak sakti tersebut dicabut dan
dimasukkan ke dalam kantong baju Kyai Singoprono secara
ajaib sebuhlah sang puteri dari sakitnya.
Sesuai dengan janji sang raja maka Kyai Singoprono
dijadikan menantu sang raja dan diadakan pesta yang
meriah dan entah kekuatan apa yang merasuki Kyai
Singoprono sehingga tidak ingat akan dirinya yang telah
memiliki isteri.
Hari demi hari berlalu dan mereka hidup rukun saling
mencintai dan tiba-tiba teringatlah Kyai Singoprono kepada
isterinya dan ingin pulang untuk menemui isteri yang telah
lama ia tinggalkan.
Maka Kyai Singoprono pamit untuk pergi mengembara untuk
waktu yang agak lama.
Setelah diijinkan berangkatlah Kyai Singoprono menuju ke
kampung halamannya, namun betapa terkejutnya setelah ia
bertemu orang-orang yang berteriak babi rusa dan
mengejarnya, begitulah seterusnya berulang kali sampai
suatu saat merasa lelah dan pulang kembali menuju
kerajaan sang puteri.
Kyai Singoprono berfikir sejenak dan memohon kepada
Tuhan agar diberikan petunjuk mengenai apa yang terjadi
pada dirinya.
Dan teringat pulalah pada pakaian yang ia kenakan pada
waktu mengejar babi rusa dan segera seperti mendapatkan
petunjuk saat itu juga dilepaskan pakaian barunya dan
dikenakannya kembali pakaian usangnya dan setelah itu ia
minta ijin lagi kepada isteri barunya untuk kembali pergi
meneruskan perjalanan, anehnya dalam perjalanannya Kyai
Singoprono tidak dikejar-kejar orang lagi dan tidak ada yang
meneraki babi rusa lagi.
Setelah berjalan seharian menjelang maghrib sampailah
Kyai Singoprono di tepi kampung halamannya dan beberapa
saat kemudian sampai di depan rumahnya namun terkejut
bukan kepalang karena sayup-sayup terdengar suara doa
yang dipanjatkan seperti bila ada orang yang mempunyai
hajat kenduri. Dengan perasaan yang kurang enak Kyai
Singoprono terus berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Begitu melihat Kyai Singoprono orang-orang yang tadinya
berdoa di dalam rumahnya berhamburan keluar dengan
wajah pucat pasi tak ada yang berani menatap Kyai
Singoprono dan perempuan-perempuan yang ada di dapur
tak ada yang bisa berlari karena kaki mereka seperti dipaku
ke tanah akibat melihat Kyai Singoprono. Segera Kyai
Singoprono menghampiri isterinya dan lama sekali mereka
berpandangan melepas rindu dan tanda tanya yang selama
ini menyelimuti kepergian Kyai Singoprono. Orang-orang
yang tadinya lari tunggang langgang pun memberanikan diri
kembali masuk ke dalam rumah dan ingin tahu kejadian apa
sebenarnya yang telah dialami oleh Kyai Singoprono. Ya,
kepergian Kyai Singoprono telah 3 tahun (1000 hari)
lamanya meninggalkan isterinya.
Semenjak saat itu menjadi tradisi bagi masyarakat sekitar
Simo dan Walen bahwa bila ada sanak keluarga yang hilang
setelah 3 tahun tidak pulang maka keluarga itu tidak
mengharapkan kembali atau dengan anggapan bahwa telah
meninggal dunia tetapi apabila kurang dari 3 tahun maka
keluarganya masih tetap mencari dan mengharapkan
kedatangan sanak keluarga yang hilang tersebut.
Kembali kepada Kyai Singoprono yang telah kembali kepada
kehidupan kesehariannya yang setelah mengalami kejadian
tersebut menjadi lebih tekun beribadah dan bertambah
taqwa kepada Yang Maha Kuasa. Cerita tentang Kyai
Singoprono yang telah menghilang selama 3 tahun tersebut
menjadi buah bibir tersebar sampai ke seluruh pelosok
negeri sampai ke Kerajaan Demak dan sang Sultan Demak
ingin bertemu dengan Kyai Singoprono dan ingin
mengetahui kesaktiannya apalagi saat itu Sultan memiliki
rencana untuk menaklukkan Raja Pengging. Akhirnya Sultan
Demak berangkat sendiri menyamar menjadi rakyat jelata
yang miskin dan dikawal pasukannya menuju kediaman Kyai
Singoprono di Desa Walen hal tersebut dilakukan agar Kyai
Singoprono tidak mengenal sang Sultan dengan pakaian
kebesarannya sebagai seorang raja. Setelah berjalan
berhari-hari sampailah Sultan Demak di sebuah desa yang
disitu tumbuh sebatang pohon duwet putih yang rindang dan
Sultan Demak ingin beristirahat barang sejenak dan
diperintahkannya beberapa prajuritnya untuk mencari
keterangan dimanakah rumah Kyai Singoprono, setelah
mendapatkan keterangan dari penduduk desa kembalilah
prajurit menemui sang Sultan dan meneruskan perjalanan
kembali menuju kediaman Kyai Singoprono. Sesampainya di
rumah Kyai Singoprono sang Sultan duduk di depan pintu
rumah sambil meminta sedekah. Saat itu Kyai Singoprono
sedang makan siang dan segera ditinggalkannya makanan
yang sedang disantapnya kemudian datang menghampiri
pengemis itu dan dipersilakan untuk masuk dan makan
bersamanya. Namun pengemis itu bertanya kepada Kyai
Singoprono mengapa seorang pengemis yang hina papa di
persilakan dan diperlakukan demikian? Jawab Kyai
Singoprono bahwa hal tersebut adalah tindakan yang biasa
dan harus dilakukan kepada siapapun juga tidak boleh
pandang bulu apalagi saya tahu bahwa anda bukan
pengemis dan anda adalah Sultan Demak yang sedang
menyamar menjadi seorang pengemis dan perlu
diperlakukan dengan hormat. Takjublah sang Sultan
mendengar hal tersebut dan mengambil kesimpulan bahwa
memang berita yang sang Sultan dengar selama ini
bukanlah isapan jempol semata, melainkan sebuah
kenyataan bahwa Kyai Singoprono adalah seorang yang arif
bijaksana baik dalam perkataan dan perbuatannya juga sakti
mandraguna, sampai-sampai sang Sultan terduduk di depan
Kyai Singoprono namun Kyai Singoprono menempatkan diri
sebagai rakyat biasa yang menghadap rajanya.
Kyai Singoprono dan sang Sultan terlibat dalam
pembicaraan yang panjang lebar dan disampaikan pula oleh
sang Sultan keinginannya untuk menaklukkan Kerajaan
Pengging dan telah disiapkan pasukan menuju ke Kerajaan
Pengging dan sekarang tengah beristirahat di sekitar pohon
duwet putih menunggu perintah sang Sultan, namun apa
yang menjadi keinginan sang Sultan tidak dikabulkan oleh
Kyai Singoprono dan apabila sang Sultan berperang akan
menemui kegagalan namun sang Sultan tetap pada
pendiriannya sehingga terus terjadi perdebatan diantara
mereka berdua. Setelah lama berdebat sang Sultan tetap
pada pendiriannya mengajukan syarat apabila Bende
pusaka Kyai Bercak yang tergantung dipohon duwet putih
tempat pasukan Kerajaan Demak dipukul dan mengeluarkan
bunyi keras maka Kyai Singoprono akan setuju tetapi
kebalikannya apabila bende pusaka yang tergantung
dipohon duwet putih tempat pasukan Kerajaan Demak
dipukul dan mengeluarkan bunyi tidak keras maka dia tidak
setuju dengan apa kehendak sang Sultan dan memohon
sang Sultan untuk kembali ke Kerajaan Demak beserta
pasukannya. Menanggapi perkataan Kyai Singoprono sang
Sultan pergi meninggalkan Kyai Singoprono menuju pohon
duwet putih (sekarang masih hidup dan terletak di sebelah
barat Kantor Kecamatan Simo, Boyolali) kemudian
memerintahkan kepada salah seorang prajuritnya untuk
memukul Bende Pusaka Kyai Bercak dan ternyata setelah
dipukul mengeluarkan bunyi hanya seperti harimau yang
mengaum. Suara itu terdengar sampai jauh dan
mengundang perhatian banyak orang karena memang di
daerah tersebut sering terdapat gangguan harimau.
Orang-orang di daerah itu lalu menuju arah dimana
datangnya suara tadi untuk mengejar harimau tersebut dan
sampailah orang banyak tersebut di tempat dimana pasukan
sang Sultan berhenti tepatnya dipohon duwet putih tempat
Bende pusaka Kyai Bercak dikaitkan diatasnya.
Berkatalah orang banyak tersebut tentang suara yang
mereka dengar datang dari arah tersebut lalu sang Sultan
sendiri datang menghampiri mereka dan berkata bahwa
suara tersebut bukan berasal dari harimau sesungguhnya
melainkan dari Bende Pusaka Kyai Bercak yang dipukul dan
mengeluarkan bunyi seperti auman seekor harimau dan
menyatakan kepada orang banyak tersebut bahwa besok
jika tempat menjadi sebuah desa maka dinamakan Desa
Simo, dan setelah berkata demikian orang banyak itu lalu
pulang ke rumah masing-masing dan setelah peristiwa itu
masyarakat menamakan daerah itu Desa Simo.

BENDARA KLIWON KACANGAN
Pada masa Kerajaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat
yang diperintah oleh Pakubuwono X, hidup seorang Kyai
yang sangat terkenal namanya di daerah Kerajaan
Surakarta, Kyai tersebut bernama Kyai Yahya.
Kemashyurannya di kalangan keluarga kerajaan
dikarenakan ilmunya yang tinggi, kejujuran dan akhlak yang
mulia, sepadan dengan kedudukannya sebagai seorang
pemimpin agama. Oleh karena hal-hal tersebut raja sangat
dekat dengan Kyai yahya apalagi telah ada pertalian antara
keluarga Raja dengan Keluarga Kyai Yahya yaitu
perkawinan antara kakak perempuan Raja PB. X dengan
putra Kyai Yahya yang bernama Ki. Gitadipura.
Kepercayaan raja terhadap Kyai Yahya mengantarkan Ki
Gitadipura diangkat menjadi Kliwon Kacangan yang
memang pada saat itu jabatan tersebut masih
kosong.Semula Raja PB. X telah memerintahkan agar Ki
Gitadipura agar berkedudukan di Desa Krajan (sekarang
daerah Karangmojo, Kecamatan Klego) tetapi oleh guru Ki
Gitadipura (Kyai Gethong yang bertempat tinggal di Ngawi
Jawa Timur) tidak diperbolehkan tetapi diharuskan
berkedudukan di desa sebelah timur Desa sumur Genthong
Kacangan.
Perintah sang guru dipatuhi dan mulailah Ki Gitadipura
mohon petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan
cara shalat isthikharah ditempat tersebut, dan memang
petunjuk Yang Kuasa menunjukkan bahwa Ki Gitadipura
harus berkedudukan di tempat tersebut. setelah itu mulailan
Ki Gitadipura menjalankan tugas sebagai Kliwon Kacangan
di tempat tersebut yang merupakan daerah yang sangat luas
mulai dari sebelah barat yaitu Sungai Boyoromo
(Karanggede), sebelah utara sampai dengan perbatasan
Juwangi, disebelah timur sampai dengan Sungai Bengawan
Solo (Tanon-Gabugan) dan sebelah selatan sampai dengan
Banyudana.
Ki Gitadipura adalah seseorang yang memiliki watak seperti
ayahnya, berjiwa besar, berakhlak mulia dan berbudi pekerti
luhur, bijaksana dalam memimpin dan sangat menyukai berriadlaha,
setiap hari senantiasa membaca Al-Quran. Dengan
keluarga yang cukup besar (pada jaman dahulu keluarga
raja biasa beristri lebih dari satu orang) yaitu beristri lima
orang yang menurunkan anak sejumlah sepuluh orang yang
kesemuanya dapat hidup dalam damai rukun dan sejahtera.
Selain jabatan sebagai seorang Kliwon, Ki Gitadipura juga
sangat dikenal sebagai sosok yang sering berda`wah yang
sudah merupakan atau menjadi bagian dari rencana
kepemimpinannya, hal seperti inilah yang membuat
nampaknya cahaya Islam di daerah Kacangan dan hal ini
mewarnai setiap gerak kehidupan masyarakatnya sehingga
tidak pernah terjadi kejahatan yang dinilai membahayakan.
Dengan mengajak serta sanak famili serta kerabat untuk
bermukim di Kacangan untuk membantu tugas-tugasnya
sesuai dengan kemahiran masing-masing membuat
usahanya berhasil dan tentu semuanya itu atas ijin dari
Kerajaan Surakarta.
Ki Gitadipura juga membangun tata ruang daerah Kacangan
lebih sempurna, pembuatan jalan raya yang tadinya melintas
di tengah Desa Kacangan dengan bentuk agak melengkung
busur diluruskan (seperti yang dapat di saksikan saat ini),
hal ini dimaksudkan untuk keamanan dan kenyamanan
pemakai jalan oleh sebab jalan tersebut melewati pasar
(pasar Kacangan lama berada di sebelah barat desa). Jalan
yang baru ini menerobos tanah pekuburan dan membaginya
dua (sekarang sebelah utara menjadi komplek perkantoran
dan sebelah selatan menjadi desa Magersari Wetan).
Tempat pendidikan pun didirikan berupa pondok pesantren
dan sampai saat ini masih berjalan. Adapun hasil yang
dirasakan adalah persatuan, kerukunan, suka bersedekah,
sebab menurut Ki Gitadipura hal-hal seperti itu akan
mendatangkan limpahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa
yang dapat menyelamatkan kehidupan baik dunia maupun
akhirat.
Singkat cerita pada saat itu Pemerintah Belanda yang
sedang mengusahakan tanah perkebunan, menggunakan
segala cara untuk meraih hasil dan keuntungan sebanyak
mungkin dan tidak segan-segan menggunakan politik adu
dombanya untuk memecah belah bangsa. Diceritakan
bahwa Belanda memiliki sebuah pabrik tepung tapioka yang
bertempat di Desa Sendang, pada mulanya hubungan
Bendara Kliwon Kacangan dengan penguasa pabrik tersebut
sangatlah baik, namun karena sesuatu hal hubungan
mereka merenggang, dan Belanda mulai meremehkan
kedudukannya sebagai seorang Bendara Kliwon Kacangan.
Hasutan belanda tidak sampai disitu saja sebab sudah
masuk ke istana namun pihak istana tidak terburu-buru
menanggapinya, namun lagi lagi kekuatan hasutan Belanda
sangatlah besar.
Bendara Kliwon Kacangan mengambil langkah tegas,
daripada mendapat jabatan selalu makan hati dan mengalah
kepada yang salah dan senantiasa menutup-nutupi
kebenaran maka Ki Gitadipura tidak pernah hadir dalam
setiap acara pisowanan (tidak mau menghadap raja secara
rutin untuk melaporkan tugas dan tanggung jawab yang
diembannya sambil membawa atau mengirimkan glondong
pangareng-areng), hal ini sebagai upaya Bendara Kliwon
Kacangan untuk mendapatkan perhatian pihak Kerajaan.
Namun apalah daya harapan Bendara Kliwon Kacangan
tidak terpenuhi, bahkan sepasukan kerajaan dan bala
tentara Belanda mendatangi rumah Bendara Kliwon
Kacangan dan mengusirnya bersama-sama keluarganya
dengan tanpa diperkenankan membawa barang miliknya
satupun dan yang boleh dibawa hanya pakaian yang
melekat di tubuhnya saja (lunga ngadeg), dengan penuh
kesabaran Bendara Kliwon Kacangan beserta keluarga
meninggalkan kacangan dan menetap di Cakran Surakarta
sampai akhir hayatnya.
Sepeninggal Bendara Kliwon Kacangan tempat tinggal
beserta pekarangannya dibagi-bagikan kepada masyarakat
pada tahun 1927, dan akhirnya menjadi tempat yang ramai
dan dinamai dukuh Magersari (artinya orang yang
bertempat tinggal dipekarangan orang lain) sedangkan
tempat kedudukan Kliwon (Desa Kliwonan) diberikan nama
Magersari Kulon, dan setelah adanya batas penganturan
wilayah maka sebelah utara jalan menjadi daerah Kelurahan
kacangan sedangkan sebelah selatan jalan menjadi daerah
kelurahan Mojo, dengan demikian Desa Magersari dan Desa
Kliwonan adalah bagian dari Kelurahan Mojo
GOA RAJA DAN TUK BABON
Di sebelah utara Pertilasan Pesanggrahan Ngendromarto,
Dukuh Ngaglik, Desa Samiran, Kecamatan Selo Kabupaten
Boyolali ada sebuah goa yang diberikan nama Goa Raja.
pada tahun 1824 M Keraton Kasunanan Surakarta
Hadiningrat diperintah oleh seorang raja bergelar sampeyan
Dalem Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan paku Buwono
VI yang benama asli Raden Mas Gusti Supardan. beliau
membuat Pesanggrahan Ngendromarto dan kemudian
beliau bertapa di sebuah goa ditemani dua orang abdi
kinasihnya yaitu kyai badhut dan Kyai Poleng. berhubung
lamanya beliau bertapa kedua abdinya tersebut mengilang
raganya (muksa) di goa tersebut. Menurut keyakinan
masyarakat setempat kedua abdi dalem tersebut masih
sering muncul dalam bentuk harimau putih dan harimau
kembang asem. Setelah SISKS VI dilanjutkan oleh SISKS
VII yaitu Raden Mas Gusti Malikis Salikin, kemudian oleh
SISKS VIII yaitu Raden Mas Gusti Kusen, kemudian oleh
SISKS IX yaitu Raden Mas Gusti Duksino dan PB X yaitu
Raden Mas Gusti Malikul Kusno. Beliau juga mencari air
untuk dilalirkan ke Pesanggrahan Ngendromarto dengan
cara ditalang dengan kayu jati yang diambil dari Donoloyo
sedangkan tuk (sumber, mata air) diberikan nama Tuk
Babon, sampai saat ini nama-nama tersebut masih
dipergunakan.
ASAL MULA NAMA GUNUNG TUGEL
Kyai Singoprono putera dari Kyai Ageng Wongsaprana II,
yang berdiam di Desa Manglen (sekarang Desa Manglen Kl.
Walen, Kecamatan Simo. Beliau adalah keturunan Raja
Majapahit (Brawijaya V) setelah wafat dimakamkan di
sebelah barat Desa Manglen. Kyai Singoprono adalah anak
tunggal, dan setelah berumah tangga tetap bertempat
tinggal disana.
Kyai Singoprono adalah sosok yang berbudi pekerti luhur,
suka menolong sesama dalam bentuk apapun dan sakti
mandraguna.
Pekerjaannya adalah bercocok tanam, berjualan nasi dan
dawet di pinggir di pinggir jalan ± 4 km dari rumahnya. Sifat
baik hatinya terlihat apabila orang membutuhkan
pertolongan walaupun tidak diminta sekalipun pasti akan
memberikan bantuan.
Makanan yang dijualnyapun tidak sekedar dijualnya namun
juga diberikan kepada orang yang membutuhkan dan hal
tersebut tidak membuatnya menjadi gulung tikar namun
terus bertambah dan bertambah keuntungan yang didapat.
Begitu pula dengan hasil sawah ladangnya yang setiap kali
panen pasti mendapatkan hasil yang berlimpah ruah
sehingga banyak orang yang datang untuk meminta, Kyai
Singopronopun memberi dengan tanpa mengharapkan
kembali.
Demikianlah kebaikan Kyai Singoprono tersebar keseluruh
daerah disekitarnya.
Tetapi tindakan yang terpuji tersebut tidaklah disukai oleh
seorang Kyai yang bernama Raga Runting.
Kyai Rogo Runting merasa iri dengan keberhasilan dan
kebaikan Kyai Singoprono yang selalu disebut-sebut dan
dipuji banyak orang.Sebenarnya Kyai Rogo Runting dan
Kyai Singoprono adalah berteman baik.
Pada suatu ketika Kyai Rogo Runting ingin menunjukkan
kesaktiannya pada Kyai Singoprono dengan mengaitkan
benang dari pegunungan Rogo Runting ke Selatan, yakni
sekarang Kl. Nglembu, Kecamatan Sambi.
Diatas benang tersebut diletakkan sebutir telur dan
kemudian digulirkan dan ajaib, telur tesebut menggelinding
diatas benang dan tidak jatuh dan terus menggelinding dan
akhirnya membentur Gunung sebelah selatan dengan
mengeluarkan suara keras menggelegar dan
mengakibatkan gunung tesebut tugel putus puncaknya, dan
hingga sekarang nama gunung tersebut disebut Gunung
Tugel.
Secara langsung Kyai Singoprono tahu bahwa kejadian
tersebut adalah sebagai alat untuk menunjukkan kesaktian
Kyai Rogo Runting namun Kyai Singoprono tidak tergerak
hatinya untuk membalas. Namun setelah di diamkan
sementara waktu Kyai Rogo Runting semakin menjadi-jadi
dan kemudian secara halus diiyakan oleh Kyai Singoprono,
hal tersebut ditanggapi oleh Kyai Raga Runting sebagai
balasan.
Oleh karena naik pitam oleh tindakan Kyai Raga Runtng
yang meresahkan akhirnya Kyai Singoprono juga
mengaitkan benang dari pegunungan Tugel ke utara, Diatas
benang tersebut juga diletakkan sebutir telur dan kemudian
digulirkan dan keajaiban terjadi juga, telur tesebut
menggelinding diatas benang dan tidak jatuh dan terus
menggelinding dan akhirnya membentur Pegunungan Rogo
Runting mengeluarkan suara keras menggelegar dan
mengakibatkan gunung tesebut.
Tidak nampak kerusakan namun tubuh Kyai Rogo Runting
(rontang ranting/ cerai berai).
Setelah itu Jasad Kyai Rogo Runting dimakamkan di
perbatasan Kecamatan Klego dan Kecamatan Simo,
sedangkan Kyai Singoprono dimakamkan di Gunung Tugel.
KALI CACING
Pada jaman dahulu kala ada seorang pemuda bernama
Joko Genthong yang tinggal di sebuah dusun. Gagah
perkasa elok parasnya. Setelah menginjak dewasa dia
merupakan satu-satunya anak yang menonjol di dusun itu.
Dia bersifat pemberani suka bertapa di tempat-tempat yang
sepi yang kata orang tempat tersebut berbahaya, angker
namun oleh Joko Genthong hal tersebut yang dia sukai.
Menurut pendapatnya tempat tersebut nyaman, aman dan
tenteram.
Makin lama nama Joko Gentong makin terkenal dan
dianggap sebagai seorang pemuda yang sakti. Perilakunya
yang sopan santun dan baik budinya menambah dia
semakin disukai baik kawan laki-laki maupun wanita. pada
suatu ketika terjadilah hal yang tidak diinginkan dan sangat
mengecewakan masyarakat sekitarnya. Perkelahian antara
seorang pemuda yang bertempat tinggal di Dusun Joko
Genthong dan seorang pemuda lagi tetangga dusun, pada
awalnya pertikaian bersifat pribadi dan menyangkut salah
paham saja namun akhirnya berkembang menjadi pertikaian
antar desa. Joko Genthong diam menunggu saat yang tepat
untuk campur tangan di dalamnya. Setelah pertikaian kian
menjadi Joko Genthong turun tangan dikarenakan dusunnya
hampir kewalahan dengan serangan peduduk dusun
seberang dan ternyata kemenangan gemilang dapat
diraihnya. Semenjak saat itu nama Joko Genthong makin
harum dan menjadi buah bibir di kalangan remaja putri dan
para orang tua sehingga ingin menjadikannya anak mantu,
bahkan para wanita banyak datang kerumah Joko Genthong
untuk menyampaikan maksud ingin menjadi isterinya
(ngunggah-unggahi) tetapi tidak seorangpun wanita yang
singgah dihatinya.
para wanita terus berdatangan kerumahnya namun hal ini
tiak membuathati joko Genthong menjadi gembira namun
sebaliknya menjadi murung dan pendiam, orang tua Joko
Genthong pun membujuk puteranya tersebut agar memilih
salah seorang wanita untuk dijadikan isteri, tetapi Joko
Genthong tetap pada pendiriannya, sementara ada gadis
yang mengancam kalau lamarannya tidak diterima maka
orang tua si gadis dan saudara-saudaranya akan memaksa
dan bila tidak berhasil Joko Genthong akan dibunuh.
Ancaman tersebut sampai di telinga, orang tua Joko
Genthong dan membuat mereka khawatir dan kembali
membujuk agar Joko Genthong menetapkan pilihannya.
Bujukan tesebut menambah kemurungan Joko Genthong
dan membuat dia berfikir untuk mencari jalan menghindari
para wanita tersebut, maka diputuskannya untuk bertapa ke
tempat yang sangat wingit (berbahaya) agar orang dusun
tidak ada yang berani datang menemuinya. Pada suatu
malam yang gelap dan turun hujan gerimis serta angin
bertiup sepoi-sepoi Joko Genthong dengan bulat tekad pergi
meninggalkan rumah tanpa memberitahukan kepergiannya.
Betapa terkejutnya orang tua Joko Genthong mengetahui
anaknya tidak ada di rumah, dan segeralah mereka
mencarinya di pelosok desa dan juga sampai ke desa-desa
disekitarnya namun tidak ada seorangpun yang tahu
keberadaan Joko Genthong. Semenjak saat itu pulalah
rumah Joko Genthong tidak didatangi lagi oleh para wanita
yang ingin menjadi isteri Joko Genthong.
Kembali pada keberadaan Joko Gentong yang telah
bersusah payah penuh dengan penderitaan melakukan
perjalanan itu dan berhenti di suatu tempat untuk bertapa,
dalam pertapaaannya dikisahkan tubuh Joko Genthong
sampai kurus kering, jika bergerak sangat sulit dan tidak
mempunyai tenaga. Ternyata kepergian Joko Genthong
tidak sendirian, dia diikuti oleh seorang wanita dan seorang
pengiring yang sakti mandraguna yang pada akhirnya berkat
ketabahan hati gadis ini, dapat menyusul Joko Genthong.
Betapa kagetnya sang gadis melihat pemuda pujaannya
sudah tak nampak lagi seperti dahulu, hanya diam cuma
sesekali tangan dan kakinya bergerak-gerak seperti cacing.
Melihat hal seperti ini menangislah sang gadis karena
keadaan tersebut dan berusaha membangunkan pertapa
agar mau mempersuntingnya. Karena tidak mendapatkan
jawaban maka sang gadispun jengkel dan marah dan
menyuruh pengiringnya yang sakti mandraguna tersebut
untuk membangunkan Joko Genthong untuk menuruti
kemauannya dan apabila gagal sang gadis meminta agar
Joko Genthong dibunuh saja.
Sejenak berfikir pengiring menerima perintah tuannya dan
merencanakan apa yang akan dia kerjakan. Karena melihat
tangan dan kaki Joko Genthong yang bergerak-gerak
seperti cacing maka pengikut sang gadis tadi berkata,
“Wong kok kaya cacing.” dan keanehanpun terjadi tubuh
Joko Genthong semakin lama semakin mengecil dan
menjadi cacing yang kemudian cacing tersebut bergerak
menuju bagian bawah batu dan menuju ke mata air dan
lenyaplah dari pandangan sang gadis dan pengikutnya.
Maka tersadarlah kedua orang tersebut akan takdir yang
telah menimpa Joko Genthong dan berkatalah pengiring
tersebut kepada sang gadis bahwa mata air tersebut
dinamai Kali Cacing dengan suatu harapan kelak
dikemudian hari sumber air tersebut dapat bermanfaat bagi
orang banyak. Karena mereka sudah kelelahan akhirnya
diputuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum
meneruskan perjalanan pulang. Terjadi keanehan lagi
setelah mandi sang gadis terlihat tambah cantik, segar dan
pulih kekuatan tubuhnya, namun yang terjadi pada si
pengiring menjadi kurus kering tinggal kulit pembalut tulang
yang kesemuanya itu akibat balasan dari Joko Genthong
karena telah dikutuk menjadi cacing dan kembali si pengiring
berkata, “Kali cacing hanya akan mengeluarkan airnya di
musim kemarau saja.” sesudah berkata demikian kedua
orang tersebut pulang dengan dua perasaan yang berbeda,
sang gadis merasa senang dan si pengiring merasa sedih
hatinya.
Akhir cerita terbukti bahwa sampai saat ini aliran kali cacing
hanya deras apabila saat musim kemarau dan sumber ini
dimanfaatkan penduduk untuk air minum dan untuk
kepentingan orang banyak lainnya. daerah tersebut
kemudian menjadi sebuah desa yang sejahtera dan
diberikan nama Kelurahan Kali Genthong (Kecamatan
Ampel)
KYAI PETRUK PENGHUNI GUNUNG MERAPI
Menuju ke arah sebelah barat Kota Boyolali sampailah kita
di Daerah yang bernama Kecamatan Cepogo, cerita tentang
Kyai Petruk sudah lama dikenal oleh masyarakat ditempat
tersebut. Siapakah sebenarnya yang dimaksud dengan Kyai
Petruk tersebut, nama Kyai Petruk yang kita kenal selama ini
adalah sebagai seorang tokoh dalam dunia pewayangan
atau abdi dari Satria Pandawa namun ternyata yang
dimaksud Kyai Petruk diatas bukanlah seperti yang telah
diuraikan dan tidak ada hubungannya dengan cerita tokoh
wulu cumbu (abdi) Raden Arjuna dalam pewayangan.
Semasa pemerintahan Kerajaan Majapahit (Prabu Brawijaya
terakhir) hampir berakhir karena terdesak oleh kekuasaan
puteranya sendiri yaitu Adipati Demak yang sebenarnya
antara Kerajaan Majapahit dan Demak telah ada
persetujuan perdamaian, meskipun demikian karena ada
salah seorang diantara keluarga atau keturunan Raja
Majapahit masih menganut keyakinan lama (Agama Hindu),
sedangkan penguasa baru Kerajaan Demak (Raden Patah)
beragama Islam maka seseorang keluarga atau keturunan
Raja Majapahit itu meneruskan keyakinannya dengan
menempati sebuah tempat baru yaitu dilereng sebelah timur
Gunung Merapi dan pemukiman baru ini dinamai dengan
Tegalsruni (sekarang masuk dalam wilayah Kecamatan
Selo).
Adapun yang paling dituakan dari keluarga tersebut adalah
benama Kyai Patradita yang menurunkan anak bernama
Kyai Mentawiji sampai pada akhirnya nanti Kyai Patradita
meninggal dan dimakamkan di Desa Tegalsruni, Kyai
Mentawiji menurunkan dua orang anak yakni yang pertama
Kyai Wirogati meninggal dan dimakamkan di Desa Bulu
(Kecamatan Selo), sedangkan anak yang kedua adalah Kyai
Wirodita. Kyai Wirodita menurunkan anak bernama Kyai
Reksayuda I (Kyai Dahlan), setelah Kyai Wirodita meninggal
ia dimakamkan di Desa Tunggulsari Kecamatan Cepogo.
Kyai Reksayuda I adalah seorang tokoh prajurit mataram
dengan nama pemberian dari Raja Mataram, Kyai
Reksayuda lalu mempersunting putrid dari Kyai Ragasasi
yang juga salah satu keturunan kerabat Kerajaan Mataram,
selanjutnya Kyai Reksayuda menurunkan empat orang anak
yaitu Kyai Reksayuda II, Kyai Prawirayuda, Kyai Wirayuda
dan Suladi dan Suladi inilah yang kemudian disebut dengan
nama lain dengan garis keturunan Handakakusuma ini
disebut dengan nama Mbah Petruk, mengapa ia dipanggil
dengan sebutan Mbah Petruk?
Badan tinggi atau jangkung membuatnya mendapatkan
julukan tersebut seperti tokoh Petruk dalam pewayangan.
Diceritakan bahwa Handakakusuma semasa kecil ikut
dengan saudara tuanya yakni Kyai Reksayuda II.
Handakakusuma memiliki sikap aneh lain sekali dengan sifat
dan perbuatan saudara-saudaranya yang lain, ia tidak suka
mandi bahkan tidak pernah mandi, tidak mau bekerja atau
membantu pekerjaaan orang tuanya yaitu bertani atau
menggembalakan ternak, suka bepergian tidak jelas arah,
maksud dan tujuannya dan terkadang kepergiannya sampai
berbulan-bulan, suka menyusuri Kali (sungai) Gandul mulai
dari hulu yaitu di daerah sidapeksa yang merupakan pangkal
dari Kali Gandul, namun ia memiliki kesaktian yaitu setiap
perkataan yang ia ucapkan selalu benar (titis dalam Bahasa
Jawa). Akibat dari kelakuannya yang aneh tersebut,
Handakakusuma kerap mendapatkan marah dari orang
tuanya yaitu Kyai Reksayuda namun Handakakusuma tidak
peduli dengan semuanya ia hanya mengikuti kata hatinya.
Pada suatu saat setelah Handakakusuma menjelang
dewasa, kakaknya Kyai Reksayuda II merencanakan
khitanan untuk sang adik dengan berbagai macam
kelengkapan sudah disiapkan termasuk didalamnya adalah
sepotong baju baru untuk upacara khitanan tersebut, barang
tentu sebagai syarat memakainya si pemakai haruslah
mandi terlebih dahulu dan hal tersebut adalah pantangan
bagi sang adik. Maka dengan susah payah Kyai Reksayuda
II berhasil membawa paksa sang adik ke Kali Gandul untuk
dimandikan. Namun apa yang terjadi pada diri
Handakakusuma setelah masuk ke air Kali Gandul? Tibatiba
ia lenyap dari pandangan mata semua keluarga yang
mengantarkannya.
Semua orang bingung mencari dan semua anggota keluarga
berusaha menemukan Handakakusuma kembali dengan
mencarinya di sepanjang Kali Gandul, bahkan sampai ke
tebing-tebing curam dicari mungkin ia ada disitu, tapi apa
daya Handakakusuma tetap tidak dapat ditemukan kembali.
Sangat sedihlah hati Kyai Reksayuda II karena rasa
kehilangan, segala cara termasuk selamatan diupayakan
agar sang adik bungsu tersebut dapat kembali namun tidak
membawa hasil. Teringat akan kelakuan sang adik yang
aneh dan hilangnyapun dengan cara yang tidak wajar.
Ketika Kyai Reksayuda II sedang merenungi nasib adiknya
tiba-tiba terdengar suara gaib demikian, “Kakang
Reksayuda, aja susah-susah ngupaya aku, aku wis ora
bakal kumpul maneh lawan kakang ing salawas-lawase.
Samengko aku dedunung mengkoni Gunung Merapi ana ing
alam kaalusan” (Kakak Reksayuda janganlah bersusah
payah mencari aku, aku sudah tidak bisa berkumpul lagi
dengan kakak untuk selama-lamanya. Sekarang aku berada
menguasai Gunung Merapi di alam gaib)…………”Dono
menawa kakang ketemu karo aku ana sarate, sesajia
wedang bubuk gula jawa lan jadah bakar, yen selametan
memulo aja lali tumpeng sega gunung panggang buta, lan
aja lali genepana sesajen pohung bakar. Yen ana pepeteng
atimu kakang, dalah satedhak turunmu uga sarana sesajen
iku, aku bakal rerewang bisaa oleh pitulungan pepadhang.”
(Kalau kakak ingin menemui aku ada syaratnya, sajikanlah
minuman kopi dengan gula jawa dan jadah bakar, kalau
selamatan kebaktian, jangan lupa tumpeng nasi jagung
dengan lauk tempe bungkil yang dibakar, dan jangan lupa
genapnya sesaji dengan ubi kayu yang dibakar. Apabila
kakak sedang dilanda kesusahan, demikian juga dengan
anak cucu kakak, dengan sesaji demikian, aku akan
membantu agar didalam kegelapan mendapatkan
pertolongan terang), maka berserahlah Kyai Reksayuda II
atas segala takdir yang menimpa adiknya karena yang
didengarnya baru saja memang suara adiknya-
Handakakusuma yang telah berada di alam gaib.
Pesan adiknya itu tengiang dan tertanam dalam benak sang
kakak meresap menjadi kepercayaaan sampai turun
temurun, setiap kali timbul masalah Kyai Reksayuda selalu
mengadakan sesaji seperti apa yang diberitahukan sang
adik. Kepercayaan tersebut akhirnya menyebar sampai
daerah Cepogo dan lereng Gunung Merapi bagian timur.
Sampai saat ini jika masyarakat sekitar wilayah tersebut
menyelenggarakan upacara penikahan, mendirikan rumah
dan sebagainya, orang tidak akan lupa untuk menyiapkan
sesaji seperti apa yang telah diuraikan diatas, hal ini
dilakukan semata-mata masyarakat yang bersangkutan ingin
agar mendapatkan pertolongan dari Kyai Petruk, yang
sekarang sudah menjadi penghuni alam gaib dan
memerintah makhluk halus Gunung Merapi.
Sebagai contoh beberapa cerita tentang kepercayaan
terhadap Kyai Petruk, pada waktu daerah cepogo masih
menjadi daerah Ondernening yang dikuasai oleh Belanda,
Ngabehi Singawerdaka mengadakan upacara sajian untuk
Kyai Petruk, namun Administratur Belanda tidak percaya,
menertawakannya, mencemoohnya bahkan menolaknya.
Kemudian Ngabehi Singawerdaka memohon petunjuk serta
nasehat kepada Kyai Petruk, tidak berselang lama terjadilah
banjir lahar dingin yang menghancurkan kebun Ondernening
tersebut, hingga memaksa penguasa Belanda saat itu
pindah dari wilayah Cepogo mencari tempat yang dianggap
aman. keajaiban lainnya yaitu pada waktu Ngabehi
Singawerdaka terjun dalam kancah peperangan pada jaman
geger Serang, atas permintaannya Kyai Petruk juga
membantu secara gaib sehingga memperoleh kemenangan
dengan gemilang. Kepercayaan masyarakat terhadap
keberadaan Kyai Petruk sebagai penguasa alam gaib di
Gunung Merapi tidak hanya sampai disini sebagai contoh
lagi pada saat terjadi kecelakaan pendakian Gunung Merapi,
seorang anak anggota regu pendakian sangat sulit
ditemukan, akhirnya seseorang yang masih keturunan Kyai
Petruk mengadakan upacara adat dan memohon untuk
dapat menemukan kembali pendaki tersebut. Regu
penolong kembali mencari dan korban dapat dengan mudah
ditemukan.
Hingga sekarang jika akan terjadi musibah akibat Gunung
Merapi, maka tempat yang akan terkena musibah tersebut
terlebih dahulu mendapatkan firasat atau pesan dari Kyai
Petruk dengan cara mendatangi salah seorang warga.
MAKAM KI HAJAR SALOKA
Makam Ki Hajar Saloka terletak di atas sebuat bukit
tepatnya di sebelah barat daya Lapangan Desa Samiran
Kecamatan Selo, Boyolali.
Konon pada jaman Kerajaan Majapahit, Ki Hajar Saloka
termasuk salah seorang senopatinya, saat menjelang
keruntuhan Majapahit Ki Hajar Saloka melarikan diri ke
gunung dan sampailah Ki Hajar Saloka di Gunung Kidul,
Wonosari dan mendirikan sebuah padepokan bernama
Padepokan Ki Ajar Saloka, kemudian melanjutkan
perjalanan ke pegunungan-pegunungan dan sampailah di
sebelah utara Gunung Merapi dan wafatlah beliau.
Keudian Ki Hajar Saloka dimakamkan di puncak bukit
tersebut dan menjadi cikal bakal makam tersebut. Keanehan
yang terjadi menurut cerita para sesepuh Ki Hajar Saloka
tidak mau pada nantinya pusara tempat ia nantinya
disemayamkan diberikan nisan, rumah (cungkup) namun
cukup gundukan tanah saja dan menyerupai tumpeng dan
keanehan lain pun terjadi walaupun cuma gundukan tanah
dari dahulu sampai dengan saat ini makam tersebut
tanahnya tidak pernah terkikis habis oleh air hujan.
MAKAM RADEN AYU BRONTO TELIH DK. MANCASAN, DESA KRASAK, KEC. TERAS, KAB. BOYOLALI
Sejarah singkat dari sesepuh Dk. Jering yang sudah meninggal dunia bahwa di Dukuh Kembang Lampir, Ds. Gumukrejo Kecamatan Teras sebelum Kerajaan Surakarta berdiri ada seorang tokoh bernama Ki Ageng Kembang Lampir. Ki Ageng Kembang Lampir mempunyai seorang anak bernama Raden Ayu Bronto Telih. Setelah menginjak usia dewasa Raden Ayu Bronto Telih hamil tanpa diketahui siapa yang telah menghamilinya, sehingga membuat Ki Ageng Kembang Lampir marah-marah dan malu terhadap warga karena anaknya hamil tanpa diketahui siapa ayah dari calon bayi yang dikandung Raden Ayu Bronto Telih. Karena takut akan kemarahan ayahnya Raden Ayu Bronto Telih secara diam-diam pergi dari rumah. Mengetahui anaknya pergi dari rumah, tersadarlah Ki Ageng Kembang Lampir timbul rasa sesal dan belas kasihan.
Setelah ditungu selama beberapa hari Raden Ayu Bronto Telih tidak kunjung pulang, Ki Ageng menyuruh warga agar mencari anaknya, namun tidak menemui hasil. Alkisah di Dukuh Kembang Lampir ada seorang pencari burung dengan senjatanya berupa tulup (berupa buluh panjang yang berfungsi sebagai pelontar semacam peluru dengan cara ditiup) sedang berburu burung, kebetulan si pencari burung melihat ada seekor burung perkutut hinggap di sekitar rumah Ki Ageng Kembang Lampir namun ketika hendak ditangkap burung tersebut terbang menjauh dan selalu begitu ketika hendak ditangkap terbang kearah barat laut, pada akhirnya sampailah pengejarannya disebuah punthukan (bukit kecil) dan burung perkutut tersebut hinggap pada dahan pohon serut, si pencari burung terheran-heran karena setelah dicari-cari tidak ditemukannya burung perkutut itu namun betapa terkejutnya si pencari burung mendapati sesosok bayi yang baru saja lahir dan perempuan dengan kondisi setelah melahirkan tetapi sudah
tidak bernyawa, setelah dia mendekat si pencari burung mengenali sosok tersebut yang tidak lain adalah Raden Ayu Bronto Telih anak Ki Ageng Kembang Lampir yang selama ini dicari-cari keberadaannya. Lalu pencari burung tersebut membawa pulang jabang bayi tersebut ke rumah Ki Ageng Kembang Lampir serta membawa kabar berita bahwa Raden Ayu Bronto Telih telah meninggal dundia. Singkat cerita Ki Ageng Kembang Lampir kemudian membawa jasad Raden Ayu Bronto Telih dan dimakamkan di puntuk / gumuk yang kemudian diberikan nama Gumuk Selo Bentar yang sampai saat ini oleh masyarakat Dukuh Jering dan sekitarnya dikeramatkan dan setiap hari Selasa dan Jumat berdatangan masyarakat untuk berziarah, berdoa, memohon berkah di Makam Raden Ayu Bronto Telih. Setiap bulan Ruwah diadakan pula ditempat ini acara ritual Sadranan. Dengan panorama Padas Gilik (tebing berketinggian ± 20m) dan pemandangan alam disekitar bantaran Sungai butak menambah keasrian tempat ini menunggu dikembangkan menjadi salah satu obyek tujuan wisata.

PERTAPAAN GUWO KRINCING
Konon kabarnya, daerah Dukuh Ngumik-Banyurip Desa Gunungsari pernah menjadi bawahan kerajaan Jenggolo, yang diperintah oleh seorang raja bernama Raden Panji Kesumo, yang beristerikan Puteri Limaran yang saat itu sedang mengandung dan Raden Panji Kesumo sedang berkelana Puteri Limaran di istana bersama para abdinya. Pada suatu hari datanglah seorang puteri yang mempunyai maksud jahat bernama Werda Werdi, yang sebenarnya dia menginginkan diperistri oleh Raden Panji Kesumo namun keinginannya tersebut tidak tercapai. Pada saat itu ia memaksa puteri Limaran untuk diperiksa kandungannya dan memaksa bayi yang ada dalam kandungan Puteri Limaran untuk dilahirkan secara paksa (dipelothot) dan ternyata bayi yang lahir kembar dan diberikan nama si Ombak dan si Umbul, oleh Werda Werdi kedua anak tersebut dibuang ketengah hutan dan diganti dengan dua ekor anak anjing. Betapa terkejutnya Raden Panji Kesumo sepulangnya dari berkelana mendapatkan kabar bahwa isterinya yang cantik melahirkan dua ekor anak anjing, dan marahlah Raden Panji Kesumo dan tanpa pikir panjang pula memerintahkan seorang abdi dalem untuk membunuh Puteri Limaran di sebuah hutan. Sesampainya di hutan puteri Limaran tidak segera dibunuh oleh abdi dalem tersebut dikarenakan tidak tega namun setelah didesak oleh sang puteri akhirnya dibunuhlah Puteri Limaran dan dikuburkan bersama bakul nasi bekalnya dengan diatas pusaranya ditanam pohon Pisang Cici. Alkisah si Ombak dan si Umbul yang dibuang di tengah hutan diambil dan dipelihara oleh Kaki dan Nyai Bolo Ijo, mereka dipelihara dengan baik, namun maksudnya mereka pada nantinya akan dimakan oleh Kaki Bolo Ijo. Pada suatu saat si Ombak dan si Umbul dinasehati oleh Nyai Bolo Ijo agar meninggalkan tempat tersebut karena mereka akan dimakan oleh Kaki Bolo Ijo, dan mereka mencari saat yang tepat. Pada waktu Kaki dan Nyai Bolo Ijo pergi ke pasar, mereka cepat-cepat meninggalkan tempat itu, setelah lama berjalan dengan berhati-hati sampailah mereka di sebuah hutan yang sangat lebat, dan disitu Si Umbul merasa haus dan minta minum kepada si Ombak padahal tempat tersebut tidak terdapat mata airnya, akhirnya si umbul disuruh minum air kecil si Umbul, tetapi rasanya pahit. Tiba-tiba si Ombak tahu bahwa ada pohon pisang besar tumbuh di dekat tempat mereka tadi, maka diajaklah si Umbul mendekati pohon pisang tersebut dengan maksud hendak memotong untuk diserap airnya sebagai penahan rasa haus, namun tak kunjung hilang rasa hausnya dan mereka memutuskan untuk memotong pohon pisang yang besar tadi, tetapi terdengar suara, “Siapa itu seperti anakku si Umbul dan si Ombak.” mendengar suara itu mereka lari ketakutan namun kata suara itu lagi, “Jangan takut anakku, aku adalah ibumu , Puteri Limaran, cepat bongkar, dan keluarkan ibu dari liang kubur dibawah pohon pisang cici ini.” Ternyata setelah keluar dari kubur keadaan Puteri Limaran masih terlihat segar, masih utuh, demikian juga pohon kencana yang ia bawa serta bakul nasi serta nasinya masih enak saat mereka makan. Dikisahkan ketika si Umbul dan si Ombak sedang bermainmain ada seekor burung gagak yang membawa telur ayam, dan telur tersebut dijatuhkan pada mereka dan mereka merawat telur tersebut, ditutupi dan menetas menjadi seekor ayam jantan kemudian diberikan nama kepada ayam tersebut Cindelaras pada saat itu si Ombak sudah berganti nama menjadi Raden Panji Putra. Raden Panji Putro kemudian menantang Raden Panji Kesumo menyabung ayam dengan taruhan Kepala Raden Panji Putra pada pihak Raden Panji Putra dan isi dari Kerajaan Jenggala untuk pihak Raden Panji Kesuma yang pada pertarungan tersebut dimenangkan oleh Raden Panji Putra dan jago Cindelaras lari ke dapur istana dimana mata Puteri Limaran disimpan dan diambilnya serta dibawa pulang. Sesampainya dirumah mata tersebut dicuci di bokor kencana selanjutnya dipasangkan kembali pada Puteri Limaran dan akhirnya dapat melihat kembali. Raden Panji Putra mendapatkan hadiah berupa rakyat jenggala. Raden Panji Kesuma menyuruh abdi dalem untuk mencari dan membunuh Werda Werdi dan pergi mencari Puteri Limaran namun setelah bertemu Raden Panji Kesuma tidak diterima. Kemudian Raden Panji Kesuma memutuskan untuk bertapa di pertapaan Baturetno (Guwo Krincing, Gunungsari). Karena merasa kasihan akan Raden Panji Kesuma yang telah lama pergi bertapa, Puteri Limaran akhirnya menyuruh anaknya untuk mencari Raden Panji Kesuma. Setelah berkumpul kembali mereka mendirikan padepokan di Dhadap Ayam (terletak disebelah barat laut Desa Gunungsari). Setelah Raden Panji Kesuma meninggal Puteri
Limaran menjadi janda dan mendapat sebutan Mbok Rondo Sembego, dan kotoran ayam jantan Cindelaras dinamakan Curi Butha yang sekatang letaknya di sebelah barat pasar Dhadapayam.




RADEN TUMENGGUNG PRAWIRODIGDOYO
Lahir kurang lebih pada tahun 1780 sebagai anak kedua dari
Raden Ngabehi Surotaruno III yang merupakan keturunan
dari ayah garis keenam dari I.S.K.S. Amangkurat Agung,
(Tegal) keturunan dari Pangeran Notobroto I, Ibu garis
keempat dari I.S.K.S. Pakubuwono I (Pangeran Puger) dari
B.P.H. Puruboyo (Lumajang).
Raden Tumenggung Prawirodigdoyo dibesarkan di daerah
Gagatan dan semenjak masih kecil telah memiliki kelebihan
dibandingkan dengan teman-teman sebayanya sebagai
contoh pada waktu menginjak usia 8 tahun, Raden
Tumenggung Prawirodigdoyo telah bisa menaiki kuda dan
hari-demi hari teman-teman sepermainannya semakin
sayang dengannya.
Gagatan merupakan dukuh di kaki pegunungan Kendeng
terletak ditepi sungai ketoyan (Wonosegoro), sedangkan arti
gagatan sendiri ada bermacam-macam yaitu dari kata gagat
yang bermakna pagi-pagi benar atau sebelum matahari
terbit, ettapi jika dibaca dengan menggunakan aksara jawa
maka gagat sendiri adalah berarti kuat sekali yang memiliki
makna apabila beradu kekuatan sampai titik darah
penghabisan (dilabuhi pecahing dada, wutahing ludira), jika
dipisah suku kata gagatan akan menjadi dua kata yang
bermakna lain yaitu gaga (padi yang ditanan di ladang) dan
ketan (padi ketan).
Di Gagatan jika kita berkunjung kesana maka akan kita
jumpai gundukan tanah yang menurut cerita terdapat dua
versi yang pertama adalah makam Kyai Berah atau Dinrah
(yang berasal dari kata modin dan lurah) yang kediua
menurut K.R.M. Mloyosunaryo gundukan tersebut adalah
bekas galian tanah tempat bertapa pendem I.S.K.S
Pakubuwono VI bersama-sama dengan Raden Tumenggung
Prawirodidoyo yang memberikan ilmunya berupa Ajidipa
dan membuat sumpah untuk memerangi penjajah Belanda.
Penjajahan Belanda kian hari menjadi kian kejam, dan hal ini
juga dirasakan didaerah Gagatan, sebelum
pecah perang Diponegoro telah banyak persekutuan antara
penguasa daerah menentang penjajahan Belanda.
Menurut cerita, Raden Tumenggung Prawirodidoyo memiliki
pasukan sejumlah 6000 orang dengan bersenjatakan
tombak, pedang, bandil dan empat buah pucuk meriam dan
memiliki sebuah pusaka yang berupa sebuah kentongan
pemberian dari Kyai Gunung Merbabu dengan khasiat
apabila dipukul satu kali dapat terdengar diseluruh
Kabupaten, rakyat yang mendengarnya akan siap siaga dan
apabila dipukul dua kali maka bagi yang tidur akan bangun
semua dan siap siaga dan yang takut menjadi pemberani,
jika dipukul tiga kali, semuanya akan berangkat ke Gagatan
dengan senjata lengkap. Hal tersebut ternyata diketahui oleh
pihak Belanda dan ditulis dalam buku De Java Oorlog jilid I
halaman 362.
Kegigihan Raden Tumenggung Prawirodidoyo dan I.S.K.S
Pakubuwono VI dalam menumpas Belanda digambarkan
sebagai seorang yang naik kuda yang baru ditangkap dari
hutan dan terus dinaiki sampai di kancah peperangan,
sedangkan I.S.K.S Pakubuwono VI digambarkan sebagai
seekor harimau buas yang ditusuk-tusuk oleh tombak.
R.T. Prawirodigdoyo didampingi oleh Kyai singomanjat
Imam Rozi, Kyai Singolodra Umar Sidig dan Kyai Suhodo
Som dan Kyai Singoyudo pada tahun 1827 mengadakan
peperangan di Desa Klengkong dan pihak belanda yang
waktu itu dipimpin oleh Mayor Has, Kapten Win dan Regel
dan senopati dari Mataram antara lain B.P.H Murdaningrat,
B.P.H Hadiwinoto, B.P.H. Hadiwijoyo dan R.T Nitinegoro
bertempur dengan hebatnya, terlihat bahwa kekuatan kedua
kubu seimbang dan seorang dari prajurit yang ada di
Klengkong yang berpakaian celana bludru biru dengan baju
tretes dengan srempang kuning emas besar dan bertopi
bundar besar (songkok) yang tidak lain adalah telah terjatuh
dari kudanya setelah terkena peluru meriam, namun masih
dapat diselamatkan oleh para prajurit dan dibawa ke Desa
Kedung Gubah dan dirawat oleh R.A. Sumirah selama 15
hari dan tepatnya sampai pada malam Jumat Pon tanggal
30 Nopember 1827 gugur karena luka dalam yang
dideritanya. sebelum meninggal Raden Tumenggung
Prawirodidoyo berpesan agar nanti jasadnya dimakamkan di
dekat makam gurunya Seh Kalikojipang di makam Blunyah
Gede dan saat nanti agar Pangeran Diponegoro serta
senopati-senopati yang ada supaya lebih berhati-hati sebab
sekembalinya setelah berpesan demikian Raden
Tumenggung Prawirodidoyo menghembuskan nafas terahir
disaksikan oleh Pangeran Diponegoro, Kyai Mojo, dan R.A.
Sumirah dan seperti pesan terahir yang disampaikan Raden
Tumenggung Prawirodidoyo dimakamkan di Makam Bluyah
Gede.








TERJADINYA DUKUH WATU BENGKAH, SUCEN DAN
KEDUNGLENGKONG
Konon pada dahulu kala Sultan Demak pernah mengirimkan
utusan ke Pengging, karena Adipati Pengging yaitu
Kebokenanga telah sekian lama tidak menghadap ke
Kerajaan Demak berarti telah melalaikan kewajibannya.
Dikisahkan bahwa utusan yang pertama gagal kemudian
diteruskan dengan utusan keduapun gagal pula pada
akhirnya Sutan Demak mengutus Sunan Kudus sebagai
utusan terakhir untuk menyelesaikan persoalan. Sunan
Kudus pun berangkat menyanggupi perintah Sultan beserta
para sahabatnya dan prajurit pilihan secukupnya menuju
Pengging. Suatu hari menjelang lohor Sunan Kudus telah
sampai di Pegunungan Kendeng dan memerintahkan para
sahabat dan pengikutnya beristirahat untuk sholat namun
tidak menemukan air untuk wudlu, kemudian Sunan Kudus
mengajak para pengikutnya untuk shalat bersama dan
memohon kepada Tuhan agar diberikan air untuk wudlu,
setelah selesai shalat Sunan Kudus menancapkan
tongkatnya pada sebuah batu dan memancarlah mata air
yang melimpah keluar dari bekas tongkat Sunan Kudus.
Setelah selesai shalat, tampaklah dari kejauhan dua orang
datang menghampiri rombongan Sunan Kudus, dan segera
Sunan Kudus menanyai darimana mereka berasal, jawab
mereka embel dan agung . Atas kehendak Sunan Kudus
kedua patah kata tersebut dijadikan sebuah kata untuk
menamai tempat tersebut dan berpesan bahwa tempat
tersebut akan ramai dihuni oleh manusia agar kelak dinamai
Desa Blagung (sampai sekarang nama tersebut masih
dipakai –kelurahan Blagung terletak disebelah timur
kelurahan Kedunglengkong). Selanjutnya kedua orang tadi
diberikan bekal ajaran agama dan amal perbuatan yang baik
sehingga berguna bagi kehidupan dunia akhirat, mereka
berjanji akan melaksanakan petuah Sunan Kudus dengan
sebaik-baiknya, oleh karena kedua orang tersebut sudah
langsung diangkat sebagai murid (putut dalam Bahasa
Jawa) dan mereka diminta menjadi saksi bahwa pada waktu
Sunan Kudus dan Rombongan akan menunaikan ibadah
shalat tadi mengalami kesulitan untuk mendapatkan air
untuk wudlu namun atas berkat Tuhan hal tersebut dapat
diatasi.
Sunan Kudus kembali berpesan pada kedua orang tersebut
apabila kelak kemudian hari tempat tersebut menjadi desa
maka dinamakan Desa Sucen (artinya tempat untuk
menyucikan diri atau berwudlu) sedangkan untuk sumber
mata air tersebut dinamakan Sumber Putut. Di dalam
perjalanan kembali Sunan Kudus banyak melihat Batu
banyak sekali dan bentuknya terbelah-belah dan kembali
Sunan Kudus berpesan bahwa kelak agar tempat tersebut
dinamakan Watubongkah (batu terbelah), dan terakhir
sebelum kembali meneruskan perjalanan menuju Kadipaten
Pengging, Sunan Kudus mengajak untuk melihat ke arah
selatan, dikejauhan terlihat sungai berkelok-kelok dan
terdapat sebuah tempat dimana air tersebut berkumpul dan
dalam, disebut dalam Bahasa Jawa kedhung maka
berpesanlah Sunan Kudus kembali bahwa jika kelak tempat
tersebut dinamai dengan Kedhunglengkong.





TERJADINYA DUSUN POJOK & PETILASAN KYAI KEBO
KANIGORO
Pada jaman Kerajaan Demak dahulu Sultan Demak dan
Wali Songo menganggap kalau Syeh Siti Jenar adalah
orang yang berbahaya, Syeh Siti Jenar bersama-sama
dengan para pengikutnya harus ditangkap dan dihukum
mati. Kyai Ageng Kebo Kanigoro adalah murid dari Kyai
Ageng Pengging dan Kyai Ageng Pengging adalah murid
dari Syeh Siti Jenar. Seperti yang telah diceritakan tadi
bahwa mereka telah menjadi buruan keraton dan akan
ditangkap dan dihukum mati sebab telah menganut ajaran
Syeh Siti Jenar. Maka dari itu Kyai Ageng Kebo Kanigoro
beserta para pengikutnya yang setia melarikan diri
kemanapuin juga untuk mencari tempat bersembunyi. Dalam
pelariannya suatu ketika Kyai Ageng Kebo Kanigoro telah
sampai di sebelah utara lereng Gunung Merapi dan dalam
keadaan terpojok oleh karena kejaran prajurit Kerajaan
Demak. Didaerah tersebut Kyai Ageng Kebo Kanigoro
membangun rumah guna tempat persembunyian dan
mengajarkan ilmunya dan mengadakan tapa brata mohon
perlindungan Tuhan Yang Maha Esa, yang mana selama ini
Kyai Ageng Kebo Kanigoro selalu berpindah-pindah tempat.
Suatu ketiaka Kyai Ageng Kebo Kanigoro berkata bahwa
bila suatu saat tempat ini ramai dihuni oleh orang maka
tempat ini diberikan nama Dusun Pojok (sampai saat ini
tempat kediaman Kyai Ageng Kebo Kanigoro masih
dilestarikan dan utuh, dikeramatkan dan nama daerah
tersebut tetap Dusun Pojok sampa saat ini, menurut cerita
Kyai Ageng Kebo Kanigoro muksa – menghilang dengan
raganya – dalam upaya menghindar dari kejaran musuh).
Setiap hari Jumat Legi diselenggarakan selamatan apem
dan ketan ditempat tersebut (petilasan Kyai Ageng Kebo
Kanigoro) dipimpin oleh juru kunci.
TOKOH KYAI KASAN BURHAN DAN KYAI KASAN
MUNANDAR
Kyai Kasan Burhan dan Kyai Kasan Munandar terkenal
sebagai pembela rakyat banyak, mereka adalah kakak
beradik sekandung dikenal sebagai tokoh mayarakat Simo
dan Sekitarnya sebab mereka dengan gagah berani
menentang penjajah Belanda yang ingin memperdaya
masyarakat dengan mengusahakan perkebunan kopi, karet
dan coklat. Mereka berdua tidak takut diancam dengan
hukuman apapun dengan kesaktiannya yaitu tidak mempan
terhadap senjata apapun, namun mereka tidak sombong
dengan kesaktiannya tersebut semakin mereka disegani dan
ditakuti oleh lawan maupun kawan.
Kyai Kasan Burhan tinggal di Dukuh Kalurahan Petranwates,
Onder Distrik (sekarang kalurahan) Tari-Tari (sekarang
merupakan dusun di wilayah Kalurahan Sumber Kecamatan
Simo), Distrik (sekarang Kecamatan) Sawahan, sedangkan
Kyai Munandar bertempat tinggal di Dukuh Cilik Kalurahan
Blagung, Onder Distrik Tari, Distrik Sawahan. Mereka
berdua adalah petani yang rajin mengerjakan sawah dan
ladangnya taqwa dan taat beribadah senantiasa bertindak
jujur dan hal inilah yang tidak disukai oleh Belanda pada
waktu itu.
Sebelum tahun 1916 Kasunanan Surakarta menjual
tanahnya yang terletak di daerah Gunung Kendeng bagian
selatan kepada perusahaan Belanda selama 75 tahun dan
menurut perjanjian perusahaan Belanda berhak pula
memerintah kepada siapapun yang menghuni tanah
beliannya tersebut. Rakyat sangat menderita akan hal
tersebut betapa tidak, saat itu terdapat dua kekuasaan yaitu
Kerajaan (Kasunanan) dan Pemerintah Belanda betapa
tidak sebagai contoh rakyat Plandan diperintah oleh dua
penguasa sekaligus yang berarti mereka harus bekerja
untuk dua kepentingan sekaligus, yang kedua adalah rakyat
Krajan yang diperintah oleh satu penguasa yaitu raja. Kedua
wilayah tersebut sama sekali menderita rakyatnya oleh
karena kedua penguasa yang tamak tersebut. Petani yang
bekerja penuh pada perkebunan Belanda digaji dengan
tanah untuk diolah, namun kenyataannya tanah gaji tersebut
juga dimanfaatkan oleh pihak Belanda dan masih pula
perusahaan belanda membuat aturan bahwa tanah tersebut
tidak boleh ditanami selain tanaman yang diperbolehkan
pihak perusahaan Belanda, padahal bagi para petani karena
kurangnya waktu karena mengerjakan dua lahan sekaligus,
tanah gaji tersebut digarap untuk tanaman pangan saja dan
dikerjakan pada malam hari menggunakan obor.
Pada saat ini kita masih dapat menyaksikan bekas-bekas
bangunan perkebunan milik Belanda antara lain di
Karangjati terdapat bekas penjagaan dan gudang untuk
menyimpan hasil perkebunan, Jaha tempat untuk
membersihkan bekas getah karet, di Loning terdapat tempat
untuk menampung getah karet, kopi dan coklat, dan di
temon dibangun gudang untuk menyimpan dan menampung
getah karet kopi dan coklat, dari tempat-tempat tersebut
dikumpulkan menjadi satu di Karangjati dan kemudian
dibawa ke Surakarta dan akhirnya dikirim ke Negara
Belanda.
Kembali kepada Kyai Munandar dan Kyai Burhan yang
memberanikan diri untuk mempengaruhi rakyat Plandan
agar mogok dan tidak mau bekerja lagi, pada awalnya pada
hari hari tertentu saja yaitu Selasa dan Kamis dan kemudian
ditambah hari Jumat. pihak Belanda yang kuwalahan
dengan situasi tersebut berusaha mendekati Kyai Kasan
Burhan dan Kyai Kasan Munandar dengan dalih mereka
akan diberikan gaji dan pangkat yang tinggi apabila mau
bekerja di perusahaan Belanda dan akan dibuatkan masjid,
namun keduanya menolak tawaran Belanda tersebut dan
menyatakan bahwa rejeki, pangkat dan kedudukan itu
datang dari Tuhan semata.
Dan perlawanan rakyat atas pimpinan Kyai Kasan Burhan
dan Kyai Kasan Munandar terus menyala-nyala dan
mengakibatkan perusahaan Belanda mengalami kerugian
besar akibat tidak ada lagi rakyat yang mau bekerja lagi
diperkebunan milik Belanda (karena kesal dengan ulah
kedua kyai tersebut, sampai-sampai pimpinan perkebunan
menamai kedua peliharaannya yang berupa anjing, burhan
dan munandar). Pada suatu saat kedua Kyai dan para
rakyat dikumpulkan oleh pihak Belanda di kantor
kaonderan (sekarang kantor kecamatan) untuk diberikan
peringatan sekaligus diberitahukan bahwa jika mau bekerja
lagi rakyat akan diberikan upah yang lebih layak, namun hal
tersebut lagi-lagi ditanggapi dengan sebelah mata dan hal ini
menyulut ketegangan pada kedua belah pihak dan terjadilah
pergolakan, perintah penangkapan terhadap sumber
pertikaianpun (yang tak lain adalah Kyai Kasan Burhan dan
Kyai Kasan Munandar) dipropagandakan, rakyat membela
mereka berdua dengan menyembunyikannya, namun
karena tipu mulihat dan kelicikan Belanda kedua Kyai
berhasil ditangkap dengan cara menyuap orang terdekatnya.
Setelah ditangkap Kyai Kasan Burhan dan Kyai Kasan
Munandar dibawa menuju Boyolali (kabupaten)
menggunakan kendaraan bermotor dan terjadi keanehan,
setiap menempuh satu dua kilometer ban kendaraan yang
ditumpangi kedua kyai tersebut meletus dan terjadi berulang
kali sampai di Cinot (sebelah selatan Kaliyoso) diketahui
bahwa di dalam ikat kepala salah seorang kyai ditemukan
jimat (benda bertuah).
Pada akhirnya setelah melalui proses peradilan Kyai Kasan
Burhan dan Kyai Kasan Munandar dihukum terpisah, Kyai
Kasan Burhan dihukum di Boyolali dan setelah meninggal
dimakamkan di Dukuh Patran, Kelurahan Wates, Kecamatan
Simo sedangkan Kyai Kasan Munandar dibuang ke
Sumatera Selatan dan meninggal dan dimakamkan disana.
Peninggalan Kyai Kasan Burhan berupa sebuah masjid
begitu pula Kyai Kasan Munandar juga sebuah bangunan
masjid yang berada di dukuh Cilak, Kelurahan Blagung,
Kecamatan Simo.
UPACARA SADRANAN
Banyak orang berpendapat bahwa orang Jawa pada
khususnya yang hidup di pedesaan atau yang tinggal di
daerah lereng pegunungan tidak dapat menghilangkan adat
istiadat atau tradisi yang telah dilakukan oleh para
leluhurnya, salah satu dari tradisi tersebut adalah Upacara
Tradisional Sadranan yang pada intinya mendoakan arwah
para leluhur yang telah meninggal dunia supaya arwahnya
diterima disisi Tuhan Yang Maha Esa. Adapun
pelaksanaannya ada yang di pekuburan dan ada pula yang
dirumah sesepuh kampung dengan membawa hidangan
atau makanan beraneka ragam.
Yang paling utama dari Upacara Tradisional Sadranan
adalah pembacaan doa Yaasin dan Tahlil Zikir bersamasama.
Maka setiap bulan Ruwah tanggal 15 sampai dengan
menjelang bulan puasa, secara bergantian dari kampung ke
kampung mengadakan Upacara Tradisional Sadranan
tersebut. Dan yang mengherankan dari tradisi ini adalah
semua masyarakat datang berbondong-bondong untuk
bersilaturahmi dan menjalin persaudaraan dengan saling
mengunjungi rumah per rumah dengan menyantap hidangan
yang disajikan. Maksud dan tujuan lainnya yaitu ikut ngalap
berkah kepada para leluhur yang telah meninggal dunia.
Kuatnya nilai-nilai tradisi pada masyarakat yang masih
menjalankannya tersebut didasari keyakinan bahwa setelah
Upacara Tradisional Sadranan tersebut dilaksanakan maka
dalam bekerja untuk mencari nafkah akan diberikan
kelancaran dan kemudahan.
UPACARA SADRANAN CEPOGO
Banyak orang berpendapat bahwa orang Jawa pada
khususnya yang hidup di pedesaan atau yang tinggal di
daerah lereng pegunungan tidak dapat menghilangkan adat
istiadat atau tradisi yang telah dilakukan oleh para
leluhurnya, salah satu dari tradisi tersebut adalah Upacara
Tradisional Sadranan yang pada intinya mendoakan arwah
para leluhur yang telah meninggal dunia supaya arwahnya
diterima disisi Tuhan Yang Maha Esa. Adapun
pelaksanaannya ada yang di pekuburan dan ada pula yang
dirumah sesepuh kampung dengan membawa hidangan
atau makanan beraneka ragam.
Yang paling utama dari Upacara Tradisional Sadranan
adalah pembacaan doa Yaasin dan Tahlil Zikir bersamasama.
Maka setiap bulan Ruwah tanggal 15 sampai dengan
menjelang bulan puasa, secara bergantian dari kampung ke
kampung mengadakan Upacara Tradisional Sadranan
tersebut. Dan yang mengherankan dari tradisi ini adalah
semua masyarakat datang berbondong-bondong untuk
bersilaturahmi dan menjalin persaudaraan dengan saling
mengunjungi rumah per rumah dengan menyantap hidangan
yang disajikan. Maksud dan tujuan lainnya yaitu ikut ngalap
berkah kepada para leluhur yang telah meninggal dunia.
Kuatnya nilai-nilai tradisi pada masyarakat yang masih
menjalankannya tersebut didasari keyakinan bahwa setelah
Upacara Tradisional Sadranan tersebut dilaksanakan maka
dalam bekerja untuk mencari nafkah akan diberikan
kelancaran dan kemudahan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

legenda

ASAL MULA DESA TALAKBROTO Pada suatu hari datanglah seorang wanita bernama Mbok Nyai (yang menurut penuturan masyarakat memang namanya adalah Mbok Nyai didapat dari para pengikutnya jika memang gilnya dan tidak ada yang tahu nama aslinya, sedangkan asal usulnya masih keturunan bangsawan Surakarta) bersama beberapa orang pengikutnya ke hutan yang bernama Lanji (sekarang Desa Talakbroto, Kabupaten Boyolali), mereka membawa peralatan lengkap termasuk peralatan perang. Setelah Pakubuwono III mangkat, di Mataram terjadi peperangan besar, perang saudara antara Pakubuwono III yang diangkat oleh Kompeni Belanda dan Mangkubumi yang memberontak dan mengangkat dirinya menjadi Sultan Hamengkubuwono I di Yogyakarta. Setelah semua reda tiba-tiba timbul lagi pemberontakan melawan Belanda oleh Raden Mas Sahid beserta pengikutnya, oleh karena gencarnya perlawanan Raden Mas Sahid maka Belanda menggunakan taktiknya yaitu memberikan sebidang tanahdan dijadikan raja diwilayah it...