Membaca Cerita pendek ( Cerpen )
Cerita
pendek merupakan salah satu bentuk karya sastra yang banyak digemari di
kalangan remaja. Ditinjau dari segi bentuknya, cerpen merupakan karangan yang
berbentuk cerita fiksi karena kejadian dan tokoh-tokoh yang terdapat di
dalamnya bukanlah tokoh dan kejadian yang benar-benar ada dan terjadi. Namun
tokoh itu seolah-olah ada dan seolah-olah kejadian itu benar-benar terjadi.
Mengapa rangkaian cerita di dalam cerpen di hadapan pembaca hadir sebagai
peristiwa yang seolah-olah benar-benar terjadi ? Karena rangkaian peristiwa
yang disuguhkan masuk akal. Suatu peristiwa dalam cerpen terjadi didukung oleh
sebab-sebab yang logis, demikian juga suatu peristiwa yang menjadi sebab akan
menimbulkan peristiwa tertentu yang menjadi akibatnya. Rangkaian yang dibangun
berdasarkan hukum sebab akibat yang logis disebut alur cerita atau plot atau
trap.
Membaca cerpen, novel, roman ( karya
sastra fiksi) ialah usaha untuk memahami dan mengungkapkan isi karya sastra
yang berarti menunjukkan apresiasi terhadap nilai-nilai sastra. Menyadari dan
menghargai nilai-nilai sastra Indonesia berarti menunjukkan rasa cinta terhadap
karya sastra dan kebudayaan bangsa. Hal-hal yang perlu diperhatikan antara lain
:
- Cerpen, novel, roman yang dibaca
harus asli bukan ringkasan/sinopsis pembacaan orang lain.
- Pembacaan harus dilakukan secara
cermat dan penuh dengan perasaan. Tujuannya pembaca dapat memahami pikiran
dan perasaan yang dilukiskannya.
- Sesudah selesai, pembaca berusaha
merenungkan keseluruhan isi karya sastra yang telah dibacanya dan membuat
catatan-catatan yang diperlukan
Dalam membaca cerpen, novel, roman pembaca
harus berusaha mengungkapkan kembali beberapa unsur instrinsik dan eksintrik yang
penting, unsur instrinsik antara lain : tema, amanat, alur, setting, gaya
bahasa, sudut pandang, penokohan/karateristik sedangkan unsur ekstrinsik antara
lain ; pendidikan pengarang, latar belakang sosial, budaya, ideologi, dan agama
pengarang
a. Mengungkapkan
sudut pandang ( point of view)
Sudut pandang adalah kedudukan pengarang
dalam menyajikan cerita. Dalam hal ini biasanya penulis memilih salah satu
diantara dua cara seperti di bawah ini :
- Sudut pandang orang pertama.
Dalam karangan itu penulis menjadi
peserta/pelaku dalam cerita itu dengan menggunakan kata AKU atau SAYA.
- Sudut pandang orang ketiga
Pengarang seolah-olah berdiri di luar
cerita dan hanya menceritakan apa yang terjadi diantara tokoh-tokoh dalam
ceritanya. Dalam hal ini pengarang menggunakan kata : IA, DIA atau NAMA ORANG.
b. Mengungkapkan latar belakang / setting ( waktu dan tempat )
Setting
/ latar
1)
aspek ruang
2)
aspek waktu
Latar (setting) ialah waktu dan tempat
terjadinya cerita itu. Sebenarnya latar (setting) bukan hanya mengungkapkan
tentang dimana tempat terjadinya peristiwa itu diceritakan dan kapan peristiwa
itu terjadi tetapi juga merupakan tempat
pengambilan nilai-nilai yang diungkapkan dalam cerita itu.
Cara pengarang menyampaikan nilai-nilai ada dua
cara :
a) Secara tersurat yaitu secara langsung dan
jelas.
b) Secara tersirat yaitu secara samar-samar.
c) Mengungkapkan tema
Tema
ialah pokok pikiran yang menjadi dasar cereita. Dengan demikian tema merupakan
pikiran, gagasan/ ide yang menjiwai
sebuah karangan/ cerita. Jika tema dalam cerpen merupakan ide sentral yang menjadi
pokok permasalahan, maka amanat merupakan pemecahannya. Jika tema sebuah cerpen
merupakan pertanyaan, maka amanat yang terkandung di dalamnya merupakan
jawabannya. Biasanya tema tidak tertulis dalam cerita tetapi pembaca diharapkan
dapat menyimpulkan sendiri.
1) Ada dua cara pengarang dalam mengembangkan
tema menjadi karangan yaitu :
a) Tema langsung ( cara tersurat ) diantara
sebagai berikut :
·
Secara
langsung melalui mulut pengarang. Hal itu tampak jelas pada kalimat-kalimatnya.
·
Dengan
teknik renungan, yaitu dengan cara pelaku cerita seolah-olah berbicara dengan
dirinya sendiri.
·
Dengan
teknik dialog ( percakapan) dari para pelaku cerita.
b) Tidak langsung ( tersirat ) yaitu dengan
cara menggambarkan perikehidupan pelakunya saja. Dalam hal ini pembaca harus
mengambil kesimpulan sendiri
2)
Cara menentukan tema cerita :
a) Kata-kata dan kalimat-kalimat dalam cerita
harus kita pahami benar.
b) Setiap paragraf cerita itu kita ambil
intinya.
c) Hubungan sebab dan akibat antara inti
paragraf yang satu dengan yang lain kita kaji, sehingga kita dapat mengambil
kesimpulan yang menjadi pokok permasalahan ( tema)
d)
Mengungkapkan watak pelaku / tokoh :
Penokohan ( karakterisasi,
perwatakan )
Penokohan
adalah proses penampilan tokoh sebagai pembawa peran watak tokoh dalam suatu
cerita. Penokohan harus mampu
menciptakan citra tokoh, maka tokoh harus dihidupkan.
Watak tokoh
pelaku dapat terungkap lewat pelukisan pengarang mengenai pelaku itu antara
lain :
1. tindakan / perilaku ( melukiskan bagaimana
reaksi pelaku terhadap suatu peristiwa )
2. percakapan pelaku ( melukiskan pelaku
dengan cara percakapannya )
3. pikiran / perasaan / kehendak ( melukiskan
jalan pikiran pelaku )
4. penampilan fisiknya ( melukiskan bentuk
lahir pelaku, cara berpakaian, lingkungan hidup tokoh )
5. apa yang dipikirkan, dirasakan / dikehendaki
tentang dirinya / tentang diri orang lain ( melukiskan bagaimana reaksi /
pendapat pelaku yang lain terhadap pelaku utama / tertentu )
Ada empat jenis tokoh peran watak yang merupakan
anasir kejiwaan.
1) Tokoh protagonis ialah peran utama yang
merupakan tokoh sentral cerita
2) Tokoh antagonis ialah peran lawan, ia suka
menjadi musuh / penghalang tokoh protagonis yang menyebabkan timbulnya konflik.
3) Tokoh tritagonis ialah peran penengah,
bertugas menjadi polerasi, pendamai/ pengantar protagonis dan antagonis.
4) Tokoh peran pembantu ialah peran yang
secara tidak langsung terlibat dalam konflik yang terjadi, tetapi ia diperlukan
untuk membantu menyelesaikan cerita.
Penokohan dalam cerpen bermakna cara
pengarang menciptakan citra tokoh di dalamnya. Ada model penokohan yang
digambarkan pengarang secara hitam dan putih. Artinya tokoh-tokoh dalam cerita
terbagi menjadi dua kubu yaitu tokoh baik dan tokoh jahat. Tokoh baik
digambarkan dari awal memiliki watak baik, perilaku baik, wajah baik tetapi
sebaliknya tokoh jahat tidak memiliki kebaikan. Hal ini disebut penokohan
pipih. Penokohan seperti ini sekarang mulai ditinggalkan hanya ada dalam cerita
karya sastra lama. Penokohan tokoh cerita sekarang cenderung merujuk watak
tokoh seperti manusia-manusia dalam realitas keseharian yaitu seseorang yang
mempunyai kebaikan dan kekurangan / kelemahan, setiap manusia baik dapat
melakukan kesalahan, hal ini sangat manusiawi. Penokohan seperti ini disebut
penokohan utuh atau bulat. Berkaitan dengan konflik bahwa inti cerita adalah adanya
konflik. Konflik cerita sering mewakili cerpen/novel sehingga dapat dianggap
baik atau kurang baik konflik cerita inilah yang mengalirkan atau
mengombang-ambingkan perasaan pembaca menjadi senang, haru, sedih, benci, dan
lain-lain. Konflik baru dapat ditemukan setelah pembaca mengikuti jalan
ceritanya.
e. Mengungkapkan alur / plot
1) pengertian plot / alur adalah jalinan
macam-macam peristiwa yang disusun dengan hukum sebab-akibat sehingga merupakan
kesatuan cerita. Artinya peristiwa pertama menyebabkan peristiwa kedua,
peristiwa kedua menyebabkan peristiwa ketiga dan seterusnya sehingga cerita itu
berakhir
2) Bagian-bagian alur cerita. Secara garis
besar diuraikan sebagai berikut :
(1)
Peristiwa
awal ( pendahuluan, eksposisi ): menceritakan peristiwa-peristiwa persiapan
yang menyebabkan munculnya peristiwa pokok. Bagian ini berfungsi memberi
penjelasan segala hal yang diperlukan untuk dapat memahami peristiwa-peristiwa
dalam cerita. Keterangan-keterangan itu dapat mengenai tokoh cerita, masalah
yang timbul, tempat dan waktu cerita itu terjadi dan sebagainya.
(2)
Permasalahan
(komplikasi): Komplikasi merupakan kelanjutan dari eksposisi dalam bagian ini
mulai muncul permasalahan, biasanya salah satu tokoh cerita mulai beraksi atau
mengalami permasalahan / peristiwa.
(3)
Klimaks
( puncak permasalahan ) pihak-pihak yang
bertikai saling bertemu, nasib tokoh cerita ditentukan.
(4)
Resolusi
( penyelesaian, anti klimaks ) semua masalah yang timbul dipecahkan. Pemecahan
masalah yang terjadi antar tokoh dapat
dilakukan secara baik-baik dengan melibatkan tokoh lain (tritagonis). Akan
tetapi dapat juga dengan perlawanan sebagai kelanjutan dari klimaks
(5)
Peristiwa
akhir ( konklusi, kesimpulan ) : merupakan bagian penutup cerita. Dalam bagian
akhir ini pengarang memberikan pemecahan mengenai peristiwa-peristiwa yang
mendahuluinya. Keadaan nasib tokoh-tokoh cerita diputuskan. Pembaca dapat
mengetahui apa yang terjadi pada tiap-tiap tokoh.
Macam-macam alur
1. Alur maju ialah urutan peristiwanya
bergerak maju.
2. Alur mundur ialah urutan peristiwanya bergerak
mundur / ke belakang.
3. Alur rapat ialah alur yang rangkaian
peristiwanya saling berhubungan erat.
4. Alur renggang ialah alur yang melukiskan
adanya kerenggangan peristiwa.
5. Alur kronologis ialah alur yang melukiskan
peristiwa terjalin berdasarkan urutan waktunya.
6. Alur gabung ialah alur penggabungan antara
alur maju dan alur mundur.
7. Alur klimaks / anti klimaks ialah alur
yang mengalami suasana mencapai puncak / mengalami penurunan.
8. Alur sorot balik ialah alur yang
mengisahkan latar belakang.
f. Amanat atau pesan
Pesan yang hendak disampaikan oleh
pengarang kepada pembaca. Amanat kadang disampaikan secara implisit atau
eksplisit.
g. Gaya bahasa
Cara khas yang digunakan pengarang untuk
menyampaikan ide atau gagasan atau pemikiran-pemikiran melalui karyanya. Misalnya
:
a) Suatu objek dideskripsikan dengan
cara detail atau tidak detail.
b) Kalimat yang digunakan merupakan bahasa
sehari-hari.
c) Menggunakan majas atau ungkapan / idiom
d) Banyak menggunakan dialog antar tokoh
e) Menggunakan kalimat minor, walaupun bukan
berupa dialog
f) Kalimat bervariasi, kadang panjang, kadang
pendek
g) Banyak menggunakan istilah / kata daerah
h) Dan sebagainya
Bacalah cuplikan cerpen di bawah ini !
ANAK
KEBANGGAAN
(
Dikutip dari buku kumpulan cerpen Robohnya Surau Kami karya A.A.Navis)
Semua
orang memanggilnya Ompi. Hatinya akan kecil jika dipanggil lain. Dan semua
orang tak hendak mengecilkan hati orang tua itu. Di waktu muda Ompi menjadi
klerek di kantor residen. Maka sempatlah ia mengumpulkan harta lumayan banyaknya.
Semenjak istrinya meninggal dua belas tahun berselang, perhatiannya tertumpu
pada anak tunggalnya, laki-laki. Indra Budiman. Dia yakin bahwa Indra Budiman
akan mendapatkan sebuah nama tambahan dokter di depan namanya sekarang, atau
salah satu titel mentereng lainnya. Ketika Ompi mengangan-angankan nama
tambahan itu diambilnya kertas dan pensil. Ditulisnya nama anaknya, dr. Indra
Budiman dan Ompi merasa bahagia sekali ia yakinkan kepada para tetangganya akan
cita-citanya yang pasti tercapai itu.
”Ah aku lebih merasa berduka lagi karena
belum sanggup menghilangkan kemalangan ini. Coba kalau anakku Indra Budiman
sudah jadi dokter si mati ini pasti dapat tertolong ” katanya bila ada orang
yang meninggal setelah lama menderita sakit. Dan kalau Ompi melihat orang
membuat rumah, lalu ia berkata ” Ah sayang rumah-rumah orang kita masih kuno arsitekturnya, coba kalau
anakku Indra Budiman sudah menjadi insinyur, pastilah ia akan membantu mereka
membuat rumah yang lebih indah”.
Semenjak Indra Budiman berangkat ke
Jakarta, Ompi bertambah yakin bahwa setahun demi setahun segala cita-citanya
tercapai pasti. Dan benarlah ternyata setiap semester Indra Budiman mengirim
raport sekolahnya dengan angka-angka yang baik sekali. Dan setiap tahun ia naik
kelas. Hanya dalam tempo dua tahun, Indra Budiman menamatkan pelajaran SMA
seraya mengantongi ijazah yang berangka baik. Ketika Ompi membaca surat anaknya
yang memberitakan kemajuannya itu air mata Ompi berlinang kegembiraan. ”Ah
anakku,” katanya pada diri sendiri, aku bangga anakku, baik engkau jadi dokter.
Karena orang lebih banyak memerlukanmu. Dengan begitu kau akan disegani orang.
Ooo perkara uang? Mengapa tiga ribu ,lima ribu akan kukirimi. Belilah pakaian
yang layak dipakai untuk seorang student dokter. Uang belanja tiga ratus lima
puluh ribu sebulan itu tentu akan kukirim, anakku. Mengapa tidak ?
Dan semenjak itu Ompi kurang punya
kesabaran oleh kelambatan jalan hari seperti calon pengantin yang sedang
menunggu hari perkawinan. Tapi semua orang tahu, bahkan tidak menjadi rahasia
lagi bahwa cita-cita Ompi hanyalah akan menjadi mimpi semata. Namun orang harus
bagaimana mengatakannya kalau orang tua itu tak hendak percaya. Malah ia akan
memaki dan menuduh semua manusia iri hati akan kemajuan yang dicapai anaknya.
Dan ia segera mengirim uang lebih banyak, tanpa memikirkan segala akibatnya.
Dan itu hanya semata untuk menentang omongan yang membusukkan nama baik
anaknya.
”Sekarang kau diomongi orang-orang yang
busuk mulut, anakku. Tapi ayah mengerti, kalau mereka memfitnahmu itu karena
mereka iri pada hidupmu yang mentereng. Cepat-cepatlah kau jadi dokter biar
kita sumpal mulut mereka yang jahat itu” tulisnya dalam sepucuk surat.
Dan akhirnya orang jadi kasihan pada Ompi.
Tak seorangpun lagi yang membicarakan Indra Budiman padanya. Malahan sebaliknya
kini, semua orang sepakat saja untuk memuji-muji.
”Ooo, anak Ompi itu. Bukan main dia. Kalau tidak
ke sekolah tentu menghafal di rumah,” kata seorang yang baru pulang dari
Jakarta menjawab pertanyaan Ompi.
” Ke sekolah? Kenapa ke sekolah dia ? Ompi merasa
tersinggung.” Kalau student dokter tidak menghafal, tahu ? Tapi studi, tidak ke
sekolah tapi kuliah.”
”O, ya-ya Ompi itulah yang kumaksud.”
” Aku sudah kira Indra Budiman anakku anak baik,
ia pasti berhasil. Aku bangga sekali. Ah,
kau datanglah ke rumahku makan siang. Aku potong ayam.”
Dan oleh perantau puilang lainnya
dikatakan kepada Ompi,” siapa yang tak kenal dia, Indra Budiman, Seluruh
Jakarta kenal, seluruh gadis mengharap cintanya.”
Lalu Ompi geleng-geleng kepala dengan senyumnya,”
Bukan main, bukan main, Indra Budiman anakku itu. Ia memang anak tampan.
Perempuan mana yang tak tergila-gila kepadanya. Ha, ha, ha, Ah datanglah kau ke
rumahku nanti. Ada oleh-oleh buatmu.”
Kemudian kalau Ompi ketemu gadis cantik
yang dikenalnya, ditegurnya: ” Hai, kau kenal anakku, student dokter itu, bukan
? Nanti kalau ia pulang, aku perkenalkan padamu. Biar kau dipinangnya. Ha,ha,
ha.
Si gadis tentu saja merah mukanya karena
tersinggung, tapi menurut Ompi muka merah itu karena malu tersipu . Dan ia
bertambah gembira.
Akan tetapi ketika Ompi tahu aku akan
kawin, dia dapat ilham baru. Diapun merasa pula bahwa Indra Budiman sudah patut
ditunangkan. Dan pada sangkanya tentu Indra Budiman-nya akan gembira dan
bertambah rajin menuntut ilmu, sebagai imbalan budi baik ayahnya yang tak
pernah melupakan segala kebutuhan anaknya. Dan diharapkannya pula kedatangan
orang-orang meminang Indra Budiman-nya. Karena di kampung kami pihak
perempuanlah yang datang meminang. Sudah tantu harapan Ompi tinggal harapan
saja. Tapi Ompi tak mau mengerti. Sifat keangkuhannya mudah tersinggung. Dan
bencinya bukan kepalang kepada orang-orang tua yang mempunyai anak gadis
cantik. Bahkan bukan kepalang meradangnya Ompi jika ia tahu orang-orang
mengawinkan anak gadisnya yang cantik tanpa mempedulikan Indra Budiman lebih
dahulu. Tak masuk akal orang-orang tak menginginkan anaknya, si calon dokter
itu. Lama-lama rasa dendamnya pada mereka bagai membara. ” Awaslah nanti kalau
Indra Budimanku sudah jadi dokter, akan kuludahi mukamu semua. Sombong!”
Kepada Indra Budiman tak dikatakannya itu.
Malahan sebaliknya dikatakannya banyak sudah orang yang punya gadis cantik
datang meminang. Tapi semua ditolak. Karena menurut keyakinannya, Indra Budiman-nya
lebih mementingkan studi dari pada perempuan. Apalagi seorang student dokter tentu
takkan mau dengan gadis kampungan yang kolot lagi. ” Pilihlah siapa saja gadis
di Jakarta, anakku. Gadis yang sederajat dengan titelmu kelak,” penutup
suratnya.
Celakanya Indra Budiman yang selama
ini menyangka tak mungkin ia dimaui oleh orang kampungnya
lantas jadi membalik pikirannya, ia jadi sungguh percaya bahwa sudah banyak
orang yang datang melamarnya. Tak teringat olehnya bahwa bohongnya kepada
ayahnya selama ini sudah diketahui oleh orang kampungnya. Lupa bahwa mata semua
orang kampungnya yang tinggal di Jakarta selalu saja mempercermin hidupnya yang bejat. Sejak itu berubahlah
letak panggung sandiwara. Jika dulu si anak yang berbohong, si ayah yang
percaya, maka sekarang si ayah yang menipu, si anak yang percaya, lalu si anak
mengharapkan kepada ayahnya supaya dikirimi foto-foto gadis yang dicalonkan.
Untuk membuktikan kebenaran suratnya, Ompi mengirimkan foto gadis yang
kebetulan ada padanya. Tidak peduli ia apa foto itu gasmbar gadis yang sudah
bertunangan atau sudah kawin. Bahkan ia juga tidak peduli ia apa gadis itu
sudah meninggal. Ia kirim terus dengan harapan semoga anaknya tidak berkenan.
Dan alangkah gembiranya Ompi andaikata tidak sebuah pun dari foto-foto itu yang
berkenan di hati anaknya. Disamping ia sadar pula bahwa kepalsuan sandiwaranya
sudah tentu akan berakhir juga pada suatu masa. Anaknya pasti lama-lama tahu
dan dengan begitu akan timbul kesulitan lain yang tak mudah.
Tapi rupanya Tuhan mengasihi ayah yang
mengasihi anaknya. Persis di saat Ompi kehabisan foto para gadis itu tiba-tiba
saja surat Indra Budiman tidak datang lagi. Antara rusuh dan lega, Ompi gelisah
juga menanti surat dari anaknya. Layaknya macan lapar yang terkurung menunggu orang
memberi daging segar. Pasal ia menunggu, dikirimi surat. Ditunggunya beberapa
hari, tapi tak datang balasan, dikiriminya lagi ditunggunya. Selalu tak
terbalas. Bulan datang bulan pergi Ompi tinggal menunggu terus.
Pada suatu hari yang tak baik, di kala
Ompi mulai putus asa datanglah pak pos dengan di tangannya segenggam surat,
Maka darah Ompi kencang berdebar. Gemetar ia karena gembira bahagia. Akan
tetapi alangkah remuknya hati orang tua itu karena ternyata pengantar surat itu
cuma mengantarkan semua surat-suratnya yang dikembalikan. Ia tak percaya kalau
surat-suratnya kembali. Ia merasa bermimpi dan tubuhnya seringan kapas yang
melayang ditiup angin. Dibalik-baliknya
surat itu atu berulang kali. Lau dibukanya dan dibacanya satu persatu. Dan
tahulah ia bahwa semuanya memang surat untuk anaknya yang ia kirim dulu. Tapi
ia tak meyakini dengan sungguh-sungguh malah ia coba meyakinkan dirinya sendiri
bahwa ia sedang bermimpi. Dan berdoalah ia kepada Tuhan agar apa yang terjadi
itu hanyalah mimpi. Semenjak itu segalanya jadi tak baik. Ia jatuh sakit.
Bahkan ia sampai mengigau. Dan oleh seleranya yang patah Ompi bertambah
menderita jua. Lahir dan batin. Kini dalam hidupnya hanya satu hal yang
dinantinya. Yaitu surat-surat dari anaknya, Indra Budiman. Seluruh hidupnya bagai
jadi meredup seperti lampu kemersikan sumbu. Dan ia terlentang di ranjang,
enggan bergerak tapi matanya selalu lebar terbuka memandang langit-langit
kelambu. Mata itu kian hari semakin membesar nampaknya oleh badannya yang kian
hari kian mengurus. Tapi mata yang lebar itu tiada cemerlang. Redup.
Akan tetapi setiap sore di antara jam
empat dan jam lima Ompi kelihatan seperti orang yang sakit bakal sembuh dan ia
sanggup berdiri dan melangkah ke pintu depan. Dan cahaya matanya kembali
bersinar-sinar. Karena pada jam itu biasanya pak pos mengantarkan surat-surat
ke alamatnya masing-masing. Tapi saat-saat seperti itu yang memberikan masa
bahagia dan harapan, adalah juga masa yang menambah dalam luka hatinya hingga
lebih meroyak sebab selamanya pak pos itu tak mampir lagi membawakan surat dari
Indra Budiman dan kalau pak pos itu
telah lewat tanpa singgah reduplah lagi mata Ompi.
Namun kemalangan itu bertambah lagi yaitu
ketika Ompi jatuh terduduk. Lama orang baru tahu dan memapahnya keranjang di
kamar. Ompi jadi lumpuh dan habislah sejarah Ompi menanti di ambang pintu depan
setiap sore . Iia kini menanti dengan terlentang di ranjangnya sebuah kaca
disuruhnya supaya dipasang pada dinding yang dapat memberikan pantulan ke
ambang pintu depan sehinga ia akan serta merta dapat melihat pak pos mengantarkan
surat Indra Budiman. Dan semenjak itu setiap jam empat dan lima sore matanya
akan menatap ke kaca itu Hanya di waktu itu saja. Sedangkan di waktu lain Ompi
seolah-olah tak peduli pada segalanya.
Kami tak pernah lagi memanggil dokter
setelah tiga kali ia datang. Karena kedatangan dokter hanya akan memperdalam
luka hatinya saja. Kehadiran dokter itu menimbulkan risau hatinya karena ingat
Indra Budiman yang akan menjadi dokter tapi tak pernah lagi mengiriminya surat.
Kedatangan seorang dokter dipandangnya sebagai sindiran bahwa anaknya masih juga
belum berhasil menjadikan cita-citanya tercapai.
Ketika terakhir aku menemui dokter yang
sudah enggan datang dokter hanya menggelengkan kepalanya saja.” Aku tak mampu
mengobatinya lagi, carilah dokter lain saja. Atau bawa ia ke rumah sdakit,
kalau semua tak mungkin jangan tinggalkan dia sendirian bila perlu meski dengan
taruhan resiko besar, bangunkanlah kembali mahligai angan-angannya.”
Semenjak itu berganti-ganti dengan orang
lain, aku menyediakan diriku selalu dekat dengan Ompi. Aku sadar bahwa tiada harapan
buat hidupnya lama. Itulah sebabnya tak kusampaikan kepadanya bahwa hari
perkawinannku sudah berlangsung, karena aku takut berita itu akan menambah
dalam penderitaannya. Di samping itu samar-samar kuelus terus harapannya yang
indah bila Indra Budiman kembali. Kukarang kenangan masa lalu dan angan-angan
masa depan yang menyenangkan. Kuceritakan dengan hati yang kecut. Akupun tahu
tidak ada gunanya semua. Hanya yang dikehendakinya surat dari Indra Budiman
surat yang mengatakan bahwa ia sudah
lulus dan mendapatkan titel dokternya. Kadang-kandang terniat olehku hendak
menulis sendiri surat itu. Tapi aku selamanya bimbang malahan takut kalau-kalau
permainan itu akan berakibat lebih fatal. Maka tak pernah aku coba menulisnya.
Pada suatu hari terjadilah apa yang kuduga
bakal terjadi. Tapi tak kuharapakan berlangsungnya. Kulihat pak pos memasuki
halaman rumah Ompi. Hari waktu itu pukul sebelas siang. Aku tahu itu bukanlah
surat yang dibawanya, melainkan sepucuk telegram. Dan pada telegram itu
pastilah bertengger saat-saat yang kritis sekali, tergesa-gesa aku menyongsong
pak pos itu ke ambang pintu. Maksudku hendak membuka telegram itu untuk mengetahui
isinya lebih dulu. Dan jika perlu akan kuubah isinya agar terelakkan saat-saat
menyeramkan. Akan tetapi semua kejadian datang dengan serba tiba-tiba, hingga
gagallah rencanakau tak sempat aku membuka surat itu, karena diluar segala
dugaanku Ompi yuang sudah lumpuh selama ini telah berada saja di belakangku.
Sesaat ketika aku menerima dan mendatangani resi telegram itu Gemetar kaki Ompi
mendukung tubuhnya yang kisut tangannya berpegang pada sandaran kursi. Dan aku
kehilangan kepercayaan pada pandangan mataku sendiri kekuatan apakah yang
menyebabkan Ompi bisa berdiri dan bahkan berjalan itu. Aku tak tahu.
” Bukalah, bacakan segera isinya,” Ompi berkata
seperti ia memerintah orang-orangnya di waktu mudanya dulu.
Aku sobek sampul kuning muda itu dengan tangan
yang menggigil sekilas saja tahulah aku, bahwa saat yang paling kritis sudah
sampai di puncaknya Indra Budiman dikabarkan sudah meninggal.
” Telegram dari anakku ? Apa katanya? Pulangkah
dia membawa titel dokternya?” Ompi bertanya dengan suara yang mendesis tapi
terburu-buru berdesakan keluar.
Tak tahulah apa yang harus kukatakan dan
kuharapkan sebuah keajaiban yang diberikan Tuhan untuk membebaskan aku dari siksaan ini. Tapi
keajaiban tidak juga datang Aku mengangguk sedang dalam hatiku berteriak terjadilah
apa yang akan terjadi. Ompi terduduk di kursi matanya cemerlang memandang.
Tangannya diulurkannya kepadaku meminta telegram itu. Aku merasa ngeri
memberikannya tapi aku tak bisa berbuat lain . telegram itu kusodorkan ke
tangannmya. Telegram itu digenggam erat lalu didekap ke dadanya. ” datang juga
apa yang kunantikan ,” katanya. Sepi
begitu menekan sehingga aku dapat mendengarkan denyut jantungku sendiri.
”Ah tidak aku tak akan membacanya telegram
ini. Aku takut kegembiraan akan meledakkan hatiku, kaubacakan buatku. Bacakan
pelan-pelan, Biar sepatah demi sepatah menjalari segala saraf - sarafku,” kata
Ompi pula dengan terputus-putus
Dalam kegugupan kususun sebuah taruhan jiwa dan sesalan bagi selama hidupku. Akan
kukarang kisah yang menyenangkan hatinya, tapi telegram itu tak diberikan
kepadaku. Masih terletak pada dekapan dadanya. sedangkan bibirnya membariskan senyum
serta matanya menyinarkan cahaya yang cemerlang.
” Tak usah dibacakan takkan sanggup akau
mendengarnya, aku aku akan mati lemas oleh kebahagiaan yang datang bergulung
ini. Aku mau sehat. mau kuat dulu. Sehingga ledakan kegembiraan ini tak
membunuhku. Panggilkan dokter. Panggilkan. Biar aku segera bugar pada waktu
anakku Dokter Indra Budiman datang. Pergilah. Panggilkan dokter,” kata Ompi
dengan gembiranya.
Dan telegram itu dibawa ke bibirnya.
Diciuminya dengan mesra. Lama diciumnya seraya matanya memicing. Yaitu selama
tangannya sampai terkulai dan matanya terbuka setelah kehilangan cahaya. Dan
telegram itu jatuh dan terkapar di pangkuannya.
A. Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan benar !
1. Apa yang menyebabkan Ompi sakit lahir dan
batin ?
2. Dalam penderitaannya itu ada sesuatu yang
ditunggu-tunggu, apakah itu ?
3. Peristiwa apa yang menambah kemalangan
Ompi ?
4. Apakah impian Ompi akan menjadi kenyataan
? Mengapa?
5. Angan-angan Ompi itu tidak hanya menjadi
persoalan Ompi, tetapi juga bagi orang lain. Siapakah yang terlibat ke dalam
persoalan (konflik) itu ?
6. Angan-angan Ompi tidak hanya bertalian
dengan titel dokter yang akan disandang anaknya tetapi juga menyangkut jodoh
anak kebanggaannya itu. Peristiwa apa yang mendorong timbulnya persoalan
tersebut ?
7. Apa yang membuat hati Ompi rusuh dan lega
?
8. Dalam keputusasaan Ompi berusaha lari dari
kenyataan . Kutiplahlah bagian yang membuktikan hal tersebut !
9. Bagaimanakah nasib Ompi pada akhirnya?
Legakah sang Aku pada akhirnya ? Mengapa ?
10. Bagaimana perasaanmu setelah menyelesaikan
cerita itu ? Apakah kamu merasa terlibat dengan peristiwa yang terjadi dalam
cerpen itu ? Jelaskan !
B. DISKUSI
KELOMPOK
Jawablah
pertanyaan–pertanyaan di bawah ini kemudian diskusikanlah jawabanmu dengan temanmu!
1. Tulislah
penggambaran watak tokoh-tokoh cerpen ”Anak Kebanggaan” dalam tabel berikut !
|
no
|
Tokoh
|
Watak
|
Bukti pendukung
|
|
1
2
3
|
....................................
....................................
...................................
|
...................................
..................................
...................................
|
...............................................
...............................................
................................................
|
3. Tulislah permulaan konflik yang mendasari
cerpen tersebut, klimaks, anti klimaks dan penyelesaiannya. !
3. Gambarkan pikiran dan konflik batin Ompi
dan tokoh Aku dengan bahasa kamu sendiri
dalam satu atau dua paragraf !
4. Jika kamu menjadi tokoh Aku, langkah apa
yang kamu ambil saat menghadapi peristiwa tersebut !
5. Apakah suasana cerpen tersebut tergambar
dengan kuat ? Jelaskan dengan bukti !
6. Apakah jalan ceritanya (plot) lancar? rumit
? sederhana ? Jelaskan !
7. Pengarang menyelesaikan cerita dengan
mematikan tokoh Indra Budiman. Apakah hal itu menguatkan cerita atau melemahkan
cerita ? Jelaskan !
8. Apakah pengarang berhasil mempermainkan
perasaan pembaca dengan tema, alur dan konflik di atas ? Jelaskan !
9. Apakah kamu berpendapat bahwa membaca
cerpen anak kebanggaan memberi manfaat bagimu ? Jelaskan !
10. Berita dalam telegram itu sangat singkat,
mengabarkan berita kematian Indra Budiman. Pembaca telegram itu tidak
mengetahui sebab-sebab kematiannya, kita pun pembaca cerpen tidak mengetahuinya,
tidak ada penjelasan mengenai hal itu pengarang tidak menjelaskan siapakah yang
mengirimkan telegram itu, mungkin temannya, ketua RW, induk semang tempat Indra
Budiman menyewa kamar atau mungkin Polisi.l Apakah penyebab yang paling pantas
untuk Indra ? Sakitkah dia, terbunuh atau mengalami kecelakaan ? Bagaimana
pendapatmu, tuliskanlah dengan menggunakan bahasamu sendiri !
Berilah tanda silang pada
huruf a, b, c, d, atau e pada jawaban yang benar !
Bacalah penggalan cerpen berikut dengan seksama ! ( soal untuk nomor 1
s.d.3 )
.................................................................................................................................
Tiba-tiba aku ingat lagi pada kakek dan kedatangan Ajo Sidi kepadanya.
Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang kakek ? Dan bualan itulah yang
mendurjanakan kakek ?
Aku ingin tahu. Lalu aku tanya kakek lagi,
”Apa ceritanya, Kek ? ”
” Siapa ”/
” Ajo Sidi”.
” Kurang ajar dia,” kakek menjawab
” Kenapa”?
” Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang
kuasah tajam-tajam ini, menggorok tenggorokannya.”
” Kakek marah”?
” Marah ? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orangtua menahan
ragam.
Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut kalau imanku rusak karenanya,
ibadahku rusak karenanya, sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat,
bertawakal kepada Tuhan, sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan
Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal. Kau tahu apa yang kulakukan
bukan ? Terkutukkah perbuatanku ? Dikutuki Tuhanku semua pekerjaanku ?” ( Robohnya Surau Kami, A.A. Navis )
1. Konflik yang terdapat dalam
kutipan cerpen tersebut di atas adalah...
- Aku
dengan kakek bertengkar masalah Ajo Sidi
- Ajo Sidi
mengata-ngatai kakek sebagai orang terkutuk
- ”Aku”
dan Ajo Saidi membohongi kakek dengan cerita
- Kakek merasa sakit hati kepada Ajo sidi
- Kakek dan ” Aku” bertengkar menahan marah
2. Penyebab konflik dalam penggalan
cerpen tersebut adalah...
- Bualan Ajo Sidi yang mengatakan
perbuatan kakek terkutuk
- Pisau
Ajo Sidi tidak mau diasah oleh kjakek.
- Karena ”
Aku” ikut campur terhadap masalah kakek.
- Ajo Sidi
senang mengurusi urusan orang lain.
- Aku
memanas-manasi hati kakek.
3. Peristiwa yang merupakan
akibat konflik dalam kutipan cerpen tersebut adalah...
- kakek
bertengkar dengan Ajo Sidi
- Kakek
ingin menggorok leher Ajo Sidi
- Kakek menjadi durjana
- Ajo Sidi
dibunuh kakek
- Kakek
marah dan menggorok Ajo Sidi
Bacalah penggalan cerpen berikut dengan seksama !
Kalau begitu mengapa Syarifudin meninggal pada hari kedua, setelah dia
disunat ? Darah tak banyak keluar dari lukanya. Syarifudin kan juga penurut.
Pendiam. Setengah bulan, hampir dia mengurung diri karena kau mengatakan kelakuan
abangnya sehari sebelum disunat itu. Aku tidak percaya jika hanya oleh melompat
–lompat dan berkejaran setelah malam penuh. Aku tidak percaya itu. Aku mulai
percaya desas- desus itu bahwa kau termasuk orang yang tamak. Orang yang kikir
. penghisap. Lintah darat. Inilah ganjarannya! Aku mulai percaya desas- desus
itu tentang dukun-dukun yang mengilu luka sunatan anak-anak kita. Aku mulai
yakin, mereka menaruh racun di pisau dukun-dukun itu. Kalau benar begitu
apalagi yang sekarang mereka sakitkan hati ? Aku telah lama mengubah sikapku.
Tiap ada derma, aku sumbang. Tiap kesusahan, aku tolong. Tidak seorangpun dari
mereka yang tidak kuundang dalam pesta tadi malam. Kau lihatkan, tiga teratak
itu penuh mereka banjiri. Kau yakin mereka telah menerimaku, memaafkanku. (
Panggilan Rosul. Hamzah Rangkuti)
4.Tema atau pokok masalah yang tersirat dalam penggalan cerpen di atas
adalah...
a. dampak kekikiran, ketamakan, keangkuhan,
dan kesombongan
b. kekikiran, ketamakan, keangkuhan dan
kesombongan yang diperbuat dukun
c. kesdaran untuk mengubah sikap dari tidak
baik menjadi baik.
d. Kepercayaan adanya kematian dikaitkan
dengan guna-guna dari dukun.
e. Ganjaran / balasan bagi orang yang kikir,
tamak dan angkuh.
Waktu bangun pagi-pagi Noerdin merasa
badannya tidak enak. Sehari itu tidak bekerja dan panasnya amat tinggi.
Malamnya makin bertambah tinggi juga panasnya dan iapun sudah igau-igauan. Lain
tidak yang disebutnya ialah Rukmini juga.
Besoknya adalah demamnya agak turun sedikit, tetapi bukan main rindunya
hendak bertemu Rukmini. Dengan tidak malu lagi disuruhnya jemput Rukmini hari
itu juga dengan autonya. ( Darah Muda. Adinegoro)
5. Sudut pandang pengarang yang digunakan dalam
kutipan cerpen din atas adalah...
a. orang pertama sebagai tokoh utama
b. orang pertama sebagai tokoh sampingan
c. orang
ketiga sebagai tokoh utama
d. orang pertama dan orang kedua
e. orang pertama sebagai orang ketiga
6. ” Pak Gi ini benar-benar seorang pejuang yang
tak pernah melupakan cita-citanya.”
”Cita-cita yang mana bu?”
”Bahwa yang tak kalah penting dengan perang
melawan penjajah adalah perjuangan melawan kemiskinan dan kebodohan. Lho! ini
semua kan bukti keberhasilan beliau melawan kemiskinan ?”
” Ibu sendiri kenapa tidak mengikuti jejak pak Gi
?”
” Sebagai mantan bagian dapur umum saya tetap
berjuang terus, lho !”
Melawan kelaparan...? ( Kado Istimewa, Jujur Pranoto )
Pengambaran watak pak Gi yang diungkapkan pengarang pada kutipan cerpen di
atas adalah..
- ciri-ciri
fisisk tokoh
- lingkungan
sekitar tokoh
- perbincangan
tokoh lain
- perasaan
tokoh
- reaksi tokoh-tokoh lain
7. Gaya bahasa yang digunakan
dalam penggelan cerpen di atas
adalah......
- Suatu
objek dideskripsikan dengan cara
detail atau tidak detail.
- Kalimat
yang digunakan merupakan bahasa sehari-hari.
- Menggunakan
majas atau ungkapan / idiom
- Banyak menggunakan dialog antar tokoh
- Menggunakan
kalimat minor, walaupun bukan berupa dialog.
8. ” Jika bapak mengizinkan, saya akan meminjam kendaraan untuk membawanya
ke rumah sakit . Maaf, pak, pada malam hari kendaraan umum hampir tidak ada.”
Boleh silakan pak Heri. Bawakah anak-anak itu cepat-cepat ke dokter ! Ini kunci
mobil dan sedikit uang untuk berobat!”
Amanat yang disampaikan oleh pengarang dalam penggalan cerpen di atas
adalah...
- tolong-menolong sesama itu penting
- meminjam
miobil harus disertai sedikit uang
- janganlah
memperberat kesusahan orang
- membawa
anak ke dokter lebih baik daripada memberikan uang
- bantuan
uang lebih bermanfaat daripada tindakan.
9. Tetapi papi rupa-rupanya tidak berkeberatan aku bergaul dengan anak-anak
sepandri atau serdadu krocuk.
Tentulah papi harus menjaga gengsi
dan secara resmi harus memarahi aku. Sebab itu Letnan dan Raden Mas dari
keluarga raja Mangkunegaran. Akan tetapi aku merasa papi tidak berkeberatan
atau paling sedikit membiarkan aku punya kawan-kawan bermain dari kalangan ploletar tangsi. Pernah di kamar aku
mendengar mami protes keras menuduh papi kurang mendidik anaknya. Dan kalau
tidak salah papi bilang tentang pengalaman hidup praktis, kelak si anak kalau
jadi komandan atau pegawai tinggi dapat beruntung berkat pergaulan dengan
lapisan bawahan dan sebagainya semacam itu.
kelak sudah aku menjadi pelajar HBS dalam suatu kesempatan kol segala
kerabat istana Mangkunegaran papi mengajakku memasuki ruang keramat di belakang
pinggitan istana yang disebut dalem.
Dan memberi petuah : dalem artinya ruang dalam, ruang keramat, ruang pemilik
istana. Siapa pemilik istana ? Bukan Gusti Raja Mangkunegaran melainkan Dewi
Sri. ( Burung-burung Manyar. Y.B. Mangunwijaya)
Latar yang tergambar dalam paragraf cerpen di atas adalah...
- kelak
- ruang
dalam
- malam
hari
- di kamar
- ruang
pemilik istana
10. Gaya bahasa yang digunakan
dalam penggelan cerpen di atas
adalah......
- Banyak
menggunakan dialog antar tokoh
- Menggunakan
kalimat minor, walaupun bukan berupa dialog
- Kalimat
bervariasi, kadang panjang, kadang pendek
- Banyak menggunakan istilah / kata
asing / daerah
- Menggunakan
kalimat minor, walaupun bukan berupa dialog
11.
Di
kampung Ranah, di kota Padang adalah sebuah rumah kayu beratapkan seng.
Letaknya jauh dari pohon-pohon kayu yang rindang. Jika ditilik perkaks rumah
itu dan susunannya nyatalah rumah ini suatu rumah yang tidak dipelihara
benar-benar. Karena sekalian yang didalamnya telah tua kotor dan tempatnya
triada teratur dengan baik. Di serambi
muka hanya ada sebuah lampu gantung macam lama yang telah berkarat
besi-besinya. Itulah rumah Datuk Maringgih, saudagar yang termashur kaya di
Padang. ( Siti Nurbaya, 1965:85)
Unsur instrinsik yang tampak pada penggalan cerpen di atas adalah ...
a. setting
b. gaya
bahasa
c. tema
d.
karakter tokoh
e. sudut
pandang
12. Adelia hamil di luar nikah. Arfian bukan tidak mau bertanggungjawab
tetapi lamarannya ditolak. Gadis belia yang kebingungan itu terpaksa menyetujui
kemauan orang tuanya agar bayi yang lahir diserahkan ke Yayasan yang bersedia merawat
bayi-bayi terlantar dan tidak dikehendaki kelahirannya. Daripada dibunuh,
dicekik, lalu dibuang ke kali. Begitu alasan bidan Rukmini.
paragraf di atas merupakan cuplikan novel. Anda dapat menggolongkannya ke
dalam novel populer karena...
- tokoh-tokoh
dalam kisah tersebut merupakan gambaran tipe manusia yang tidak
bertanggungjawab.
- tampak
dalam inti kisah di atas para tokohnya menyelesaikan masdalah yang mereka
hadapi dengan cara murahan dan gampangan
- bidan
Rukmini ini mau merawat bayi itu dari pada dibunuh atau dibuang ke kali
- orangtua
Adelia memberikan solusi terbaik dengan menyerahkan bayi yang baru lahir
itu kepada sebuah Yayasan
- cerita di atas merupakan gambaran
kompleksitas hidup manusia modern di perkotaan.
12.
Tarisa
banyak difitnah oleh keluarga Rafli. Mula-mula ia dituduh sebagai pembawa sial
dalam kehidupan keluarga ibu Aminah, lalu dituduh pembawa sial atas terbakarnya
toko buku keluarga Aminah. Pendek kata, kehadiran Tarisa dipandang sebagai
sumber malapetaka dan kehancuran keluarga ibu aminah. Bahkan perkawainan Rafli
dengan Tarisa terancam bubar. Akan tetapi sumber segala persoalan sebenarnya
bermula dari kehadiran sosok Farida.
Amanat yang terdapat dalam kutipan cerpen tersebut adalah...
a.
Setiap
manusia yang melakukan tindakan tertentu akan memetik buah tindakannya.
b.
Maksud
yang baik belum tentu dapat diterima
sebagai suatu kebaikan
c.
Bencana
tidak diketahui darimana datangnya bencana dapat datang kapan saja.
d. Kita
harus waspada terhadap kehadiran orang ketiga yang justru sering menimbulkan
masalah dan kehancuran keluarga.
e.
Perkawinan
yang tidak didasari rasa cinta akan mengalami kebahagian yang sejati.
14. Kapan-kapan itu adalah suatu
sore, ketika aku sedang sibuk mengetik tugas. Kamarku diketuk orang walau
seingat aku, sore itu aku tidak berjanji dengan siapa-siapa.
” Wah, Saudara sibuk betul
rupanya.”
Tentu saja sedang sibuk, kalau tidak sibuk, tentu tidak bakalan berserakan
kertas-kertas di mejaku.kalau sudah tahu sibuk kenapa kau masih datang bertamu
? Tetapi cobalah bayangkan bagaimana pula kau harus mengusir orang yang sudah
berdiri di hadapanmu ? dengann membedaki mukaku setebal mungkin dengan rasa
ketimuran, yang terlontar dari mulutku adalah : ” Ya begitulah.” ( Wolfgang
Kipkop, Pamusuk Eneste )
Nilai moral yang terkandung dalam cuplikan cerpen di atas adalah...
- saling
menghormati dan menghargai
- berbasa-basi
dan berpura-pura baik
- bertamu
pada waktu yang tepat
- menjaga perasaan orang lain
- tidak
boleh mengganggu pekerjaan orang lain.
15 Tukang becak di pasar jauh lebih
sopan dari pada yang ada di stasiun. Mungkin karena sudah sering melihat dan
saling kenal biasanya membuahkan rasa kasihan. Seperti yang pernah kualami,
naik becak dan setelah tiba di depan rumah, tukang becak yang tua itu berkata,
”O, putra pak Hadi, ya”? Berhubung dia kenal dengan ayahku, aku berikan uang
tanpa kuminta kembaliannya. Pak tua itu berterima kasih secara berlebihan.
Watak tokoh ” aku ” dalam penggalan cerpen di atas adalah...
a. Sombong
b. rendah diri
c. sopan
d.
baik hati
e. tinggi hati
16. Tuti bukan orang yang mudah kagum,
yang mudah heran melihat sesuatu. Keisyaratannya akan harga dirinya sangat
besar. Ia tahu bahwa ia pandai dan cakap. Banyak yang akan dikerjakan dan
dicapainya. Segala sesuatu diukurnya dari kecakapannya sendiri. Oleh sebab itu,
ia jarang memuji.
Watak Tuti diungkapkan dengan cara...
a. penjelasan
langsung
b. pendapat tokoh lain
c. pendeskripsian fisik
d. sikap tokoh
e. perasaan tokoh
17. Di tempat inilah terjadi
peristiwa yang menyesatkan. Namun Monang bertanggungjawab dan akan
mengawininya. Dan kenyataannya lain.Ibu Monang telah menjodohkannya dengan
gadis Batak pilihan ibunya. Monang sendiri tak kuasa menolaknya. Dia kawin
dengan gadis pilihan ibunya. Sementara itu janin yang dikandung Manen mengalami
kelainan, bayi itu akan lahir cacat.
( Raumanen, Mariane Katop)
Nilai yang dominan tersirat dalam penggalan novel di atas adalah...
- budaya
- etik
- moral
- sosial
- agama
18. Aku pikir aku telah tertidur
beberapa jam karena pengaruh sampanye dan letusan-letusan bisu dalam film itu.
Lalu ketika terbangun, kepalaku merasa terguncang-guncang. Aku pergi ke kamar
mandi. Dua dari tempat duduk di belakangku diduduki wanita tua dengan sebelas
kopor berbaring dengan posisi yang tidak sangat karuan. Seperti mayat yang
terlupakan di medan perang. Kaca mata bacanya dengan rantai manik-manik beradu
di alas lantai dan sesaat aku menikmati kedengkiannku untuk tidak mengambilnya.
Nilai budaya yang ada dalam penggalan
cerpen tersebut adalah ...
- mabuk-mabukan
- menonton
film
- minum sampanye
- dengki
terhadap orang lain
- tidak
peduli terhadap orang lain
Bacalah penggalan cerpen berikut dengan seksama !( untuk soal nomor 19 s.d.20
)
Takkala aku masuk sekolah Mulo, demikian fasih lidahku dalam bahasa Belanda
sehingga orang yang hanya mendengarkanku berbicara dan tidak melihat aku,
mengira aku anak Belanda. Akupun bertambah lama bertambah percaya pula bahwa
aku anak Belanda, sungguh hari-hari ini makin ditebalkan pula oleh tingkah laku
orang tuaku yang berupaya sepenuh daya menyesuaikan diri dengan langgam lenggok
orang Belanda. ( ”Kenang-kenangan” oleh Abdul Gani A.K)
19. Watak tokoh ”aku” dalam
penggalan cerpen tersebut adalah...
a. percaya diri
b. mudah
menyesuaikan diri
c. sombong
d. rajin
berusaha
e. mudah
dipengaruhi
20. Sudut pandang pengarang yang
digunakan dalam penggalan cerpen tersebut adalah...
a. orang pertama pelaku utama
b. orang
ketiga pelaku sampingan
c. orang
ketiga pelaku utama
d. orang
pertama dan ketiga
e. orang
ketiga serbatahu
21. ...............sementara berdua menonton, seorang petani tua datanmg
menghampiri Franst. Ditangannya, ia menggenggam sebuah guci anggur. Seraya
membungkuk di depan Franst, ia berujar dengan takzim, ”Tuan Doktor, sungguh
baik hati anda sudi datang ke tengah-tengah kami penduduk yang sedang
bergembira ini, terimalah anggur yang paling enak ini.
(
Franst, terjemahan Rayani Sriwidodo )
Nilai budaya dari penggalan novel terjemahan di atas adalah .............
a. tradisi menonton berdua
b. pemberian hadiah berupa anggur
c.
sikap menghormati dengan membungkuk
d. kesediaan seorang doktor menghadiri pesta
petani
e. kedatangan petani menghampiri seorang
doktor.
22. Gadis itu meminta kakeknya menceritakan riwayat hidupnya, siapa
sebenarnya kedua orangtuanya dan dimana mereka sekarang. Sang kakek terdiam
sebentar, kemudian mulailah ia bercerita,” Delapan belas tahun yang lalu,
seorang pemuda kota berjalan-jalan di desa ini. Ia terpikat gadis cantik bunga
desa ini dan mereka menikah. Gadis cantik itu adalah putri kakek
satu-satunya...............
Unsur instrinsik yang menonjol pada penggalan cerita tersebut di atas
adalah ........
a. tema
b. latar watak
c. alur sorot balik
d. gaya bahasa
e. latar budaya.
23. ”Aku tidak meminta yang
ukan-bukan Sukri. Kemiskinan telah membikin aku terbiasa untuk menerima apa
adanya. Kau tidak usah memikirkan kado. Dirimu adalah kado perkawinanku
yang berharga. Ambilah aku, Sukri.
Sebagai istrimu aku telah bahagia. Jangan pikirkan kado yang tidak-tidak.”
Tema penggalan cerita di atas adalah ...
a.
kejujuran
b. kesombongan
c. kesucian
d. keberanian
e. kegigihan
B. Sebutkan unsur-unsur instrinsik dan ekstrinsik dalam cerpen !
Kunci jawaban : kalimat yang dicetak miring pada pilihan jawaban.
ASAL
MULA DESA NGALIYAN DAN DESA JAWENG.
Sultan
Agung Mataram adalah seorang raja yang arif dan bijaksana, dekat dengan rakyat
jelata dan memperhatikan kepentingan negara menjadikannya dipuji dan dikagumi
oleh setiap rakyatnya. Suatu ketika abdi kesayangannya meninggal dunia, dan sang
Sultan langsung memerintahkan agar memberikan bantuan untuk acara pemakamannya.
Namun apa yang terjadi kemudian sangatlah mengherankan, abdi kesayangan sang
Raja Mataram setelah di mandikan mendadak bangun dan hidup kembali dari
kematiannya.
Mendengar
kabar tersebut Raja Mataram hilang kesedihannya dan datang menjenguk ke rumah
abdi kesanyangannya tersebut untuk memastikan kabar yang diterimanya. Setelah
sadar dan pulih kembali kekuatannya abdi kesayangan sang Raja Mataram tersebut
dipanggil\ menghadap Raja dan menceritakan pengalamannya kepada Rajanya, begini
ceritanya bahwa ia sedang melakukan sebuah perjalanan dan ia melihat ada sebuah
rumah yang bagus, diatur dengan baik dan banyak bunga-bunga indah tumbuh
disekitarnya lalu ia bertanya kepada penjaga rumah tersebut, penjaga rumah
tersebut berkata bahwa rumah itu adalah calon rumah Kyai Singaprana dari Walen,
kemudian abdi kesayangan Sultan Agung Mataram meneruskan perjalanan dan bertemu
lagi sebuah rumah yang bagus lainnya, juga diatur dengan baik dan banyak
bunga-bunga indah tumbuh disekitarnya lalu ia bertanya kepada penjaga rumah
tersebut, penjaga rumah tersebut berkata bahwa rumah itu adalah calon rumah
Sultan Agung Mataram, sampai disitu kemudian abdi kesayangan Sultan Agung Mataram
tersebut lalu tidak teringat apa-apa lagi dan tahutahu sudah di atas
balai-balai di pekarangan rumahnya dimandikan seperti orang kalau memandikan
jenasah.
Sang
Sultan Agung memperhatikan cerita tersebut dengan seksama , Sultan Agung Mataram
tidak begitu tertarik dengan cerita tentang rumah tersebut namun lebih tertarik
dengan nama Kyai Singaprana dari Walen. Lama berfikir sang Sultan dan
memutuskan untuk mencari siapakah sebenarnya Kyai Singoprono tersebut dan ingin
bertatap muka dengannya, lalu hari berikutnya diperintahkannya untuk menyiapkan
segala sesuatu untuk pergi menemui Kyai Singoprono di Walen, dan setelah semuanya
siap berangkatlah Sultan Agung Mataram beserta rombongannya. Setibanya
Rombongan Sultan Agung Mataram di tepi Sungai Cemara (sekarang Desa
Tegalrayung, Kecamatan Simo) semua pengikut Sultan diistirahatkan dan tidak ada
yang boleh mengikuti Sultan Agung Mataram, karena sang Sultan ingin meneruskan
perjalanannya sendiri dan para pengikutnyapun mengiyakannya.
Lalu
dikenakannya pakaian seperti orang menggembalakan ternak itik lalu memohon
kepada Sang Khalik agar diberikan itik sejumlah seratus ekor, berkat anugerah
Sang Pencipta dan karena kesaktian Sultan permohonannya terkabul.
Seratus
ekor itik tersebut digiring ke arah Walen dan tibalah di Sebelah barat Sungai
Aji yaitu sebelah utara sungai cemara (tepatnya Desa Tempuran), ada orang yang berjualan
nasi dan dawet di tempat tersebut. Agak terheranheran Sultan melihat bahwa
tempat tersebut tidaklah ramai di lewati orang, dan segeralah penggembala itik
tersebut menghampiri si penjual nasi tersebut dan berkata bahwa ia hendak ke
rumah Kyai Singoprono tetapi karena itik-itiknya belum makan seharian si
penggembala itik minta agar nasi dan dawet yang dijual itu untuk makanan
itik-itiknya karena kelihatannya dagangan yang di jual tidak laku. Padahal sebelum
itu si penjual nasi berkata bahwa walaupun sepi tidak ada orang yang lewat
dagangan yang ia jajakan pasti habis terjual. Dan lebih terheran-heran lagi si
penggembala itik ternyata diberikan semuanya rasa herannya disembunyikannya
dengan cepat.
Setelah
selesai memberi makan itiknya ia meneruskan perjalanan menuju ke rumah Kyai
Singoprono setelah ditunjukkan oleh si penjual nasi letak rumah Kyai Singoprono.
Dengan
kesaktiannya si penjaja nasi yang tak lain adalah Kyai Singoprono itu sendiri
menyusul dalam sekejab waktu sampai di rumahnya terlebih dahulu dan berkata
kepada isterinya untuk menyiapkan hidangan untuk menjamu tamu terhormat, namun
karena tidak ada bahan yang akan dimasak isteri Kyai Singopronopun memberi tahu
bahwa tidak ada yang dapat ia lakukan, Kyai Singoprono kembali berkata kepada
isterinya untuk menyiapkan peralatan makan di atas meja saja, dan
dilakukannyalah seperti apa yang dikatakan Kyai Singoprono. Dengan memohon
kepada Tuhan, Kyai Singoprono mengeluarkan kesaktiannya dan dalam sekejab
diatas meja tempat diletakkannya peralatan makan tadi telah tersaji hidangan
kesukaan Raja Mataram.
Setelah
itu Kyai Singoprono berjalan ke luar rumah untuk menyambut kedatangan tamunya
Sementara
itu sesampainya di Pasar Walen penggembala itik yang aslinya Sultan Agung
Mataram dengan kesaktiannya pula menghilangkan itik-itik yang ia gembalakan
tadi dan berganti pakaian menjadi seorang peminta-minta berjalan kembali menuju
ke rumah Kyai Singoprono. Setelah sampai di depan pintu pekarangan Rumah Kyai Singoprono,
si pengemis agak teheran-heran karena seperti ada orang yang menanti
kedatangannya, dan ternyata benar setelah dekat dengan orang tersebut orang itu
langsung membungkukkan badannya memberi penghormatan dan tambah terheran-heran
lagi ternyata orang tersebut adalah orang yang ditemuinya berjualan nasi dan
dawet di jalan tadi. Sang pengemis bertanya kepada orang tadi apakah benar ini
rumah Kyai Singoprono dan adakah beliau ditempat. Jawab orang itu ya benar ini
adalah rumah Kyai Singoprono dan saya sendirilah orangnya. Setelah mendengar
jawaban tersebut si pengemis yang tidak lain dan tidak bukan adalah Sultan
Agung Mataram tidak dapat bergerak dan berkata-kata. Oleh karena mengetahui
keadaan yang demikian Kyai Singoprono memecahkan kebekuan suasana dengan
mempersilahkan tamunya untuk masuk ke dalam rumah untuk menjamunya. Bukam main
terkejutnya Sultan Agung Mataram mengetahui jamuan yang disediakan adalah
makanan kegemaran yang selalu disediakan di istananya. Lalu Sultan Agung
Mataram yang masih dalam penyamarannya berkata bahwa tidaklah pantas ia dijamu
sedemikian rupa, Kyai Singoprono menjawab sebenarnya bukan orang hina papa dan
orang biasa yang sekarang ada dihadapannya, melaikan seorang tamu terhormat
yang datang dari Kerajaan Mataram yang tidak lain adalah Sang Sultan Agung
Mataram pribadi, yang pemurah, baik hati terhadap sesama. Tergetarlah tubuh
Sultan Agung Mataram mendengar perkataan Kyai Singoprono, dan mengakui bahwa
memang sakti benar adanya orang yang sekarang ada dihadapannya tersebut.
Setelah
semuanya itu terjadi Sultan Agung memohon kepada Tuhan agar mereka berdua
diijinkan pindah saat itu juga ke Istana Kerajaan Mataram dan dikabulkan,
tiba-tiba mereka berdua Sultan Agung Mataram dan Kyai Singoprono sudah ada
duduk besama-sama di Istana Kerajaan Mataram. Kyai Singoprono mengeluarkan
kesaktiannya dengan memohon ijin kepada Yang Khalik pula dengan permohonan yang
sama tetapi kebalikannya.
Akhirnya
terjadilah tarik menarik antara Kyai Singoprono dan Sultan Agung Mataram dengan
masing-masing kehendaknya Kyai Singoprono ingin di Walen tetapi Sultan Agung
Mataram ingin di Istana dan kejadian tersebut terlihat beganti-ganti (dalam
bahasa jawa olah-alih) dan karena hal tersebut sekarang desa di sebelah utara
Sungai Cemara dinamakan Desa Ngaliyan (Kelurahan Pelem, Kecamatan Simo), dan
desa sebelah timur Sungai Aji dinamakan Desa Jaweng (eweng-ewengan dalam bahasa
Indonesia berarti tarik menarik) dan akhirnya mereka berdua kembali ke Walen.
Setelah lama bercakap-cakap Sultan Agung Mataram mohon diri dan ingin
meneruskan persaudaraan dengan Kyai Singoprono dan sejak saat itulah terjalin hubungan
yang erat antara Keluarga Kerajaan Mataram dan Kyai Singoprono, juga diketahui
bahwa Kyai Singoprono ternyata masih ada kekerabatan dengan silsilah Keluarga Raja
Mataram.
Sampai
disinilah cerita mengenai asal mula nama Desa Ngaliyan dan Desa Jaweng.
ASAL
MULA DESA TALAKBROTO
Pada
suatu hari datanglah seorang wanita bernama Mbok
Nyai
(yang menurut penuturan masyarakat memang
namanya
adalah Mbok Nyai didapat dari para pengikutnya
jika
memanggilnya dan tidak ada yang tahu nama aslinya,
sedangkan
asal usulnya masih keturunan bangsawan
Surakarta)
bersama beberapa orang pengikutnya ke hutan
yang
bernama Lanji (sekarang Desa Talakbroto, Kabupaten
Boyolali),
mereka membawa peralatan lengkap termasuk
peralatan
perang.
Setelah
Pakubuwono III mangkat, di Mataram terjadi
peperangan
besar, perang saudara antara Pakubuwono III
yang
diangkat oleh Kompeni Belanda dan Mangkubumi yang
memberontak
dan mengangkat dirinya menjadi Sultan
Hamengkubuwono
I di Yogyakarta. Setelah semua reda
tiba-tiba
timbul lagi pemberontakan melawan Belanda oleh
Raden
Mas Sahid beserta pengikutnya, oleh karena
gencarnya
perlawanan Raden Mas Sahid maka Belanda
menggunakan
taktiknya yaitu memberikan sebidang tanah
dan
dijadikan raja diwilayah itu dengan gelar Mangkunegara
I.
Tipu
daya tersebut dirasa berhasil oleh Belanda, namun
diberbagai
wilayah masih terjadi pemberotakan oleh
kelompok-kelompok
kecil yang membuat keresahan bagi
Belanda,
Kerajaan Surakarta Hadiningrat, Kerajaan
Yogyakarta,
dan Mangkunegaran. Pada akhirnya keempat
pihak
tersebut dapat menekan kelompok-kelompok yang
memberontak
sehingga lari ke pelosok-pelosok dan hutanhutan.
Dua
orang kakak beradik laki-laki dan perempuan beserta
pengikutnya
terdesak dan melarikan diri sampai di
pegunungan
Kendeng Selatan (tepatnya sekarang di Desa
Talakbroto,
Kecamatan Simo Kabupaten Boyolali. Kakak
beradik
tersebut bernama Kyai Pundung Kusuma dan Mbok
Nyai,
mereka berdua dan pengikutnya walaupun sudah
terdesak
namun kesemuanya bertekad baja untuk selalu
berjuang
melawan Belanda beserta anteknya.
Mereka
memperhitungkan dengan kekuatan mereka saat itu
masih
belum cukup untuk melawan Belanda maka mereka
membuat
dukuh tempat mereka diam guna menyusun
kekuatan
juga mengadakan latihan perang prajurit dan
berkuda
(disebelah barat Desa Talakbroto yang saat ini
disebut
Mukajaran). Sayang pada waktu itu Kyai Pundung
Kusuma
diketemukan meninggal dengan posisi terlentang
pada
saat mengadakan latihan perang (tempat tersebut
dinamakan
Mbatangan dalam istilah Jawa artinya tempat
bangkai),
kemudian Mbok Nyai dan pengikutnya
memakamkan
jasad Kyai Pundung Kusuma diatas bukit dan
orang
menamakan tempat tersebut Makam Santono
(terletak
di sebelah utara Dukuh Pengkol Desa Talakbroto
dan
sampai saat ini orang masih mengeramatkan makam
tersebut).
Atas
meninggalnya Kyai Pundung Kusuma, niat Mbok Nyai
beserta
para pengikutnya untuk melawan Belanda menjadi
kendor
namun niat untuk menyebarkan ajaran Agama Islam,
melawan
kebodohan dan kemiskinan tidak ikut terkubur
bersama
jasad Kyai Pundung Kusuma namun tertanam di
benak
mereka. Mbok Nyai ingin agar anak cucu penerus
generasi
bangsa kelak memiliki budi pekerti yang luhur (hal
ini
dijalani dengan talakbroto) suka menolong dan
bergotong-royong
dan dapat hidup tenteram. Sambil bertapa
Mbok
Nyai beserta pengikutnya membuka hutan untuk
dijadikan
tempat berdiam bagi masyarakat dan lahan untuk
bercocok
tanam dan membuat kolam untuk memelihara
ikan.
Untuk
tanda/tetenger Mbok Nyai kemudian menanam
pohon
kelapa pada suatu tempat, seiring dengan
berjalannya
waktu pohon kepala tersebut tumbuh dengan
subur
namun terjadi sebuah keajaiban, tidak ada
seseorangpun
yang berani memanjat pohon kelapa tersebut
dan
lebih aneh lagi tidak ada satupun pelepah kering yang
jatuh
dibawah pohon kelapa tersebut. Lama kelamaan
disekitar
pohon kelapa itu tumbuh, dibangun rumah-rumah
penduduk,
dan oleh Mbok Nyai tempat tersebut dinamakan
Dukuh
Krambilsawit (diambil dari kata Bahasa Jawa krambil
sa
uwit dalam Bahasa Indonesdia artinya satu pohon
kelapa-terletak
sebelah timur laut Desa Talakbroto), Alkisah
pohon
kelapa tersebut akhirnya mati karena termakan usdia
dan
daerah sekitarnya telah ditanami pohon-pohon kelapa
oleh
penduduk sebagai wujud melestarikan apa yang telah
dimulai
oleh Mbok Nyai.
Konon
Mbok Nyai memiliki pusaka ampuh untuk
perlindungan
yang berwujud sapu tangan, menurut cerita
sapu
tangan tersebut tidak pernah dikeluarkan dan jika
dikeluarkan
hanya bila menghadapi musuh. Kegunaan dari
sapu
tangan tersebut bila dikeluarkan dan direntangkan
didepan
musuh, maka musuh tidak dapat melihat Mbok Nyai
beserta
dengan pengikutnya.
Pada
sebuah malam bulan purnama Mbok Nyai beserta
para
pengikutnya berkumpul (seperti malam-malam
sebelumnya-digunakan
sebagai ajang santai, berkelakar dan
memberikan
petuah kepada pengikutnya), Mbok Nyai
memberikan
petuah agar para pengikutnya memahami
situasi
yang dihadapi saat ini dan janganlah ada yang
mengeluh
tentang segala kekurangan dan permasalahan
yang
dihadapi untuk dapat diselesaikan bersama-sama,
menurut
nenek Mbok Nyai dukuh yang memiliki puncak yang
tinggi
adalah dukuh yang baik, penduduk yang tinggal
disekitarnya
akan makmur dan tenteram dan memiliki
kebahagdiaan
akherat sebagai lambang puncak tinggi
tersebut
apalagi diapit oleh dua buah sungai dan Mbok Nyai
betutur
pula bahwa dia akan menghabiskan sisa hidupnya
ditempat
tersebut.
Tahun
demi tahun berganti dan kesehatan Mbok Nyai
semakin
menurun termakan usdia yang sudah lanjut dan tak
lama
kemudian tutup usia akibat penyakit yang
disandangnya,
beliau dimakamkan diatas bukit sesuai
dengan
permintaannya bahwa bukit tersebut jangan
digunakan
sebagai tempat tinggal melainkan digunakan
sebagai
tempat untuk memakamkan jasadnya dan para
pengikutnya.
Sandal kayu (dalam Bahasa Jawa disebut
gamparan)
yang bdiasa Dia pakai diletakkan diatas
makamnya.
para pengikutnya merasa sedih dan mereka
lupa
akan petuah Mbok Nyai agar mereka melestarikan apa
yang
sudah Mbok Nyai mulai, mereka pergi begitu saja
meninggalkan
apa yang telah mereka perjuangkan selama
ini.
Beberapa
saat setelah meninggalnya Mbok Nyai datanglah
seorang
pengembara bernama Kyai Sakip (berasal dari
Desa
Rambat, Kelurahan Ngembat, Kecamatan Gemolong,
Kabupaten
Sragen), Kyai Sakip dikenal orang sebagai
seorang
yang taat menjalankan ibadah dan sakti
mandraguna
dibuktikan apabila Kyai Sakip datang atau
pulang
pasti terdengar suara kuda meringkik sebelumnya.
Kesaktian
Kyai Sakip juga dibuktikan dengan
peninggalannya
yang berupa kentongan kayu (sekarang
berada
di Masjid Ngaliyan, Desa Pelem, Kecamatan Simokentongan
tersebut
selalu dibawa oleh Kyai Sakip saat
mengembara)
saat bala tentara Belanda sampai di Simo
untuk
berpatroli mereka sampailah di Masjid Ngaliyan, entah
mengapa
kepala pasukan masuk ke Masjid kemudian buang
air
di kentongan tersebut, seketika itu pula bengkaklah
kemaluan
si kepala pasukan dan ia dilarikan oleh bala
tentaranya
menuju markas.
Maksud
dan tujuan Kyai Sakip sebenarnya adalah untuk
mencari
keberadaan peninggalan Mbok Nyai beserta
pengikutnya.
Setelah mengetahui bahwa dalam membuat
dukuh-dukuh
peninggalan Mbok Nyai tersebut dengan
menggunakan
tarak broto maka Kyai Sakip menamakan
daerah
tersebut Dukuh Tarak-Broto yang lama kelamaan
berubah
sebutannya menjadi Talakbroto. Kemuadian Kayai
Sakip
juga membawa kedua anaknya Ki Tiyah (tinggal di
Dukuh
Talakbroto) dan Ki Secowijaya (tinggal di Dukuh
Pulung
Kalurahan Gunung Kecamatan Simo) untuk tinggal
di
Dukuh Talakbroto, kedua anaknya tersebut dibimbing
agar
selalu menjadi orang yang soleh, diajari cara bertani
dan
beternak ikan yang baik.
Kyai
Sakip juga membuat bendungan di Dusun Pancingan
Kalurahan
Walen (dinamakan Dusun Pancingan karena di
tempat
tersebut banyak tumbuh pohon pancing dan
bendungan
tersebut dinamakan Kedung Canggal), dengan
kesaktiannya
pula saluran air juga dibuat dengan tongkat
keramatnya,
mengalir melalui tepi Dukuh Pulung sebelah
selatan
Dukuh Talakbroto yang berakibat suburnya wilayah
tersebut.
Kyai
Sakip dimakamkan di Makam Karang Duren Kalurahan
Gunung
dan dikeramatkan oleh penduduk setempat, dan
tongkat
keramatnya ditancapkan diatas pusaranya untuk
menjadi
pertanda.
ASAL
MULA NAMA DESA GAGAK SIPAT
Sejarah
Kyai Gagak sipat atau nama aslinya Pangeran
Gambir
Anom yang sewaktu Pemerintahan Pangeran
Gambir
Anom yang sewaktu pemerintahan Paku Buwono II
(1729-1749)
menjadi Raja di Keraton Kartasura beliau
menduduki
jamatan sebagai Bupati Penamping. Karena ikut
melawan
kekuasaan raja yang didominasi oleh Kompeni
atau
Belanda.
Bersama-sama
dengan Mas Garendi putra Pangeran
Teposono
yang dibantu oleh orang-orang Cina mengadakan
pemberontakan
melawan Belanda.
Tujuan
pertama kali dari para pemberontak ini adalah
mengusir
penjajah belanda dari tanah air. Awal
pemeberontakan
Mas Garendi awalnya berhasil melawan
penjajah
dan merebut Keraton Surakarta, kemudian Mas
Garendi
oleh para pengikutnya dinobatkan menjadi Sunan
Kuning.
Paku Buwono II berhasil lari ke Ponorogo.
Belanda
melihat Paku Buwono II terdesak sangat senang
dan
menawarkan bantuan untuk duduk kembali di tahta
Kartosuro
asal Seluruh wilayah pantai utara sepenuhnya
kepada
Belanda.dan hali itu disetujui oleh Paku Buwono II.
Tentara
Kartasura yang telah lari bersama rajanya
meninggalkan
keratonnya, setelah mendapatkan bantuan
dari
Belanda dtambah tentara Bugis, Madura mengadakan
penyerbuan
ke Keraton Kartasura dengan persenjataan
yang
lebih unggul dari pada Mas Garendi. Akhirnys dengan
sangat
terpaksa Mas Garendi beserta pasukannya mundur
meninggalkan
Benteng Kartasura oleh karena persenjataan
kalah
modern, korban banyak berjatuhan di pihak Mas
Garendi.
Tentara yang menyerah ditangkap kemudian
dibunuh,
sedangkan sisanya lari ke Gunung Kidul dan lari ke
lereng
Gunung Merapi menghindar dari kejaran tentara
Belanda
termasuk Adipati Mertoloyo atau Pangeran Gambir
Anom.
Sedangkan Mas Garendi lari ke Pasuruan.
Pada
waktu Pangeran Gambir Anom bersemadi, untuk
memohon
petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa maka
Pangeran
Gambir Anom menerima wangsit agar
meninggalkan
goa persembunyiannya beserta pengikutnya
ke
arah timur dengan menyamar sebagai rakyat biasa dan
akan
diberikan petunjuk lagi tempat persembunyian yang
baru.
Dan benar tenyata perjalanan Pangeran Gambir Anom
tidak
sendiri, ditemani oleh seekor burung gagak yang
menunjukkan
Pangeran Gambir Anom kemana arah yang
dituju.
Pada
akhirnya sampailah Pangeran Gambir Anom di sebuah
pohon
beringin besar dan lebat daunnya dan burung gagak
tersebut
berhenti dan tidak terbang lagi dengan arti bahwa
perjalanannya
beserta para pengikutnya telah usai dan
burung
gagak tadi menyipat / mengarahkan arah perjalanan
Pangeran
Gambir Anom.
Kemudian
Pangeran Gambir Anom beserta pengikutnya
mendirikan
padepokan di daerah tempat pohon beringin
tersebut
berada, dan untuk mengenang jasa dari burung
gagak
tersebut maka dusun tempat Pangeran Gambir Anom
menetap
tersebut dinamakan Dusun Gagak Sipat.
Agar
Pangeran Gambir Anom dan para pengikutnya
keberadaan
idak diketahui oleh Belanda maupun Paku
Buwono
II beserta para tentaranya maka nama Pangeran
Gambir
Anom diubah menjadi Kyai Gagak Sipat. Beberapa
saat
setelah bermukim di tempat tersebut maka setelah
tangkar
tumangkar dan memiliki dua orang anak laki-laki
yang
diberikan nama Gagak Pratolo dan Kyai Merjan.
Keduanya
setelah meninggal dunia dimakamkan di dekat
ayahnya,
Pangeran Gambir Anom.
Kyai
Gagak Sipat sebelum meninggal berpesan, bahwa
nanti
jasadnya agar dimakamkan di bawah pohon beringin,
dan
kepada turun temurunnya berpesan agar nama Adipati
Martoloyo
atau Gambir Anom dirahasiakan mengingat beliau
adalah
pemberontak melawan kekuasaan Raja atau
Belanda
dan makamnya agar jangan sampai dipugar atau
dimuliakan,
sebab besok yang berhak memugar atau
memuliakan
adalah kalau sudah sampai pada cucu-cucunya
agar
identitasnya tidak terbongkar serta anak cucunya tidak
mendapatkan
balasan dari pihak Belanda.
ASAL
MULA NAMA PANTARAN
Suatu
daearah di kaki Lereng Gunung Merbabu sebelah
timur
tanahnya berbukit-bukit serta hawanya dingin.
Tanahnya
yang gembur sehingga subur tanaman yang ada
terbentang
luas menyelimuti lereng-lereng bukit sehingga
menambah
keindahan pemandangan alam.
Ditempat
tesebut tinggal seorang Wiku yang terkenal sakti,
arif
bijaksana berbudi pekerti luhur dan berjiwa sosial, setiap
saat
ia memberikan pertolongan bagi yang memerlukan dan
memberikan
tuntunan bagi masyarakat agar tercipta
kerukunan,
kedamaian dan kebahagiaan, sang Wiku tinggal
bersama
putrinya bernama Nawangsih.
Semakin
lama nama sang Wiku tersebut semakin tersohor
ke
seluruh penjuru wilayah, sehingga terdengar pula sampai
di
Kerajaan Pengging, sehingga Sang Prabu Kusumawicitra
timbul
niatnya untuk membuktikan kebenaran cerita
tersebut,
maka segeralah Sang Prabu Kusumawicitra
memanggil
puteranya yang bernama Pangeran Citrasoma.
Perintah
sang ayah supaya Pangeran Citrasoma pergi ke
Lereng
Gunung Merbabu bagian timur untuk menemui sang
Wiku,
dan apabila benar Wiku tersebut ada maka Pangeran
Citrasoma
harus berguru pada sang Wiku. Dan pergilah
Pangeran
Citrasoma setelah mohon doa restu kepada sang
ayah
disertai dua orang abdinya.
Dengan
niat yang menyala-nyala Pangeran Citrasoma
berjalan
diiring dua orang abdinya menyusuri lembahlembah
dan
lereng-lereng untuk mencari Sang Wiku. Saat
itu
Pangeran Citrasoma sampai di sebuah lereng yang
ditanami
dengan sayur mayur nan subur dan disitu ada
seorang
gadis yang cantik jelita sedang memetik sayur.
Segeralah
Pangeran Citrasoma mendekati gadis tersebut
dan
bertanya, “Gadis manis dimanakah rumahmu?”,
mendengar
pertanyaan tersebut si gadis urung menjawab
dan
lari ketakutan karena ia mengira akan diganggu orang
jahat.
Tentu
saja Pangeran Citrasoma mengejarnya melihat sikap
si
gadis, dan sampailah si gadis disebuah rumah dan segera
masuk.
Pangeran Citrasoma menyusul ke dalam namun
sebelumnya
ia mohon ijin dahulu dan setelah diperkenankan
masuk
mereka saling memperkenalkan diri yang ternyata si
gadis
tersebut tak lain adalah Dewi Nawangsih yaitu anak
sang
Wiku dan Pangeran Citrasoma pun memperkenalkan
diri
dan menjelaskan maksud dan tujuan kedatangannya di
tempat
tersebut.
Sang
Pangeran diterima menjadi murid dan setelah
kedatangan
Pangeran Citrasoma selang beberapa hari
kemudian
datanglah seorang aulia yang menamakan dirinya
Syeh
Maulana Malik Ibrahim Maghribi dan setelah
sementara
waktu berjalan dan telah bertemu dengan sang
Wiku
maka Syeh Maulana Malik Ibrahim Maghribi
mengutarakan
maksudnya yang akan menyebarkan ajaran
Agama
Islam di daerah tersebut, dan sang Wiku
memperbolehkannya
yang akhirnya membawa semua
penduduk
untuk mempelajari Agama Islam.
Hari
demi hari berlalu, Dewi Nawangsih dan Pangeran
Citasoma
saling menaruh hati dan hal tersebut disampaikan
secara
terus terang kepada sang Wiku oleh Pangeran
Citrasoma.
Sang wiku tidak segera menjawabnya dan
mohon
petunjuk dari Syeh Maulana Malik Ibrahim Maghribi
mengenai
hal tersebut. Setelah mendapatkan saran maka
sang
wiku menjawab Pangeran Citrasoma, bahwa
lamarannya
diterima namun sebelum itu Pangeran
Citrasoma
harus membuat sumber mata air yang dapat
dipergunakan
untuk penghidupan orang banyak. Setelah
menerima
keterangan tersebut maka pulanglah Pangeran
Citrasoma
ke Pengging untuk melapor kepada ayahnya.
Dan
setelah Pangeran Citrasoma sampai di Kerajaan
Pengging
ia menceritakan bahwa semua yang ayahnda
dengar
adalah benar adanya, bahwa di lereng Gunung
Merbabu
sebelah timur tersebut ada seorang Wiku yang
sakti,
arif bijaksana, berbudi pekerti luhur dan memiliki
seorang
gadis cantik yang kini telah singgah di hati sang
pangeran
dan berkeinginan untuk meminangnya. Sang
Prabu
Kusuma Wicitra pun merestui hubungan mereka
berdua
dan memberikan petunjuk bahwa pangeran
Citrasoma
harus bertapa di lereng Gunung Merbabu selama
empat
puluh hari empat puluh malam dan minta bantuan
raja
jin disana bernama Prabu Karawu.
Setelah
mendapat petunjuk dari ayahnda Pangeran
Citrasomapun
berangkat memenuhi apa yang dikatakan
sang
Wiku. Empat puluh hari empat puluh malam berlalu
dengan
berbagai macam godaan dan akhirnya raja jin yaitu
Prabu
Karawu muncul dan menyanggupi permintaan Sang
Pangeran
untuk membuatkan mata air yang diminta oleh
sang
Wiku.
Selang
beberapa hari kemudian muncullah mata air didekat
tempat
pertapaan Pangeran Citrasoma, betapa gembiranya
hati
Sang Pangeran melihat hal ini dan segeralah ia turun ke
padepokan
untuk memberi kabar kepada Syeh Maulana
Malik
Ibrahim Maghribi mengenai hal ini. Setelah mereka
mendengar
cerita tersebut Syeh Maulana Malik Ibrahim
Maghribi
dan Sang Wiku segera datang dimana mata air itu
muncul
dan tersungkurlah mereka dan mengucapkan puji
syukur
ke hadirat Yang Esa. Keanehanpun terjadi setelah
diamati
air yang memancar dari mata air itu tidaklah lurus
namun
berlekuk menyerupai pendok (lekukan dalam
bahasa
jawa) keris yang pada akhirnya Syeh Maulana Malik
Ibrahim
Maghribi mengatakan bahwa mata air tersebut
dinamakan
Tuk Sipendok. Kemudian Pangeran Citrasoma
memboyong
Dewi Nawangsih ke kerajaan Pengging.
Sepeninggal
Pangeran Citrasoma dan Dewi Nawangsih
yang
pergi Ke Kerajaan Pengging, masyarakat setempat
dengan
dipimpin oleh berkeinginan membangun masjid,
masyarakat
mulai mengumpulkan bahan bangunan yang
dibutuhkan
namun mereka tidak memiliki kayu jati yang
sedianya
akan dijadikan saka guru bangunan. Akhirnya oleh
Syeh
Maulana Malik Ibrahim Maghribi diutuslah seorang ke
kerajaan
Demak untuk memohon bantuan, tetapi apa daya
pulang
dengan tangan kosong karena saat itu Kerajaan
Demak
sedang membangun Masjid Agung Demak.
Syeh
Maulana Malik Ibrahim Maghribi tidak putus asa
dengan
keadaan seperti itu maka diusahakannya dengan
bahan
seadanya untuk dapat meneruskan membangun
masjid
tersebut, maka setelah semuanya selesai masjid
tersebut
diberikan nama pantaran (sebaya) karena seiring
dengan
pembangunan Masjid Agung Demak. Banyak orang
kemudian
menyebut sang Wiku sebagai Ki Ageng Pantaran
oleh
karena jasa-jasanya kepada masyarakat. Setelah
meninggal
Ki Ageng pantaran dimakamkan dan tempat
untuk
memakamkan Ki Ageng Pantaran diberikan nama
sama
juga yaitu Makam Pantaran (terletak di Desa
Candisari,
Kecamatan Ampel) begitu pula dengan Dewi
Nawangsih,
sedangkan Syeh Maulana Malik Ibrahim
Maghribi
tidak dimakamkan di tempat tersebut setelah wafat
melainkan
hanyalah benda-benda pusakanya saja, oleh
sebab
tersebut diatas sampai saat ini masyarakat masih
mengkeramatkan
makam tersebut dan dijadikan sebagai
tempat
berziarah pada hari Kamis malam Jumat dan setiap
tahunnya
diadakan Upacara Tradisional Buka Luwur yang
bertujuan
melestarikan apa yang telah dimulai oleh
pendahulu
kita.
ASAL
MULA NAMA SIMO
Sawah
dan ladang milik Kyai Singoprono subur dengan hasil
melimpah
ruah, namun kesemuanya itu merupakan hasil
kerja
keras dan doa yang senantiasa menghiasinya.
Suatu
malam yang cerah, bulan dan bintang bersinar terang,
dengan
membawa tombak saktinya, Kyai Singoprono pergi
ke
sawah untuk melihat-lihat apakah tanamannya aman dari
gangguan
hama dan binatang.
Dengan
berhati-hati dan waspada Kyai Singoprono
mengelilingi
sawahnya, dan Kyai Singoprono merasa
tentram,
sebab tanamannya tak satupun yang rusak.
Namun
hatinya gundah tak menentu tapi tidak mengetahui
sebabnya,
sebentar-sebentar dilihatnya sawah didepannya
walaupun
tidak terlihat sesuatu apapun kemudian duduk
kembali
untuk waspada terhadap suara-suara yang
mencurigakan
tetapi tak ada sesuatu peristiwa yang
menjawab
kegundahan itu.
Setelah
sementara waktu dari kejauhan sayup terdengar
suara
gemuruh datang mendekat dan terus mendekat ke
arah
Kyai Singoprono duduk, dan semakin lama terdengar
jelas
banyak kaki-kaki binatang besar berlari mendekat.
Berdegup
kencang jantung Kyai Singoprono mendengarnya.
Waspada
dengan tombak sakti ditangan dan terjawab
kegundahan
hatinya, dari arah depan datang segerombolan
babi
rusa menghampiri sawahnya dan mereka berpesta
pora,
makan dan merusak tanamannya. Kyai Singoprono
berfikir
sejenak akan ditangkapnya babi rusa itu namun
karena
banyak akhirnya diurungkan niat dan diteguhkan
hatinya
untuk menyerang kawanan itu..
Kyai
Singoprono mengendap-endap mendekati kawanan
babi
rusa itu dan setelah mantap hatinya maka dibidikkanlah
tombak
pusaka ditangan dan dilempar dan mengenai salah
satu
babi rusa itu namun aneh bukannya roboh dan mati
tetapi
terus berlari seperti tak terkena senjata tombak itu.
Oleh
karena serangan yang tiba-tiba, kawanan babi rusa itu
terkejut
dan tunggang langgang lari masuk kembali menuju
hutan.
Oleh
karena tombak saktinya tertancap pada salah satu babi
rusa
tersebut Kyai Singoprono terus mengejar berharap babi
rusa
yang terkena tombaknya akan mati kehabisan tenaga.
Terus
mengejar seakan ada kekuatan gaib merasuki diri
Kyai
Singoprono sehingga mendapat kekuatan untuk berlari.
Setelah
lama dikejar sampailah Kyai Singoprono ditengah
hutan
dan sekoyong-koyong keadaan sekitar Kyai
Singoprono
berubah menjadi alun-alun keraton dan
didepannya
tampaklah istana keraton nan megah. Kyai
Singoprono
merasa bahwa dirinya bermimpi dan dicubitnya
lengannya
namun masih merasa sakit, Kyai Singoprono
berjalan
mendekati istana tersebut lalu tampaklah prajurit
yang
menjaga istana datang menghampirinya dengan
tergesa-gesa
dan kemudian bertanya kepada prajurit
penjaga.
Penjaga
tersebut bercerita bahwa puteri raja sedang sakit
keras
dan telah diupayakan melalui berbagai cara dan
berbagai
pengobatan namun tak kunjung sembuh dan Raja
telah
membuat sayembara yang bunyinya barang siapa
yang
bisa mengobati sakit sang puteri, bila laki-laki akan
dijadikan
menantu dan apabila wanita akan dijadikan
saudara
bagi puterinya. Mendengar cerita itu Kyai
Singoprono
ingin mencoba mengobati penyakit sang puteri
raja.
Setelah mendapatkan ijin Kyai Singoprono diantar
berjalan
menuju ruang peristirahatan sang puteri, dan
setibanya
disana terlihat keluarga raja sedang berduka dan
tak
kuasa menahan tangis.
Dipersilahkan
Kyai Singoprono mengobati sang puteri.
Setelah
diraba dengan dibubuhi mantra Kyai Singoprono
menemukan
pada pangkal paha sang puteri tertancap
tombak
saktinya. Betapa terkejutnya Kyai Singoprono akan
hal
itu namun disembunyikan perasaannya dan ia yakin
bahwa
tombak saktinyalah yang menyebabkan sang puteri
sakit.
Benar
adanya setelah tombak sakti tersebut dicabut dan
dimasukkan
ke dalam kantong baju Kyai Singoprono secara
ajaib
sebuhlah sang puteri dari sakitnya.
Sesuai
dengan janji sang raja maka Kyai Singoprono
dijadikan
menantu sang raja dan diadakan pesta yang
meriah
dan entah kekuatan apa yang merasuki Kyai
Singoprono
sehingga tidak ingat akan dirinya yang telah
memiliki
isteri.
Hari
demi hari berlalu dan mereka hidup rukun saling
mencintai
dan tiba-tiba teringatlah Kyai Singoprono kepada
isterinya
dan ingin pulang untuk menemui isteri yang telah
lama
ia tinggalkan.
Maka
Kyai Singoprono pamit untuk pergi mengembara untuk
waktu
yang agak lama.
Setelah
diijinkan berangkatlah Kyai Singoprono menuju ke
kampung
halamannya, namun betapa terkejutnya setelah ia
bertemu
orang-orang yang berteriak babi rusa dan
mengejarnya,
begitulah seterusnya berulang kali sampai
suatu
saat merasa lelah dan pulang kembali menuju
kerajaan
sang puteri.
Kyai
Singoprono berfikir sejenak dan memohon kepada
Tuhan
agar diberikan petunjuk mengenai apa yang terjadi
pada
dirinya.
Dan
teringat pulalah pada pakaian yang ia kenakan pada
waktu
mengejar babi rusa dan segera seperti mendapatkan
petunjuk
saat itu juga dilepaskan pakaian barunya dan
dikenakannya
kembali pakaian usangnya dan setelah itu ia
minta
ijin lagi kepada isteri barunya untuk kembali pergi
meneruskan
perjalanan, anehnya dalam perjalanannya Kyai
Singoprono
tidak dikejar-kejar orang lagi dan tidak ada yang
meneraki
babi rusa lagi.
Setelah
berjalan seharian menjelang maghrib sampailah
Kyai
Singoprono di tepi kampung halamannya dan beberapa
saat
kemudian sampai di depan rumahnya namun terkejut
bukan
kepalang karena sayup-sayup terdengar suara doa
yang
dipanjatkan seperti bila ada orang yang mempunyai
hajat
kenduri. Dengan perasaan yang kurang enak Kyai
Singoprono
terus berjalan masuk ke dalam rumahnya.
Begitu
melihat Kyai Singoprono orang-orang yang tadinya
berdoa
di dalam rumahnya berhamburan keluar dengan
wajah
pucat pasi tak ada yang berani menatap Kyai
Singoprono
dan perempuan-perempuan yang ada di dapur
tak
ada yang bisa berlari karena kaki mereka seperti dipaku
ke
tanah akibat melihat Kyai Singoprono. Segera Kyai
Singoprono
menghampiri isterinya dan lama sekali mereka
berpandangan
melepas rindu dan tanda tanya yang selama
ini
menyelimuti kepergian Kyai Singoprono. Orang-orang
yang
tadinya lari tunggang langgang pun memberanikan diri
kembali
masuk ke dalam rumah dan ingin tahu kejadian apa
sebenarnya
yang telah dialami oleh Kyai Singoprono. Ya,
kepergian
Kyai Singoprono telah 3 tahun (1000 hari)
lamanya
meninggalkan isterinya.
Semenjak
saat itu menjadi tradisi bagi masyarakat sekitar
Simo
dan Walen bahwa bila ada sanak keluarga yang hilang
setelah
3 tahun tidak pulang maka keluarga itu tidak
mengharapkan
kembali atau dengan anggapan bahwa telah
meninggal
dunia tetapi apabila kurang dari 3 tahun maka
keluarganya
masih tetap mencari dan mengharapkan
kedatangan
sanak keluarga yang hilang tersebut.
Kembali
kepada Kyai Singoprono yang telah kembali kepada
kehidupan
kesehariannya yang setelah mengalami kejadian
tersebut
menjadi lebih tekun beribadah dan bertambah
taqwa
kepada Yang Maha Kuasa. Cerita tentang Kyai
Singoprono
yang telah menghilang selama 3 tahun tersebut
menjadi
buah bibir tersebar sampai ke seluruh pelosok
negeri
sampai ke Kerajaan Demak dan sang Sultan Demak
ingin
bertemu dengan Kyai Singoprono dan ingin
mengetahui
kesaktiannya apalagi saat itu Sultan memiliki
rencana
untuk menaklukkan Raja Pengging. Akhirnya Sultan
Demak
berangkat sendiri menyamar menjadi rakyat jelata
yang
miskin dan dikawal pasukannya menuju kediaman Kyai
Singoprono
di Desa Walen hal tersebut dilakukan agar Kyai
Singoprono
tidak mengenal sang Sultan dengan pakaian
kebesarannya
sebagai seorang raja. Setelah berjalan
berhari-hari
sampailah Sultan Demak di sebuah desa yang
disitu
tumbuh sebatang pohon duwet putih yang rindang dan
Sultan
Demak ingin beristirahat barang sejenak dan
diperintahkannya
beberapa prajuritnya untuk mencari
keterangan
dimanakah rumah Kyai Singoprono, setelah
mendapatkan
keterangan dari penduduk desa kembalilah
prajurit
menemui sang Sultan dan meneruskan perjalanan
kembali
menuju kediaman Kyai Singoprono. Sesampainya di
rumah
Kyai Singoprono sang Sultan duduk di depan pintu
rumah
sambil meminta sedekah. Saat itu Kyai Singoprono
sedang
makan siang dan segera ditinggalkannya makanan
yang
sedang disantapnya kemudian datang menghampiri
pengemis
itu dan dipersilakan untuk masuk dan makan
bersamanya.
Namun pengemis itu bertanya kepada Kyai
Singoprono
mengapa seorang pengemis yang hina papa di
persilakan
dan diperlakukan demikian? Jawab Kyai
Singoprono
bahwa hal tersebut adalah tindakan yang biasa
dan
harus dilakukan kepada siapapun juga tidak boleh
pandang
bulu apalagi saya tahu bahwa anda bukan
pengemis
dan anda adalah Sultan Demak yang sedang
menyamar
menjadi seorang pengemis dan perlu
diperlakukan
dengan hormat. Takjublah sang Sultan
mendengar
hal tersebut dan mengambil kesimpulan bahwa
memang
berita yang sang Sultan dengar selama ini
bukanlah
isapan jempol semata, melainkan sebuah
kenyataan
bahwa Kyai Singoprono adalah seorang yang arif
bijaksana
baik dalam perkataan dan perbuatannya juga sakti
mandraguna,
sampai-sampai sang Sultan terduduk di depan
Kyai
Singoprono namun Kyai Singoprono menempatkan diri
sebagai
rakyat biasa yang menghadap rajanya.
Kyai
Singoprono dan sang Sultan terlibat dalam
pembicaraan
yang panjang lebar dan disampaikan pula oleh
sang
Sultan keinginannya untuk menaklukkan Kerajaan
Pengging
dan telah disiapkan pasukan menuju ke Kerajaan
Pengging
dan sekarang tengah beristirahat di sekitar pohon
duwet
putih menunggu perintah sang Sultan, namun apa
yang
menjadi keinginan sang Sultan tidak dikabulkan oleh
Kyai
Singoprono dan apabila sang Sultan berperang akan
menemui
kegagalan namun sang Sultan tetap pada
pendiriannya
sehingga terus terjadi perdebatan diantara
mereka
berdua. Setelah lama berdebat sang Sultan tetap
pada
pendiriannya mengajukan syarat apabila Bende
pusaka
Kyai Bercak yang tergantung dipohon duwet putih
tempat
pasukan Kerajaan Demak dipukul dan mengeluarkan
bunyi
keras maka Kyai Singoprono akan setuju tetapi
kebalikannya
apabila bende pusaka yang tergantung
dipohon
duwet putih tempat pasukan Kerajaan Demak
dipukul
dan mengeluarkan bunyi tidak keras maka dia tidak
setuju
dengan apa kehendak sang Sultan dan memohon
sang
Sultan untuk kembali ke Kerajaan Demak beserta
pasukannya.
Menanggapi perkataan Kyai Singoprono sang
Sultan
pergi meninggalkan Kyai Singoprono menuju pohon
duwet
putih (sekarang masih hidup dan terletak di sebelah
barat
Kantor Kecamatan Simo, Boyolali) kemudian
memerintahkan
kepada salah seorang prajuritnya untuk
memukul
Bende
Pusaka Kyai Bercak dan ternyata setelah
dipukul
mengeluarkan bunyi hanya seperti harimau yang
mengaum.
Suara itu terdengar sampai jauh dan
mengundang
perhatian banyak orang karena memang di
daerah
tersebut sering terdapat gangguan harimau.
Orang-orang
di daerah itu lalu menuju arah dimana
datangnya
suara tadi untuk mengejar harimau tersebut dan
sampailah
orang banyak tersebut di tempat dimana pasukan
sang
Sultan berhenti tepatnya dipohon duwet putih tempat
Bende
pusaka Kyai Bercak dikaitkan diatasnya.
Berkatalah
orang banyak tersebut tentang suara yang
mereka
dengar datang dari arah tersebut lalu sang Sultan
sendiri
datang menghampiri mereka dan berkata bahwa
suara
tersebut bukan berasal dari harimau sesungguhnya
melainkan
dari Bende Pusaka Kyai Bercak yang dipukul dan
mengeluarkan
bunyi seperti auman seekor harimau dan
menyatakan
kepada orang banyak tersebut bahwa besok
jika
tempat menjadi sebuah desa maka dinamakan Desa
Simo,
dan setelah berkata demikian orang banyak itu lalu
pulang
ke rumah masing-masing dan setelah peristiwa itu
masyarakat
menamakan daerah itu Desa Simo.
BENDARA
KLIWON KACANGAN
Pada
masa Kerajaan Kasunanan Surakarta Hadiningrat
yang
diperintah oleh Pakubuwono X, hidup seorang Kyai
yang
sangat terkenal namanya di daerah Kerajaan
Surakarta,
Kyai tersebut bernama Kyai Yahya.
Kemashyurannya
di kalangan keluarga kerajaan
dikarenakan
ilmunya yang tinggi, kejujuran dan akhlak yang
mulia,
sepadan dengan kedudukannya sebagai seorang
pemimpin
agama. Oleh karena hal-hal tersebut raja sangat
dekat
dengan Kyai yahya apalagi telah ada pertalian antara
keluarga
Raja dengan Keluarga Kyai Yahya yaitu
perkawinan
antara kakak perempuan Raja PB. X dengan
putra
Kyai Yahya yang bernama Ki. Gitadipura.
Kepercayaan
raja terhadap Kyai Yahya mengantarkan Ki
Gitadipura
diangkat menjadi Kliwon Kacangan yang
memang
pada saat itu jabatan tersebut masih
kosong.Semula
Raja PB. X telah memerintahkan agar Ki
Gitadipura
agar berkedudukan di Desa Krajan (sekarang
daerah
Karangmojo, Kecamatan Klego) tetapi oleh guru Ki
Gitadipura
(Kyai Gethong yang bertempat tinggal di Ngawi
Jawa
Timur) tidak diperbolehkan tetapi diharuskan
berkedudukan
di desa sebelah timur Desa sumur Genthong
Kacangan.
Perintah
sang guru dipatuhi dan mulailah Ki Gitadipura
mohon
petunjuk kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan
cara
shalat isthikharah ditempat tersebut, dan memang
petunjuk
Yang Kuasa menunjukkan bahwa Ki Gitadipura
harus
berkedudukan di tempat tersebut. setelah itu mulailan
Ki
Gitadipura menjalankan tugas sebagai Kliwon Kacangan
di
tempat tersebut yang merupakan daerah yang sangat luas
mulai
dari sebelah barat yaitu Sungai Boyoromo
(Karanggede),
sebelah utara sampai dengan perbatasan
Juwangi,
disebelah timur sampai dengan Sungai Bengawan
Solo
(Tanon-Gabugan) dan sebelah selatan sampai dengan
Banyudana.
Ki
Gitadipura adalah seseorang yang memiliki watak seperti
ayahnya,
berjiwa besar, berakhlak mulia dan berbudi pekerti
luhur,
bijaksana dalam memimpin dan sangat menyukai berriadlaha,
setiap
hari senantiasa membaca Al-Quran. Dengan
keluarga
yang cukup besar (pada jaman dahulu keluarga
raja
biasa beristri lebih dari satu orang) yaitu beristri lima
orang
yang menurunkan anak sejumlah sepuluh orang yang
kesemuanya
dapat hidup dalam damai rukun dan sejahtera.
Selain
jabatan sebagai seorang Kliwon, Ki Gitadipura juga
sangat
dikenal sebagai sosok yang sering berda`wah yang
sudah
merupakan atau menjadi bagian dari rencana
kepemimpinannya,
hal seperti inilah yang membuat
nampaknya
cahaya Islam di daerah Kacangan dan hal ini
mewarnai
setiap gerak kehidupan masyarakatnya sehingga
tidak
pernah terjadi kejahatan yang dinilai membahayakan.
Dengan
mengajak serta sanak famili serta kerabat untuk
bermukim
di Kacangan untuk membantu tugas-tugasnya
sesuai
dengan kemahiran masing-masing membuat
usahanya
berhasil dan tentu semuanya itu atas ijin dari
Kerajaan
Surakarta.
Ki
Gitadipura juga membangun tata ruang daerah Kacangan
lebih
sempurna, pembuatan jalan raya yang tadinya melintas
di
tengah Desa Kacangan dengan bentuk agak melengkung
busur
diluruskan (seperti yang dapat di saksikan saat ini),
hal
ini dimaksudkan untuk keamanan dan kenyamanan
pemakai
jalan oleh sebab jalan tersebut melewati pasar
(pasar
Kacangan lama berada di sebelah barat desa). Jalan
yang
baru ini menerobos tanah pekuburan dan membaginya
dua
(sekarang sebelah utara menjadi komplek perkantoran
dan
sebelah selatan menjadi desa Magersari Wetan).
Tempat
pendidikan pun didirikan berupa pondok pesantren
dan
sampai saat ini masih berjalan. Adapun hasil yang
dirasakan
adalah persatuan, kerukunan, suka bersedekah,
sebab
menurut Ki Gitadipura hal-hal seperti itu akan
mendatangkan
limpahan rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa
yang
dapat menyelamatkan kehidupan baik dunia maupun
akhirat.
Singkat
cerita pada saat itu Pemerintah Belanda yang
sedang
mengusahakan tanah perkebunan, menggunakan
segala
cara untuk meraih hasil dan keuntungan sebanyak
mungkin
dan tidak segan-segan menggunakan politik adu
dombanya
untuk memecah belah bangsa. Diceritakan
bahwa
Belanda memiliki sebuah pabrik tepung tapioka yang
bertempat
di Desa Sendang, pada mulanya hubungan
Bendara
Kliwon Kacangan dengan penguasa pabrik tersebut
sangatlah
baik, namun karena sesuatu hal hubungan
mereka
merenggang, dan Belanda mulai meremehkan
kedudukannya
sebagai seorang Bendara Kliwon Kacangan.
Hasutan
belanda tidak sampai disitu saja sebab sudah
masuk
ke istana namun pihak istana tidak terburu-buru
menanggapinya,
namun lagi lagi kekuatan hasutan Belanda
sangatlah
besar.
Bendara
Kliwon Kacangan mengambil langkah tegas,
daripada
mendapat jabatan selalu makan hati dan mengalah
kepada
yang salah dan senantiasa menutup-nutupi
kebenaran
maka Ki Gitadipura tidak pernah hadir dalam
setiap
acara pisowanan (tidak mau menghadap raja secara
rutin
untuk melaporkan tugas dan tanggung jawab yang
diembannya
sambil membawa atau mengirimkan glondong
pangareng-areng),
hal ini sebagai upaya Bendara Kliwon
Kacangan
untuk mendapatkan perhatian pihak Kerajaan.
Namun
apalah daya harapan Bendara Kliwon Kacangan
tidak
terpenuhi, bahkan sepasukan kerajaan dan bala
tentara
Belanda mendatangi rumah Bendara Kliwon
Kacangan
dan mengusirnya bersama-sama keluarganya
dengan
tanpa diperkenankan membawa barang miliknya
satupun
dan yang boleh dibawa hanya pakaian yang
melekat
di tubuhnya saja (lunga ngadeg), dengan penuh
kesabaran
Bendara Kliwon Kacangan beserta keluarga
meninggalkan
kacangan dan menetap di Cakran Surakarta
sampai
akhir hayatnya.
Sepeninggal
Bendara Kliwon Kacangan tempat tinggal
beserta
pekarangannya dibagi-bagikan kepada masyarakat
pada
tahun 1927, dan akhirnya menjadi tempat yang ramai
dan
dinamai dukuh Magersari (artinya orang yang
bertempat
tinggal dipekarangan orang lain) sedangkan
tempat
kedudukan Kliwon (Desa Kliwonan) diberikan nama
Magersari
Kulon, dan setelah adanya batas penganturan
wilayah
maka sebelah utara jalan menjadi daerah Kelurahan
kacangan
sedangkan sebelah selatan jalan menjadi daerah
kelurahan
Mojo, dengan demikian Desa Magersari dan Desa
Kliwonan
adalah bagian dari Kelurahan Mojo
GOA
RAJA DAN TUK BABON
Di
sebelah utara Pertilasan Pesanggrahan Ngendromarto,
Dukuh
Ngaglik, Desa Samiran, Kecamatan Selo Kabupaten
Boyolali
ada sebuah goa yang diberikan nama Goa Raja.
pada
tahun 1824 M Keraton Kasunanan Surakarta
Hadiningrat
diperintah oleh seorang raja bergelar sampeyan
Dalem
Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan paku Buwono
VI
yang benama asli Raden Mas Gusti Supardan. beliau
membuat
Pesanggrahan Ngendromarto dan kemudian
beliau
bertapa di sebuah goa ditemani dua orang abdi
kinasihnya
yaitu kyai badhut dan Kyai Poleng. berhubung
lamanya
beliau bertapa kedua abdinya tersebut mengilang
raganya
(muksa) di goa tersebut. Menurut keyakinan
masyarakat
setempat kedua abdi dalem tersebut masih
sering
muncul dalam bentuk harimau putih dan harimau
kembang
asem. Setelah SISKS VI dilanjutkan oleh SISKS
VII
yaitu Raden Mas Gusti Malikis Salikin, kemudian oleh
SISKS
VIII yaitu Raden Mas Gusti Kusen, kemudian oleh
SISKS
IX yaitu Raden Mas Gusti Duksino dan PB X yaitu
Raden
Mas Gusti Malikul Kusno. Beliau juga mencari air
untuk
dilalirkan ke Pesanggrahan Ngendromarto dengan
cara
ditalang dengan kayu jati yang diambil dari Donoloyo
sedangkan
tuk (sumber, mata air) diberikan nama Tuk
Babon,
sampai saat ini nama-nama tersebut masih
dipergunakan.
ASAL
MULA NAMA GUNUNG TUGEL
Kyai
Singoprono putera dari Kyai Ageng Wongsaprana II,
yang
berdiam di Desa Manglen (sekarang Desa Manglen Kl.
Walen,
Kecamatan Simo. Beliau adalah keturunan Raja
Majapahit
(Brawijaya V) setelah wafat dimakamkan di
sebelah
barat Desa Manglen. Kyai Singoprono adalah anak
tunggal,
dan setelah berumah tangga tetap bertempat
tinggal
disana.
Kyai
Singoprono adalah sosok yang berbudi pekerti luhur,
suka
menolong sesama dalam bentuk apapun dan sakti
mandraguna.
Pekerjaannya
adalah bercocok tanam, berjualan nasi dan
dawet
di pinggir di pinggir jalan ± 4 km dari rumahnya. Sifat
baik
hatinya terlihat apabila orang membutuhkan
pertolongan
walaupun tidak diminta sekalipun pasti akan
memberikan
bantuan.
Makanan
yang dijualnyapun tidak sekedar dijualnya namun
juga
diberikan kepada orang yang membutuhkan dan hal
tersebut
tidak membuatnya menjadi gulung tikar namun
terus
bertambah dan bertambah keuntungan yang didapat.
Begitu
pula dengan hasil sawah ladangnya yang setiap kali
panen
pasti mendapatkan hasil yang berlimpah ruah
sehingga
banyak orang yang datang untuk meminta, Kyai
Singopronopun
memberi dengan tanpa mengharapkan
kembali.
Demikianlah
kebaikan Kyai Singoprono tersebar keseluruh
daerah
disekitarnya.
Tetapi
tindakan yang terpuji tersebut tidaklah disukai oleh
seorang
Kyai yang bernama Raga Runting.
Kyai
Rogo Runting merasa iri dengan keberhasilan dan
kebaikan
Kyai Singoprono yang selalu disebut-sebut dan
dipuji
banyak orang.Sebenarnya Kyai Rogo Runting dan
Kyai
Singoprono adalah berteman baik.
Pada
suatu ketika Kyai Rogo Runting ingin menunjukkan
kesaktiannya
pada Kyai Singoprono dengan mengaitkan
benang
dari pegunungan Rogo Runting ke Selatan, yakni
sekarang
Kl. Nglembu, Kecamatan Sambi.
Diatas
benang tersebut diletakkan sebutir telur dan
kemudian
digulirkan dan ajaib, telur tesebut menggelinding
diatas
benang dan tidak jatuh dan terus menggelinding dan
akhirnya
membentur Gunung sebelah selatan dengan
mengeluarkan
suara keras menggelegar dan
mengakibatkan
gunung tesebut tugel putus puncaknya, dan
hingga
sekarang nama gunung tersebut disebut Gunung
Tugel.
Secara
langsung Kyai Singoprono tahu bahwa kejadian
tersebut
adalah sebagai alat untuk menunjukkan kesaktian
Kyai
Rogo Runting namun Kyai Singoprono tidak tergerak
hatinya
untuk membalas. Namun setelah di diamkan
sementara
waktu Kyai Rogo Runting semakin menjadi-jadi
dan
kemudian secara halus diiyakan oleh Kyai Singoprono,
hal
tersebut ditanggapi oleh Kyai Raga Runting sebagai
balasan.
Oleh
karena naik pitam oleh tindakan Kyai Raga Runtng
yang
meresahkan akhirnya Kyai Singoprono juga
mengaitkan
benang dari pegunungan Tugel ke utara, Diatas
benang
tersebut juga diletakkan sebutir telur dan kemudian
digulirkan
dan keajaiban terjadi juga, telur tesebut
menggelinding
diatas benang dan tidak jatuh dan terus
menggelinding
dan akhirnya membentur Pegunungan Rogo
Runting
mengeluarkan suara keras menggelegar dan
mengakibatkan
gunung tesebut.
Tidak
nampak kerusakan namun tubuh Kyai Rogo Runting
(rontang
ranting/ cerai berai).
Setelah
itu Jasad Kyai Rogo Runting dimakamkan di
perbatasan
Kecamatan Klego dan Kecamatan Simo,
sedangkan
Kyai Singoprono dimakamkan di Gunung Tugel.
KALI
CACING
Pada
jaman dahulu kala ada seorang pemuda bernama
Joko
Genthong yang tinggal di sebuah dusun. Gagah
perkasa
elok parasnya. Setelah menginjak dewasa dia
merupakan
satu-satunya anak yang menonjol di dusun itu.
Dia
bersifat pemberani suka bertapa di tempat-tempat yang
sepi
yang kata orang tempat tersebut berbahaya, angker
namun
oleh Joko Genthong hal tersebut yang dia sukai.
Menurut
pendapatnya tempat tersebut nyaman, aman dan
tenteram.
Makin
lama nama Joko Gentong makin terkenal dan
dianggap
sebagai seorang pemuda yang sakti. Perilakunya
yang
sopan santun dan baik budinya menambah dia
semakin
disukai baik kawan laki-laki maupun wanita. pada
suatu
ketika terjadilah hal yang tidak diinginkan dan sangat
mengecewakan
masyarakat sekitarnya. Perkelahian antara
seorang
pemuda yang bertempat tinggal di Dusun Joko
Genthong
dan seorang pemuda lagi tetangga dusun, pada
awalnya
pertikaian bersifat pribadi dan menyangkut salah
paham
saja namun akhirnya berkembang menjadi pertikaian
antar
desa. Joko Genthong diam menunggu saat yang tepat
untuk
campur tangan di dalamnya. Setelah pertikaian kian
menjadi
Joko Genthong turun tangan dikarenakan dusunnya
hampir
kewalahan dengan serangan peduduk dusun
seberang
dan ternyata kemenangan gemilang dapat
diraihnya.
Semenjak saat itu nama Joko Genthong makin
harum
dan menjadi buah bibir di kalangan remaja putri dan
para
orang tua sehingga ingin menjadikannya anak mantu,
bahkan
para wanita banyak datang kerumah Joko Genthong
untuk
menyampaikan maksud ingin menjadi isterinya
(ngunggah-unggahi)
tetapi tidak seorangpun wanita yang
singgah
dihatinya.
para
wanita terus berdatangan kerumahnya namun hal ini
tiak
membuathati joko Genthong menjadi gembira namun
sebaliknya
menjadi murung dan pendiam, orang tua Joko
Genthong
pun membujuk puteranya tersebut agar memilih
salah
seorang wanita untuk dijadikan isteri, tetapi Joko
Genthong
tetap pada pendiriannya, sementara ada gadis
yang
mengancam kalau lamarannya tidak diterima maka
orang
tua si gadis dan saudara-saudaranya akan memaksa
dan
bila tidak berhasil Joko Genthong akan dibunuh.
Ancaman
tersebut sampai di telinga, orang tua Joko
Genthong
dan membuat mereka khawatir dan kembali
membujuk
agar Joko Genthong menetapkan pilihannya.
Bujukan
tesebut menambah kemurungan Joko Genthong
dan
membuat dia berfikir untuk mencari jalan menghindari
para
wanita tersebut, maka diputuskannya untuk bertapa ke
tempat
yang sangat wingit (berbahaya) agar orang dusun
tidak
ada yang berani datang menemuinya. Pada suatu
malam
yang gelap dan turun hujan gerimis serta angin
bertiup
sepoi-sepoi Joko Genthong dengan bulat tekad pergi
meninggalkan
rumah tanpa memberitahukan kepergiannya.
Betapa
terkejutnya orang tua Joko Genthong mengetahui
anaknya
tidak ada di rumah, dan segeralah mereka
mencarinya
di pelosok desa dan juga sampai ke desa-desa
disekitarnya
namun tidak ada seorangpun yang tahu
keberadaan
Joko Genthong. Semenjak saat itu pulalah
rumah
Joko Genthong tidak didatangi lagi oleh para wanita
yang
ingin menjadi isteri Joko Genthong.
Kembali
pada keberadaan Joko Gentong yang telah
bersusah
payah penuh dengan penderitaan melakukan
perjalanan
itu dan berhenti di suatu tempat untuk bertapa,
dalam
pertapaaannya dikisahkan tubuh Joko Genthong
sampai
kurus kering, jika bergerak sangat sulit dan tidak
mempunyai
tenaga. Ternyata kepergian Joko Genthong
tidak
sendirian, dia diikuti oleh seorang wanita dan seorang
pengiring
yang sakti mandraguna yang pada akhirnya berkat
ketabahan
hati gadis ini, dapat menyusul Joko Genthong.
Betapa
kagetnya sang gadis melihat pemuda pujaannya
sudah
tak nampak lagi seperti dahulu, hanya diam cuma
sesekali
tangan dan kakinya bergerak-gerak seperti cacing.
Melihat
hal seperti ini menangislah sang gadis karena
keadaan
tersebut dan berusaha membangunkan pertapa
agar
mau mempersuntingnya. Karena tidak mendapatkan
jawaban
maka sang gadispun jengkel dan marah dan
menyuruh
pengiringnya yang sakti mandraguna tersebut
untuk
membangunkan Joko Genthong untuk menuruti
kemauannya
dan apabila gagal sang gadis meminta agar
Joko
Genthong dibunuh saja.
Sejenak
berfikir pengiring menerima perintah tuannya dan
merencanakan
apa yang akan dia kerjakan. Karena melihat
tangan
dan kaki Joko Genthong yang bergerak-gerak
seperti
cacing maka pengikut sang gadis tadi berkata,
“Wong
kok kaya cacing.” dan keanehanpun terjadi tubuh
Joko
Genthong semakin lama semakin mengecil dan
menjadi
cacing yang kemudian cacing tersebut bergerak
menuju
bagian bawah batu dan menuju ke mata air dan
lenyaplah
dari pandangan sang gadis dan pengikutnya.
Maka
tersadarlah kedua orang tersebut akan takdir yang
telah
menimpa Joko Genthong dan berkatalah pengiring
tersebut
kepada sang gadis bahwa mata air tersebut
dinamai
Kali Cacing dengan suatu harapan kelak
dikemudian
hari sumber air tersebut dapat bermanfaat bagi
orang
banyak. Karena mereka sudah kelelahan akhirnya
diputuskan
untuk mandi terlebih dahulu sebelum
meneruskan
perjalanan pulang. Terjadi keanehan lagi
setelah
mandi sang gadis terlihat tambah cantik, segar dan
pulih
kekuatan tubuhnya, namun yang terjadi pada si
pengiring
menjadi kurus kering tinggal kulit pembalut tulang
yang
kesemuanya itu akibat balasan dari Joko Genthong
karena
telah dikutuk menjadi cacing dan kembali si pengiring
berkata,
“Kali cacing hanya akan mengeluarkan airnya di
musim
kemarau saja.” sesudah berkata demikian kedua
orang
tersebut pulang dengan dua perasaan yang berbeda,
sang
gadis merasa senang dan si pengiring merasa sedih
hatinya.
Akhir
cerita terbukti bahwa sampai saat ini aliran kali cacing
hanya
deras apabila saat musim kemarau dan sumber ini
dimanfaatkan
penduduk untuk air minum dan untuk
kepentingan
orang banyak lainnya. daerah tersebut
kemudian
menjadi sebuah desa yang sejahtera dan
diberikan
nama Kelurahan Kali Genthong (Kecamatan
Ampel)
KYAI
PETRUK PENGHUNI GUNUNG MERAPI
Menuju
ke arah sebelah barat Kota Boyolali sampailah kita
di
Daerah yang bernama Kecamatan Cepogo, cerita tentang
Kyai
Petruk sudah lama dikenal oleh masyarakat ditempat
tersebut.
Siapakah sebenarnya yang dimaksud dengan Kyai
Petruk
tersebut, nama Kyai Petruk yang kita kenal selama ini
adalah
sebagai seorang tokoh dalam dunia pewayangan
atau
abdi dari Satria Pandawa namun ternyata yang
dimaksud
Kyai Petruk diatas bukanlah seperti yang telah
diuraikan
dan tidak ada hubungannya dengan cerita tokoh
wulu
cumbu (abdi) Raden Arjuna dalam pewayangan.
Semasa
pemerintahan Kerajaan Majapahit (Prabu Brawijaya
terakhir)
hampir berakhir karena terdesak oleh kekuasaan
puteranya
sendiri yaitu Adipati Demak yang sebenarnya
antara
Kerajaan Majapahit dan Demak telah ada
persetujuan
perdamaian, meskipun demikian karena ada
salah
seorang diantara keluarga atau keturunan Raja
Majapahit
masih menganut keyakinan lama (Agama Hindu),
sedangkan
penguasa baru Kerajaan Demak (Raden Patah)
beragama
Islam maka seseorang keluarga atau keturunan
Raja
Majapahit itu meneruskan keyakinannya dengan
menempati
sebuah tempat baru yaitu dilereng sebelah timur
Gunung
Merapi dan pemukiman baru ini dinamai dengan
Tegalsruni
(sekarang
masuk dalam wilayah Kecamatan
Selo).
Adapun
yang paling dituakan dari keluarga tersebut adalah
benama
Kyai Patradita yang menurunkan anak bernama
Kyai
Mentawiji sampai pada akhirnya nanti Kyai Patradita
meninggal
dan dimakamkan di Desa Tegalsruni, Kyai
Mentawiji
menurunkan dua orang anak yakni yang pertama
Kyai
Wirogati meninggal dan dimakamkan di Desa Bulu
(Kecamatan
Selo), sedangkan anak yang kedua adalah Kyai
Wirodita.
Kyai Wirodita menurunkan anak bernama Kyai
Reksayuda
I (Kyai Dahlan), setelah Kyai Wirodita meninggal
ia
dimakamkan di Desa Tunggulsari Kecamatan Cepogo.
Kyai
Reksayuda I adalah seorang tokoh prajurit mataram
dengan
nama pemberian dari Raja Mataram, Kyai
Reksayuda
lalu mempersunting putrid dari Kyai Ragasasi
yang
juga salah satu keturunan kerabat Kerajaan Mataram,
selanjutnya
Kyai Reksayuda menurunkan empat orang anak
yaitu
Kyai Reksayuda II, Kyai Prawirayuda, Kyai Wirayuda
dan
Suladi dan Suladi inilah yang kemudian disebut dengan
nama
lain dengan garis keturunan Handakakusuma ini
disebut
dengan nama Mbah Petruk, mengapa ia dipanggil
dengan
sebutan Mbah Petruk?
Badan
tinggi atau jangkung membuatnya mendapatkan
julukan
tersebut seperti tokoh Petruk dalam pewayangan.
Diceritakan
bahwa Handakakusuma semasa kecil ikut
dengan
saudara tuanya yakni Kyai Reksayuda II.
Handakakusuma
memiliki sikap aneh lain sekali dengan sifat
dan
perbuatan saudara-saudaranya yang lain, ia tidak suka
mandi
bahkan tidak pernah mandi, tidak mau bekerja atau
membantu
pekerjaaan orang tuanya yaitu bertani atau
menggembalakan
ternak, suka bepergian tidak jelas arah,
maksud
dan tujuannya dan terkadang kepergiannya sampai
berbulan-bulan,
suka menyusuri Kali (sungai) Gandul mulai
dari
hulu yaitu di daerah sidapeksa yang merupakan pangkal
dari
Kali Gandul, namun ia memiliki kesaktian yaitu setiap
perkataan
yang ia ucapkan selalu benar (titis dalam Bahasa
Jawa).
Akibat dari kelakuannya yang aneh tersebut,
Handakakusuma
kerap mendapatkan marah dari orang
tuanya
yaitu Kyai Reksayuda namun Handakakusuma tidak
peduli
dengan semuanya ia hanya mengikuti kata hatinya.
Pada
suatu saat setelah Handakakusuma menjelang
dewasa,
kakaknya Kyai Reksayuda II merencanakan
khitanan
untuk sang adik dengan berbagai macam
kelengkapan
sudah disiapkan termasuk didalamnya adalah
sepotong
baju baru untuk upacara khitanan tersebut, barang
tentu
sebagai syarat memakainya si pemakai haruslah
mandi
terlebih dahulu dan hal tersebut adalah pantangan
bagi
sang adik. Maka dengan susah payah Kyai Reksayuda
II
berhasil membawa paksa sang adik ke Kali Gandul untuk
dimandikan.
Namun apa yang terjadi pada diri
Handakakusuma
setelah masuk ke air Kali Gandul? Tibatiba
ia
lenyap dari pandangan mata semua keluarga yang
mengantarkannya.
Semua
orang bingung mencari dan semua anggota keluarga
berusaha
menemukan Handakakusuma kembali dengan
mencarinya
di sepanjang Kali Gandul, bahkan sampai ke
tebing-tebing
curam dicari mungkin ia ada disitu, tapi apa
daya
Handakakusuma tetap tidak dapat ditemukan kembali.
Sangat
sedihlah hati Kyai Reksayuda II karena rasa
kehilangan,
segala cara termasuk selamatan diupayakan
agar
sang adik bungsu tersebut dapat kembali namun tidak
membawa
hasil. Teringat akan kelakuan sang adik yang
aneh
dan hilangnyapun dengan cara yang tidak wajar.
Ketika
Kyai Reksayuda II sedang merenungi nasib adiknya
tiba-tiba
terdengar suara gaib demikian, “Kakang
Reksayuda,
aja susah-susah ngupaya aku, aku wis ora
bakal
kumpul maneh lawan kakang ing salawas-lawase.
Samengko
aku dedunung mengkoni Gunung Merapi ana ing
alam
kaalusan” (Kakak Reksayuda janganlah bersusah
payah
mencari aku, aku sudah tidak bisa berkumpul lagi
dengan
kakak untuk selama-lamanya. Sekarang aku berada
menguasai
Gunung Merapi di alam gaib)…………”Dono
menawa
kakang ketemu karo aku ana sarate, sesajia
wedang
bubuk gula jawa lan jadah bakar, yen selametan
memulo
aja lali tumpeng sega gunung panggang buta, lan
aja
lali genepana sesajen pohung bakar. Yen ana pepeteng
atimu
kakang, dalah satedhak turunmu uga sarana sesajen
iku,
aku bakal rerewang bisaa oleh pitulungan pepadhang.”
(Kalau
kakak ingin menemui aku ada syaratnya, sajikanlah
minuman
kopi dengan gula jawa dan jadah bakar, kalau
selamatan
kebaktian, jangan lupa tumpeng nasi jagung
dengan
lauk tempe bungkil yang dibakar, dan jangan lupa
genapnya
sesaji dengan ubi kayu yang dibakar. Apabila
kakak
sedang dilanda kesusahan, demikian juga dengan
anak
cucu kakak, dengan sesaji demikian, aku akan
membantu
agar didalam kegelapan mendapatkan
pertolongan
terang), maka berserahlah Kyai Reksayuda II
atas
segala takdir yang menimpa adiknya karena yang
didengarnya
baru saja memang suara adiknya-
Handakakusuma
yang telah berada di alam gaib.
Pesan
adiknya itu tengiang dan tertanam dalam benak sang
kakak
meresap menjadi kepercayaaan sampai turun
temurun,
setiap kali timbul masalah Kyai Reksayuda selalu
mengadakan
sesaji seperti apa yang diberitahukan sang
adik.
Kepercayaan tersebut akhirnya menyebar sampai
daerah
Cepogo dan lereng Gunung Merapi bagian timur.
Sampai
saat ini jika masyarakat sekitar wilayah tersebut
menyelenggarakan
upacara penikahan, mendirikan rumah
dan
sebagainya, orang tidak akan lupa untuk menyiapkan
sesaji
seperti apa yang telah diuraikan diatas, hal ini
dilakukan
semata-mata masyarakat yang bersangkutan ingin
agar
mendapatkan pertolongan dari Kyai Petruk, yang
sekarang
sudah menjadi penghuni alam gaib dan
memerintah
makhluk halus Gunung Merapi.
Sebagai
contoh beberapa cerita tentang kepercayaan
terhadap
Kyai Petruk, pada waktu daerah cepogo masih
menjadi
daerah Ondernening yang dikuasai oleh Belanda,
Ngabehi
Singawerdaka mengadakan upacara sajian untuk
Kyai
Petruk, namun Administratur Belanda tidak percaya,
menertawakannya,
mencemoohnya bahkan menolaknya.
Kemudian
Ngabehi Singawerdaka memohon petunjuk serta
nasehat
kepada Kyai Petruk, tidak berselang lama terjadilah
banjir
lahar dingin yang menghancurkan kebun Ondernening
tersebut,
hingga memaksa penguasa Belanda saat itu
pindah
dari wilayah Cepogo mencari tempat yang dianggap
aman.
keajaiban lainnya yaitu pada waktu Ngabehi
Singawerdaka
terjun dalam kancah peperangan pada jaman
geger
Serang, atas permintaannya Kyai Petruk juga
membantu
secara gaib sehingga memperoleh kemenangan
dengan
gemilang. Kepercayaan masyarakat terhadap
keberadaan
Kyai Petruk sebagai penguasa alam gaib di
Gunung
Merapi tidak hanya sampai disini sebagai contoh
lagi
pada saat terjadi kecelakaan pendakian Gunung Merapi,
seorang
anak anggota regu pendakian sangat sulit
ditemukan,
akhirnya seseorang yang masih keturunan Kyai
Petruk
mengadakan upacara adat dan memohon untuk
dapat
menemukan kembali pendaki tersebut. Regu
penolong
kembali mencari dan korban dapat dengan mudah
ditemukan.
Hingga
sekarang jika akan terjadi musibah akibat Gunung
Merapi,
maka tempat yang akan terkena musibah tersebut
terlebih
dahulu mendapatkan firasat atau pesan dari Kyai
Petruk
dengan cara mendatangi salah seorang warga.
MAKAM
KI HAJAR SALOKA
Makam
Ki Hajar Saloka terletak di atas sebuat bukit
tepatnya
di sebelah barat daya Lapangan Desa Samiran
Kecamatan
Selo, Boyolali.
Konon
pada jaman Kerajaan Majapahit, Ki Hajar Saloka
termasuk
salah seorang senopatinya, saat menjelang
keruntuhan
Majapahit Ki Hajar Saloka melarikan diri ke
gunung
dan sampailah Ki Hajar Saloka di Gunung Kidul,
Wonosari
dan mendirikan sebuah padepokan bernama
Padepokan
Ki Ajar Saloka, kemudian melanjutkan
perjalanan
ke pegunungan-pegunungan dan sampailah di
sebelah
utara Gunung Merapi dan wafatlah beliau.
Keudian
Ki Hajar Saloka dimakamkan di puncak bukit
tersebut
dan menjadi cikal bakal makam tersebut. Keanehan
yang
terjadi menurut cerita para sesepuh Ki Hajar Saloka
tidak
mau pada nantinya pusara tempat ia nantinya
disemayamkan
diberikan nisan, rumah (cungkup) namun
cukup
gundukan tanah saja dan menyerupai tumpeng dan
keanehan
lain pun terjadi walaupun cuma gundukan tanah
dari
dahulu sampai dengan saat ini makam tersebut
tanahnya
tidak pernah terkikis habis oleh air hujan.
MAKAM
RADEN AYU BRONTO TELIH DK. MANCASAN, DESA KRASAK, KEC. TERAS, KAB. BOYOLALI
Sejarah
singkat dari sesepuh Dk. Jering yang sudah meninggal dunia bahwa di Dukuh
Kembang Lampir, Ds. Gumukrejo Kecamatan Teras sebelum Kerajaan Surakarta berdiri
ada seorang tokoh bernama Ki Ageng Kembang Lampir. Ki Ageng Kembang Lampir
mempunyai seorang anak bernama Raden Ayu Bronto Telih. Setelah menginjak usia
dewasa Raden Ayu Bronto Telih hamil tanpa diketahui siapa yang telah
menghamilinya, sehingga membuat Ki Ageng Kembang Lampir marah-marah dan malu
terhadap warga karena anaknya hamil tanpa diketahui siapa ayah dari calon bayi
yang dikandung Raden Ayu Bronto Telih. Karena takut akan kemarahan ayahnya
Raden Ayu Bronto Telih secara diam-diam pergi dari rumah. Mengetahui anaknya
pergi dari rumah, tersadarlah Ki Ageng Kembang Lampir timbul rasa sesal dan
belas kasihan.
Setelah
ditungu selama beberapa hari Raden Ayu Bronto Telih tidak kunjung pulang, Ki
Ageng menyuruh warga agar mencari anaknya, namun tidak menemui hasil. Alkisah
di Dukuh Kembang Lampir ada seorang pencari burung dengan senjatanya berupa tulup
(berupa buluh panjang yang berfungsi sebagai pelontar semacam peluru dengan
cara ditiup) sedang berburu burung, kebetulan si pencari burung melihat ada
seekor burung perkutut hinggap di sekitar rumah Ki Ageng Kembang Lampir namun
ketika hendak ditangkap burung tersebut terbang menjauh dan selalu begitu
ketika hendak ditangkap terbang kearah barat laut, pada akhirnya sampailah
pengejarannya disebuah punthukan (bukit kecil) dan burung
perkutut tersebut hinggap pada dahan pohon serut, si pencari burung terheran-heran
karena setelah dicari-cari tidak ditemukannya burung perkutut itu namun betapa
terkejutnya si pencari burung mendapati sesosok bayi yang baru saja lahir dan perempuan
dengan kondisi setelah melahirkan tetapi sudah
tidak
bernyawa, setelah dia mendekat si pencari burung mengenali sosok tersebut yang
tidak lain adalah Raden Ayu Bronto Telih anak Ki Ageng Kembang Lampir yang
selama ini dicari-cari keberadaannya. Lalu pencari burung tersebut membawa
pulang jabang bayi tersebut ke rumah Ki Ageng Kembang Lampir serta membawa
kabar berita bahwa Raden Ayu Bronto Telih telah meninggal dundia. Singkat
cerita Ki Ageng Kembang Lampir kemudian membawa jasad Raden Ayu Bronto Telih
dan dimakamkan di puntuk / gumuk yang kemudian diberikan nama Gumuk
Selo Bentar yang sampai saat ini oleh masyarakat Dukuh Jering dan
sekitarnya dikeramatkan dan setiap hari Selasa dan Jumat berdatangan masyarakat
untuk berziarah, berdoa, memohon berkah di Makam Raden Ayu Bronto Telih. Setiap
bulan Ruwah diadakan pula ditempat ini acara ritual Sadranan. Dengan panorama Padas
Gilik (tebing berketinggian ± 20m) dan pemandangan alam disekitar
bantaran Sungai butak menambah keasrian tempat ini menunggu dikembangkan menjadi
salah satu obyek tujuan wisata.
PERTAPAAN
GUWO KRINCING
Konon
kabarnya, daerah Dukuh Ngumik-Banyurip Desa Gunungsari pernah menjadi bawahan
kerajaan Jenggolo, yang diperintah oleh seorang raja bernama Raden Panji Kesumo,
yang beristerikan Puteri Limaran yang saat itu sedang mengandung dan Raden
Panji Kesumo sedang berkelana Puteri Limaran di istana bersama para abdinya. Pada
suatu hari datanglah seorang puteri yang mempunyai maksud jahat bernama Werda
Werdi, yang sebenarnya dia menginginkan diperistri oleh Raden Panji Kesumo
namun keinginannya tersebut tidak tercapai. Pada saat itu ia memaksa puteri
Limaran untuk diperiksa kandungannya dan memaksa bayi yang ada dalam kandungan
Puteri Limaran untuk dilahirkan secara paksa (dipelothot) dan ternyata bayi yang
lahir kembar dan diberikan nama si Ombak dan si Umbul, oleh Werda Werdi kedua
anak tersebut dibuang ketengah hutan dan diganti dengan dua ekor anak anjing. Betapa
terkejutnya Raden Panji Kesumo sepulangnya dari berkelana mendapatkan kabar
bahwa isterinya yang cantik melahirkan dua ekor anak anjing, dan marahlah Raden
Panji Kesumo dan tanpa pikir panjang pula memerintahkan seorang abdi dalem
untuk membunuh Puteri Limaran di sebuah hutan. Sesampainya di hutan puteri
Limaran tidak segera dibunuh oleh abdi dalem tersebut dikarenakan tidak tega
namun setelah didesak oleh sang puteri akhirnya dibunuhlah Puteri Limaran dan
dikuburkan bersama bakul nasi bekalnya dengan diatas pusaranya ditanam pohon Pisang
Cici. Alkisah si Ombak dan si Umbul yang dibuang di tengah hutan diambil dan
dipelihara oleh Kaki dan Nyai Bolo Ijo, mereka dipelihara dengan baik, namun
maksudnya mereka pada nantinya akan dimakan oleh Kaki Bolo Ijo. Pada suatu saat
si Ombak dan si Umbul dinasehati oleh Nyai Bolo Ijo agar meninggalkan tempat
tersebut karena mereka akan dimakan oleh Kaki Bolo Ijo, dan mereka mencari saat
yang tepat. Pada waktu Kaki dan Nyai Bolo Ijo pergi ke pasar, mereka
cepat-cepat meninggalkan tempat itu, setelah lama berjalan dengan berhati-hati
sampailah mereka di sebuah hutan yang sangat lebat, dan disitu Si Umbul merasa
haus dan minta minum kepada si Ombak padahal tempat tersebut tidak terdapat
mata airnya, akhirnya si umbul disuruh minum air kecil si Umbul, tetapi rasanya
pahit. Tiba-tiba si Ombak tahu bahwa ada pohon pisang besar tumbuh di dekat
tempat mereka tadi, maka diajaklah si Umbul mendekati pohon pisang tersebut
dengan maksud hendak memotong untuk diserap airnya sebagai penahan rasa haus,
namun tak kunjung hilang rasa hausnya dan mereka memutuskan untuk memotong
pohon pisang yang besar tadi, tetapi terdengar suara, “Siapa itu seperti anakku
si Umbul dan si Ombak.” mendengar suara itu mereka lari ketakutan namun kata
suara itu lagi, “Jangan takut anakku, aku adalah ibumu , Puteri Limaran, cepat
bongkar, dan keluarkan ibu dari liang kubur dibawah pohon pisang cici ini.” Ternyata
setelah keluar dari kubur keadaan Puteri Limaran masih terlihat segar, masih
utuh, demikian juga pohon kencana yang ia bawa serta bakul nasi serta nasinya
masih enak saat mereka makan. Dikisahkan ketika si Umbul dan si Ombak sedang
bermainmain ada seekor burung gagak yang membawa telur ayam, dan telur tersebut
dijatuhkan pada mereka dan mereka merawat telur tersebut, ditutupi dan menetas
menjadi seekor ayam jantan kemudian diberikan nama kepada ayam tersebut Cindelaras
pada saat itu si Ombak sudah berganti nama menjadi Raden Panji Putra. Raden
Panji Putro kemudian menantang Raden Panji Kesumo menyabung ayam dengan taruhan
Kepala Raden Panji Putra pada pihak Raden Panji Putra dan isi dari Kerajaan
Jenggala untuk pihak Raden Panji Kesuma yang pada pertarungan tersebut
dimenangkan oleh Raden Panji Putra dan jago Cindelaras lari ke dapur istana
dimana mata Puteri Limaran disimpan dan diambilnya serta dibawa pulang.
Sesampainya dirumah mata tersebut dicuci di bokor kencana selanjutnya
dipasangkan kembali pada Puteri Limaran dan akhirnya dapat melihat kembali.
Raden Panji Putra mendapatkan hadiah berupa rakyat jenggala. Raden Panji Kesuma
menyuruh abdi dalem untuk mencari dan membunuh Werda Werdi dan pergi mencari
Puteri Limaran namun setelah bertemu Raden Panji Kesuma tidak diterima. Kemudian
Raden Panji Kesuma memutuskan untuk bertapa di pertapaan Baturetno (Guwo
Krincing, Gunungsari). Karena merasa kasihan akan Raden Panji Kesuma yang telah
lama pergi bertapa, Puteri Limaran akhirnya menyuruh anaknya untuk mencari
Raden Panji Kesuma. Setelah berkumpul kembali mereka mendirikan padepokan di Dhadap
Ayam (terletak disebelah barat laut Desa Gunungsari). Setelah Raden Panji
Kesuma meninggal Puteri
Limaran
menjadi janda dan mendapat sebutan Mbok Rondo Sembego, dan kotoran ayam
jantan Cindelaras dinamakan Curi Butha yang sekatang letaknya di sebelah
barat pasar Dhadapayam.
RADEN
TUMENGGUNG PRAWIRODIGDOYO
Lahir
kurang lebih pada tahun 1780 sebagai anak kedua dari
Raden
Ngabehi Surotaruno III yang merupakan keturunan
dari
ayah garis keenam dari I.S.K.S. Amangkurat Agung,
(Tegal)
keturunan dari Pangeran Notobroto I, Ibu garis
keempat
dari I.S.K.S. Pakubuwono I (Pangeran Puger) dari
B.P.H.
Puruboyo (Lumajang).
Raden
Tumenggung Prawirodigdoyo dibesarkan di daerah
Gagatan
dan semenjak masih kecil telah memiliki kelebihan
dibandingkan
dengan teman-teman sebayanya sebagai
contoh
pada waktu menginjak usia 8 tahun, Raden
Tumenggung
Prawirodigdoyo telah bisa menaiki kuda dan
hari-demi
hari teman-teman sepermainannya semakin
sayang
dengannya.
Gagatan
merupakan
dukuh di kaki pegunungan Kendeng
terletak
ditepi sungai ketoyan (Wonosegoro), sedangkan arti
gagatan
sendiri ada bermacam-macam yaitu dari kata gagat
yang
bermakna pagi-pagi benar atau sebelum matahari
terbit,
ettapi jika dibaca dengan menggunakan aksara jawa
maka
gagat sendiri adalah berarti kuat sekali yang memiliki
makna
apabila beradu kekuatan sampai titik darah
penghabisan
(dilabuhi pecahing dada, wutahing ludira), jika
dipisah
suku kata gagatan akan menjadi dua kata yang
bermakna
lain yaitu gaga (padi yang ditanan di ladang) dan
ketan
(padi
ketan).
Di
Gagatan jika kita berkunjung kesana maka akan kita
jumpai
gundukan tanah yang menurut cerita terdapat dua
versi
yang pertama adalah makam Kyai Berah atau Dinrah
(yang
berasal dari kata modin dan lurah) yang kediua
menurut
K.R.M. Mloyosunaryo gundukan tersebut adalah
bekas
galian tanah tempat bertapa pendem I.S.K.S
Pakubuwono
VI bersama-sama dengan Raden Tumenggung
Prawirodidoyo
yang memberikan ilmunya berupa Ajidipa
dan
membuat sumpah untuk memerangi penjajah Belanda.
Penjajahan
Belanda kian hari menjadi kian kejam, dan hal ini
juga
dirasakan didaerah Gagatan, sebelum
pecah
perang Diponegoro telah banyak persekutuan antara
penguasa
daerah menentang penjajahan Belanda.
Menurut
cerita, Raden Tumenggung Prawirodidoyo memiliki
pasukan
sejumlah 6000 orang dengan bersenjatakan
tombak,
pedang, bandil dan empat buah pucuk meriam dan
memiliki
sebuah pusaka yang berupa sebuah kentongan
pemberian
dari Kyai Gunung Merbabu dengan khasiat
apabila
dipukul satu kali dapat terdengar diseluruh
Kabupaten,
rakyat yang mendengarnya akan siap siaga dan
apabila
dipukul dua kali maka bagi yang tidur akan bangun
semua
dan siap siaga dan yang takut menjadi pemberani,
jika
dipukul tiga kali, semuanya akan berangkat ke Gagatan
dengan
senjata lengkap. Hal tersebut ternyata diketahui oleh
pihak
Belanda dan ditulis dalam buku De Java Oorlog jilid I
halaman
362.
Kegigihan
Raden Tumenggung Prawirodidoyo dan I.S.K.S
Pakubuwono
VI dalam menumpas Belanda digambarkan
sebagai
seorang yang naik kuda yang baru ditangkap dari
hutan
dan terus dinaiki sampai di kancah peperangan,
sedangkan
I.S.K.S Pakubuwono VI digambarkan sebagai
seekor
harimau buas yang ditusuk-tusuk oleh tombak.
R.T.
Prawirodigdoyo didampingi oleh Kyai singomanjat
Imam
Rozi, Kyai Singolodra Umar Sidig dan Kyai Suhodo
Som
dan Kyai Singoyudo pada tahun 1827 mengadakan
peperangan
di Desa Klengkong dan pihak belanda yang
waktu
itu dipimpin oleh Mayor Has, Kapten Win dan Regel
dan
senopati dari Mataram antara lain B.P.H Murdaningrat,
B.P.H
Hadiwinoto, B.P.H. Hadiwijoyo dan R.T Nitinegoro
bertempur
dengan hebatnya, terlihat bahwa kekuatan kedua
kubu
seimbang dan seorang dari prajurit yang ada di
Klengkong
yang berpakaian celana bludru biru dengan baju
tretes
dengan srempang kuning emas besar dan bertopi
bundar
besar (songkok) yang tidak lain adalah telah terjatuh
dari
kudanya setelah terkena peluru meriam, namun masih
dapat
diselamatkan oleh para prajurit dan dibawa ke Desa
Kedung
Gubah dan dirawat oleh R.A. Sumirah selama 15
hari
dan tepatnya sampai pada malam Jumat Pon tanggal
30
Nopember 1827 gugur karena luka dalam yang
dideritanya.
sebelum meninggal Raden Tumenggung
Prawirodidoyo
berpesan agar nanti jasadnya dimakamkan di
dekat
makam gurunya Seh Kalikojipang di makam Blunyah
Gede
dan saat nanti agar Pangeran Diponegoro serta
senopati-senopati
yang ada supaya lebih berhati-hati sebab
sekembalinya
setelah berpesan demikian Raden
Tumenggung
Prawirodidoyo menghembuskan nafas terahir
disaksikan
oleh Pangeran Diponegoro, Kyai Mojo, dan R.A.
Sumirah
dan seperti pesan terahir yang disampaikan Raden
Tumenggung
Prawirodidoyo dimakamkan di Makam Bluyah
Gede.
TERJADINYA
DUKUH WATU BENGKAH, SUCEN DAN
KEDUNGLENGKONG
Konon
pada dahulu kala Sultan Demak pernah mengirimkan
utusan
ke Pengging, karena Adipati Pengging yaitu
Kebokenanga
telah sekian lama tidak menghadap ke
Kerajaan
Demak berarti telah melalaikan kewajibannya.
Dikisahkan
bahwa utusan yang pertama gagal kemudian
diteruskan
dengan utusan keduapun gagal pula pada
akhirnya
Sutan Demak mengutus Sunan Kudus sebagai
utusan
terakhir untuk menyelesaikan persoalan. Sunan
Kudus
pun berangkat menyanggupi perintah Sultan beserta
para
sahabatnya dan prajurit pilihan secukupnya menuju
Pengging.
Suatu hari menjelang lohor Sunan Kudus telah
sampai
di Pegunungan Kendeng dan memerintahkan para
sahabat
dan pengikutnya beristirahat untuk sholat namun
tidak
menemukan air untuk wudlu, kemudian Sunan Kudus
mengajak
para pengikutnya untuk shalat bersama dan
memohon
kepada Tuhan agar diberikan air untuk wudlu,
setelah
selesai shalat Sunan Kudus menancapkan
tongkatnya
pada sebuah batu dan memancarlah mata air
yang
melimpah keluar dari bekas tongkat Sunan Kudus.
Setelah
selesai shalat, tampaklah dari kejauhan dua orang
datang
menghampiri rombongan Sunan Kudus, dan segera
Sunan
Kudus menanyai darimana mereka berasal, jawab
mereka
embel dan agung . Atas kehendak Sunan Kudus
kedua
patah kata tersebut dijadikan sebuah kata untuk
menamai
tempat tersebut dan berpesan bahwa tempat
tersebut
akan ramai dihuni oleh manusia agar kelak dinamai
Desa
Blagung (sampai sekarang nama tersebut masih
dipakai
–kelurahan Blagung terletak disebelah timur
kelurahan
Kedunglengkong). Selanjutnya kedua orang tadi
diberikan
bekal ajaran agama dan amal perbuatan yang baik
sehingga
berguna bagi kehidupan dunia akhirat, mereka
berjanji
akan melaksanakan petuah Sunan Kudus dengan
sebaik-baiknya,
oleh karena kedua orang tersebut sudah
langsung
diangkat sebagai murid (putut dalam Bahasa
Jawa)
dan mereka diminta menjadi saksi bahwa pada waktu
Sunan
Kudus dan Rombongan akan menunaikan ibadah
shalat
tadi mengalami kesulitan untuk mendapatkan air
untuk
wudlu namun atas berkat Tuhan hal tersebut dapat
diatasi.
Sunan
Kudus kembali berpesan pada kedua orang tersebut
apabila
kelak kemudian hari tempat tersebut menjadi desa
maka
dinamakan Desa Sucen (artinya tempat untuk
menyucikan
diri atau berwudlu) sedangkan untuk sumber
mata
air tersebut dinamakan Sumber Putut. Di dalam
perjalanan
kembali Sunan Kudus banyak melihat Batu
banyak
sekali dan bentuknya terbelah-belah dan kembali
Sunan
Kudus berpesan bahwa kelak agar tempat tersebut
dinamakan
Watubongkah (batu terbelah), dan terakhir
sebelum
kembali meneruskan perjalanan menuju Kadipaten
Pengging,
Sunan Kudus mengajak untuk melihat ke arah
selatan,
dikejauhan terlihat sungai berkelok-kelok dan
terdapat
sebuah tempat dimana air tersebut berkumpul dan
dalam,
disebut dalam Bahasa Jawa kedhung maka
berpesanlah
Sunan Kudus kembali bahwa jika kelak tempat
tersebut
dinamai dengan Kedhunglengkong.
TERJADINYA
DUSUN POJOK & PETILASAN KYAI KEBO
KANIGORO
Pada
jaman Kerajaan Demak dahulu Sultan Demak dan
Wali
Songo menganggap kalau Syeh Siti Jenar adalah
orang
yang berbahaya, Syeh Siti Jenar bersama-sama
dengan
para pengikutnya harus ditangkap dan dihukum
mati.
Kyai Ageng Kebo Kanigoro adalah murid dari Kyai
Ageng
Pengging dan Kyai Ageng Pengging adalah murid
dari
Syeh Siti Jenar. Seperti yang telah diceritakan tadi
bahwa
mereka telah menjadi buruan keraton dan akan
ditangkap
dan dihukum mati sebab telah menganut ajaran
Syeh
Siti Jenar. Maka dari itu Kyai Ageng Kebo Kanigoro
beserta
para pengikutnya yang setia melarikan diri
kemanapuin
juga untuk mencari tempat bersembunyi. Dalam
pelariannya
suatu ketika Kyai Ageng Kebo Kanigoro telah
sampai
di sebelah utara lereng Gunung Merapi dan dalam
keadaan
terpojok oleh karena kejaran prajurit Kerajaan
Demak.
Didaerah tersebut Kyai Ageng Kebo Kanigoro
membangun
rumah guna tempat persembunyian dan
mengajarkan
ilmunya dan mengadakan tapa brata mohon
perlindungan
Tuhan Yang Maha Esa, yang mana selama ini
Kyai
Ageng Kebo Kanigoro selalu berpindah-pindah tempat.
Suatu
ketiaka Kyai Ageng Kebo Kanigoro berkata bahwa
bila
suatu saat tempat ini ramai dihuni oleh orang maka
tempat
ini diberikan nama Dusun Pojok (sampai saat ini
tempat
kediaman Kyai Ageng Kebo Kanigoro masih
dilestarikan
dan utuh, dikeramatkan dan nama daerah
tersebut
tetap Dusun Pojok sampa saat ini, menurut cerita
Kyai
Ageng Kebo Kanigoro muksa – menghilang dengan
raganya
– dalam upaya menghindar dari kejaran musuh).
Setiap
hari Jumat Legi diselenggarakan selamatan apem
dan
ketan ditempat tersebut (petilasan Kyai Ageng Kebo
Kanigoro)
dipimpin oleh juru kunci.
TOKOH
KYAI KASAN BURHAN DAN KYAI KASAN
MUNANDAR
Kyai
Kasan Burhan dan Kyai Kasan Munandar terkenal
sebagai
pembela rakyat banyak, mereka adalah kakak
beradik
sekandung dikenal sebagai tokoh mayarakat Simo
dan
Sekitarnya sebab mereka dengan gagah berani
menentang
penjajah Belanda yang ingin memperdaya
masyarakat
dengan mengusahakan perkebunan kopi, karet
dan
coklat. Mereka berdua tidak takut diancam dengan
hukuman
apapun dengan kesaktiannya yaitu tidak mempan
terhadap
senjata apapun, namun mereka tidak sombong
dengan
kesaktiannya tersebut semakin mereka disegani dan
ditakuti
oleh lawan maupun kawan.
Kyai
Kasan Burhan tinggal di Dukuh Kalurahan Petranwates,
Onder
Distrik (sekarang kalurahan) Tari-Tari (sekarang
merupakan
dusun di wilayah Kalurahan Sumber Kecamatan
Simo),
Distrik (sekarang Kecamatan) Sawahan, sedangkan
Kyai
Munandar bertempat tinggal di Dukuh Cilik Kalurahan
Blagung,
Onder Distrik Tari, Distrik Sawahan. Mereka
berdua
adalah petani yang rajin mengerjakan sawah dan
ladangnya
taqwa dan taat beribadah senantiasa bertindak
jujur
dan hal inilah yang tidak disukai oleh Belanda pada
waktu
itu.
Sebelum
tahun 1916 Kasunanan Surakarta menjual
tanahnya
yang terletak di daerah Gunung Kendeng bagian
selatan
kepada perusahaan Belanda selama 75 tahun dan
menurut
perjanjian perusahaan Belanda berhak pula
memerintah
kepada siapapun yang menghuni tanah
beliannya
tersebut. Rakyat sangat menderita akan hal
tersebut
betapa tidak, saat itu terdapat dua kekuasaan yaitu
Kerajaan
(Kasunanan) dan Pemerintah Belanda betapa
tidak
sebagai contoh rakyat Plandan diperintah oleh dua
penguasa
sekaligus yang berarti mereka harus bekerja
untuk
dua kepentingan sekaligus, yang kedua adalah rakyat
Krajan
yang diperintah oleh satu penguasa yaitu raja. Kedua
wilayah
tersebut sama sekali menderita rakyatnya oleh
karena
kedua penguasa yang tamak tersebut. Petani yang
bekerja
penuh pada perkebunan Belanda digaji dengan
tanah
untuk diolah, namun kenyataannya tanah gaji tersebut
juga
dimanfaatkan oleh pihak Belanda dan masih pula
perusahaan
belanda membuat aturan bahwa tanah tersebut
tidak
boleh ditanami selain tanaman yang diperbolehkan
pihak
perusahaan Belanda, padahal bagi para petani karena
kurangnya
waktu karena mengerjakan dua lahan sekaligus,
tanah
gaji tersebut digarap untuk tanaman pangan saja dan
dikerjakan
pada malam hari menggunakan obor.
Pada
saat ini kita masih dapat menyaksikan bekas-bekas
bangunan
perkebunan milik Belanda antara lain di
Karangjati
terdapat bekas penjagaan dan gudang untuk
menyimpan
hasil perkebunan, Jaha tempat untuk
membersihkan
bekas getah karet, di Loning terdapat tempat
untuk
menampung getah karet, kopi dan coklat, dan di
temon
dibangun gudang untuk menyimpan dan menampung
getah
karet kopi dan coklat, dari tempat-tempat tersebut
dikumpulkan
menjadi satu di Karangjati dan kemudian
dibawa
ke Surakarta dan akhirnya dikirim ke Negara
Belanda.
Kembali
kepada Kyai Munandar dan Kyai Burhan yang
memberanikan
diri untuk mempengaruhi rakyat Plandan
agar
mogok dan tidak mau bekerja lagi, pada awalnya pada
hari
hari tertentu saja yaitu Selasa dan Kamis dan kemudian
ditambah
hari Jumat. pihak Belanda yang kuwalahan
dengan
situasi tersebut berusaha mendekati Kyai Kasan
Burhan
dan Kyai Kasan Munandar dengan dalih mereka
akan
diberikan gaji dan pangkat yang tinggi apabila mau
bekerja
di perusahaan Belanda dan akan dibuatkan masjid,
namun
keduanya menolak tawaran Belanda tersebut dan
menyatakan
bahwa rejeki, pangkat dan kedudukan itu
datang
dari Tuhan semata.
Dan
perlawanan rakyat atas pimpinan Kyai Kasan Burhan
dan
Kyai Kasan Munandar terus menyala-nyala dan
mengakibatkan
perusahaan Belanda mengalami kerugian
besar
akibat tidak ada lagi rakyat yang mau bekerja lagi
diperkebunan
milik Belanda (karena kesal dengan ulah
kedua
kyai tersebut, sampai-sampai pimpinan perkebunan
menamai
kedua peliharaannya yang berupa anjing, burhan
dan
munandar). Pada suatu saat kedua Kyai dan para
rakyat
dikumpulkan oleh pihak Belanda di kantor
kaonderan
(sekarang
kantor kecamatan) untuk diberikan
peringatan
sekaligus diberitahukan bahwa jika mau bekerja
lagi
rakyat akan diberikan upah yang lebih layak, namun hal
tersebut
lagi-lagi ditanggapi dengan sebelah mata dan hal ini
menyulut
ketegangan pada kedua belah pihak dan terjadilah
pergolakan,
perintah penangkapan terhadap sumber
pertikaianpun
(yang tak lain adalah Kyai Kasan Burhan dan
Kyai
Kasan Munandar) dipropagandakan, rakyat membela
mereka
berdua dengan menyembunyikannya, namun
karena
tipu mulihat dan kelicikan Belanda kedua Kyai
berhasil
ditangkap dengan cara menyuap orang terdekatnya.
Setelah
ditangkap Kyai Kasan Burhan dan Kyai Kasan
Munandar
dibawa menuju Boyolali (kabupaten)
menggunakan
kendaraan bermotor dan terjadi keanehan,
setiap
menempuh satu dua kilometer ban kendaraan yang
ditumpangi
kedua kyai tersebut meletus dan terjadi berulang
kali
sampai di Cinot (sebelah selatan Kaliyoso) diketahui
bahwa
di dalam ikat kepala salah seorang kyai ditemukan
jimat
(benda
bertuah).
Pada
akhirnya setelah melalui proses peradilan Kyai Kasan
Burhan
dan Kyai Kasan Munandar dihukum terpisah, Kyai
Kasan
Burhan dihukum di Boyolali dan setelah meninggal
dimakamkan
di Dukuh Patran, Kelurahan Wates, Kecamatan
Simo
sedangkan Kyai Kasan Munandar dibuang ke
Sumatera
Selatan dan meninggal dan dimakamkan disana.
Peninggalan
Kyai Kasan Burhan berupa sebuah masjid
begitu
pula Kyai Kasan Munandar juga sebuah bangunan
masjid
yang berada di dukuh Cilak, Kelurahan Blagung,
Kecamatan
Simo.
UPACARA
SADRANAN
Banyak
orang berpendapat bahwa orang Jawa pada
khususnya
yang hidup di pedesaan atau yang tinggal di
daerah
lereng pegunungan tidak dapat menghilangkan adat
istiadat
atau tradisi yang telah dilakukan oleh para
leluhurnya,
salah satu dari tradisi tersebut adalah Upacara
Tradisional
Sadranan yang pada intinya mendoakan arwah
para
leluhur yang telah meninggal dunia supaya arwahnya
diterima
disisi Tuhan Yang Maha Esa. Adapun
pelaksanaannya
ada yang di pekuburan dan ada pula yang
dirumah
sesepuh kampung dengan membawa hidangan
atau
makanan beraneka ragam.
Yang
paling utama dari Upacara Tradisional Sadranan
adalah
pembacaan doa Yaasin dan Tahlil Zikir bersamasama.
Maka
setiap bulan Ruwah tanggal 15 sampai dengan
menjelang
bulan puasa, secara bergantian dari kampung ke
kampung
mengadakan Upacara Tradisional Sadranan
tersebut.
Dan yang mengherankan dari tradisi ini adalah
semua
masyarakat datang berbondong-bondong untuk
bersilaturahmi
dan menjalin persaudaraan dengan saling
mengunjungi
rumah per rumah dengan menyantap hidangan
yang
disajikan. Maksud dan tujuan lainnya yaitu ikut ngalap
berkah
kepada para leluhur yang telah meninggal dunia.
Kuatnya
nilai-nilai tradisi pada masyarakat yang masih
menjalankannya
tersebut didasari keyakinan bahwa setelah
Upacara
Tradisional Sadranan tersebut dilaksanakan maka
dalam
bekerja untuk mencari nafkah akan diberikan
kelancaran
dan kemudahan.
UPACARA
SADRANAN CEPOGO
Banyak
orang berpendapat bahwa orang Jawa pada
khususnya
yang hidup di pedesaan atau yang tinggal di
daerah
lereng pegunungan tidak dapat menghilangkan adat
istiadat
atau tradisi yang telah dilakukan oleh para
leluhurnya,
salah satu dari tradisi tersebut adalah Upacara
Tradisional
Sadranan yang pada intinya mendoakan arwah
para
leluhur yang telah meninggal dunia supaya arwahnya
diterima
disisi Tuhan Yang Maha Esa. Adapun
pelaksanaannya
ada yang di pekuburan dan ada pula yang
dirumah
sesepuh kampung dengan membawa hidangan
atau
makanan beraneka ragam.
Yang
paling utama dari Upacara Tradisional Sadranan
adalah
pembacaan doa Yaasin dan Tahlil Zikir bersamasama.
Maka
setiap bulan Ruwah tanggal 15 sampai dengan
menjelang
bulan puasa, secara bergantian dari kampung ke
kampung
mengadakan Upacara Tradisional Sadranan
tersebut.
Dan yang mengherankan dari tradisi ini adalah
semua
masyarakat datang berbondong-bondong untuk
bersilaturahmi
dan menjalin persaudaraan dengan saling
mengunjungi
rumah per rumah dengan menyantap hidangan
yang
disajikan. Maksud dan tujuan lainnya yaitu ikut ngalap
berkah
kepada para leluhur yang telah meninggal dunia.
Kuatnya
nilai-nilai tradisi pada masyarakat yang masih
menjalankannya
tersebut didasari keyakinan bahwa setelah
Upacara
Tradisional Sadranan tersebut dilaksanakan maka
dalam
bekerja untuk mencari nafkah akan diberikan
kelancaran
dan kemudahan.
Komentar
Posting Komentar